By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Aktivis: ada tujuh kelompok yang suka “nyinyir” pada Pemerintah di Medsos
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kontrahoax > Aktivis: ada tujuh kelompok yang suka “nyinyir” pada Pemerintah di Medsos
Kontrahoax

Aktivis: ada tujuh kelompok yang suka “nyinyir” pada Pemerintah di Medsos

01/09/2021
Firman Syah Ali (*/dokpri)
SHARE

Surabaya (Radar96.com) – Aktivis dari PP Asosiasi Dosen Pergerakan IKA PMII dan Bendahara Umum PW IKA PMII Jatim, Firman Syah Ali, menegaskan bahwa saat ini ada tujuh kelompok yang suka “nyinyir” kepada pemerintah di medsos dan semuanya ada indikasi bisa ditunggangi kelompok lain, kecuali satu kelompok saja.

“Sekilas, saya melihat orang-orang yang selalu nyinyir kepada pemerintah, dimana semua yang dilakukan pemerintah serba disalahkan, bahkan dihina, itu ada beberapa level,” kata Pengurus Harian LP Ma’arif NU Jatim itu di Surabaya, Rabu.

Pertama, Pendengung (Buzzer) Amatiran, yaitu : Orang-orang awam yang menjadi korban para pendengung profesional, mereka ikut berdengung di media sosial menyebarkan konten-konten yang disemburkan oleh para pendengung profesional.

Kedua, Pendengung (Buzzer) Profesional, yaitu : Orang yang memang berprofesi sebagai pendengung bayaran, dia mengajukan proposal kepada pejabat/tokoh yang anti pemerintah atau anti NKRI kemudian berdengung di media sosial dengan bayaran tertentu dari personal/organisasi yang tidak suka kepada Pemerintah/anti NKRI.

Ketiga, Kritikus, yaitu : Orang yang memang suka melakukan kritik sosial politik tidak peduli siapapapun Presidennya. Tidak ada urusan dengan pro kontra Jokowi.

Keempat, Residu Pilpres, yaitu : Barisan sakit hati karena dua kali kalah Pilpres, walaupun capres dan cawapres yang didukungnya sudah masuk kabinet pemerintahan. Sakit gigi mudah disembuhkan, sakit hati sulit hilangnya.

Kelima, Residu kekuasaan masa lalu, yaitu : Orang-orang yang pernah berkuasa di masa lalu atau keluarga dari penguasa masa lalu yang sangat sensitif dengan keberhasilan pemerintah saat ini. Kelompok ini tidak anti NKRI, mereka masih dalam koridor NKRI namun berpotensi berdemagogi dengan kelompok anti NKRI.

Keenam, Kelompok Islamis Simbolik, yaitu : Orang-orang yang tetap cinta NKRI namun menginginkan penerapan syariat Islam di seluruh Indonesia. Mereka tidak peduli siapapun Presidennnya kalau tidak menerapkan syariat islam di NKRI, maka selalu dinyinyiri.

Ketujuh, Kelompok Radikalis anti NKRI, yaitu : Mereka adalah radikalis fundamentalis ekstrimis transnasional yang DNA-nya sudah terbentuk jauh sebelum NKRI sendiri terbentuk. Mereka mempunyai jaringan transnasional yang sel-selnya sangat aktif dan agresif. Mereka terbagi dua, ada yang hanya ingin mendirikan Negara Islam Indonesia dan ada yang ingin menggabungkan Indonesia ke dalam Negara Khilafah Sedunia ala Hizbut Tahrir, ISIS dan sejenisnya.

“Kelompok nomer 1 hingga 6 tanpa sadar dapat menjadi tunggangan kepentingan kelompok nomer 7,” kata pegawai Bakorwil Madura yang tinggal di Bendul Merisi Permai, Surabaya itu. (*/pna)

Iklan.

You Might Also Like

Hoaks, PP Madinatul Ulum terkait Video Difteri dihubungkan Vaksinasi COVID-19
Menkopolhukam minta media blokir Berita Hoaks agar Pemilu berkualitas
Kemenag: Tidak Ada Larangan Gunakan Pengeras Suara di Masjid
Yenny Wahid: Mendikbud siap libatkan NU dalam penyempurnaan buku Kamus Sejarah Indonesia
KKD Jombang siap tangkal Hoaks dan perkuat Literasi Digital
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Alhamdulillah, Jatim bebas Zona Merah Covid-19
Next Article Mahfud MD: Pemerintah antisipasi potensi terorisme Pasca-Taliban

Advertisement



Berita Terbaru

Kader Muda NU Didapuk Sebagai Ketua DPW Perindo Jatim
Sospol
Gubernur Khofifah Bagikan Apem saat Megengan “Healing Ramadhan” di Masjid Al-Akbar
Sospol
“Tebuireng Institute” Serukan NU Kembali ke Qanun Asasi
Nahdliyyin
Tumbuh Pesat di Tahun Ketiga, Aset Dikelola BMTNU Sidoarjo Capai Rp 15 Miliar
Nahdliyyin

You Might also Like

Pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan (*/kontraradikal.com)
Kontrahoax

Anggota MUI Pusat Ditangkap Densus

16/11/2021
Kontrahoax

Gus Yahya: Transformasi Digital kurangi relevansi Ideologi

29/08/2023
Kontrahoax

Gus Baha: Logika Berpikir Benar Cegah Ekstremisme Dini

08/02/2022
Kontrahoax

Ismail Yusanto (Jubir HTI) dan Ahmad Ishomuddin dalam sidang gugatan eks-HTI di PTUN Jakarta

19/03/2021
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?