By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: RMI NU Jatim: jangan sampai pelecehan guru rumah tahfidz di Bandung jadi stigma negatif bagi pesantren
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Nahdliyyin > RMI NU Jatim: jangan sampai pelecehan guru rumah tahfidz di Bandung jadi stigma negatif bagi pesantren
Nahdliyyin

RMI NU Jatim: jangan sampai pelecehan guru rumah tahfidz di Bandung jadi stigma negatif bagi pesantren

13/12/2021
Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) atau Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia di bawah naungan Nahdlatul Ulama Jawa Timur, KH Abdussalam Shohib (tengah), dalam konperensi pers di Gedung PWNU Jawa Timur, Minggu (12/12/2021). (*/pna)
SHARE

Surabaya (Radar96.com) – Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) atau Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia di bawah naungan Nahdlatul Ulama Jawa Timur, KH Abdussalam Shohib, mengingatkan perlu tindakan tepat untuk menyelesaikan masalah pelecehan seksual yang terjadi di Bandung oleh seseorang guru (ustadz) dari sebuah rumah tahfidz, agar jangan sampai menjadi stigma negatif bagi pesantren pada umumnya.

“Cara yang harus dikedepankan adalah melakukan pendampingan terhadap korban, baik secara hukum, moral, sosial, serta memastikan masa depannya. Kita tidak perlu saling menyalahkan dan menuduh satu sama lain, karena itu tidak menyelesaikan masalah. Sekarang terpenting adalah masalah depan korban yang harus mendapat perhatian utama,” tutur Gus Salam, di Gedung PWNU Jawa Timur, Minggu (12/12/2021).

Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang itu mengungkapkan masalah pelecehan seksual yang terjadi di Bandung oleh seseorang guru (ustadz) dari sebuah rumah tahfidz, jangan sampai menjadi stigma negatif bagi pesantren pada umumnya, sebab Rumah Tahfidz tidaklah sama dengan pondok pesantren yang selama ini identik dengan NU. Karena itu, Rumah Tahfidz tidak punya kaitan dengan RMI atau bukan pondok pesantren yang berkarakter Ahlussunnah Waljamaah

Untuk itu, RMI Jawa Timur segera mengambil langkah strategis melakukan koordinasi intensif dengan pihak internal di lingkungan NU, seperti Lembaga Bantuan Hukum (LBH) NU, Lembaga Kesejahteraan Keluarga (LKK) NU. Selain itu, juga dengan pihak eksternal seperti LBH, KPAI, Kementerian Agama dan aparat lain yang berwenang.

“Mari kita semua terbuka agar kejadian serupa tidak terulang bagi korban. Baik bagi korban langsung atau pun keluarga korban, mohon untuk tidak takut melaporkan. Kami pastikan, kami akan memberi pendampingan,” tutur Gus Salam.

Menurut dia, kejadian tersebut, bagi NU khususnya RMI, adalah momentum untuk introspeksi dan mencari solusi atas permasalahan yang ada. “Salah satunya kami akan menerbitkan Sertifikat Pesantren Sehat dan Aman,” tutur Gus Salam.

Terkait pandemi Covid-19, Gus Salam menambahkan bahwa pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang bisa menjawab tantangan zaman. Dengan tetap menaati protokol kesehatan, ponpes menjadi alternatif lembaga pendidikan yang mengedepankan akhlak dan adab di masyarakat.

“Alhamdulillah, di tengah situasi sulit seperti pandemi ini, pondok pesantren terus, bahkan semakin mendapatkan kepercayaan yang tinggi dari masyarakat dalam mendidik generasi bangsa. Konsekuensi logisnya tentu banyak tantangan yang harus direspons dengan baik dan terukur,” tutur Gus Salam.

Ia mencontohkan, salah satu tantangan itu adalah munculnya lembaga-lembaga pendidikan yang menamakan diri pesantren untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat. Tapi di dalam terjadi praktik-praktik yang bertolak belakang dengan tujuan utama didirikannya pondok pesantren.

Sementara itu, KH Romadhon Khotib dari LBM NU Jawa Timur yang juga Wakil Katib Syuriah PWNU Jawa Timur mengatakan, para pelaku tindak pelecehan seksual sepantasnya mendapat hukuman terberat. Bila perlu dihukum seumur hidup atau hukuman mati.

“Dalam Bahtsul Masail yang kami adakan, para ulama dengan merujuk pada kesepakatan Empat Mazhab (Imam Syafi’i, Imam Ahmad ibn Hanbali, Imam Malik dan Imam Hanafi). Khususnya, pendapat ulama Syafi’iyah sepakat memberi hukum seberat-beratnya, seperti hukuman mati. Sedang kalau hukuman kebiri, para ulama tidak merekomendasi,” tuturnya. (*/pna)

Iklan.

You Might Also Like

Sekjen Kemendiktisaintek: PTNU harus Atasi “Mismatch” Pendidikan

KHM Chizni Umar Burhan “Penjaga Rumah Arsip NU” Wafat

PWNU Jatim gagas “Gerakan NUConomic” berbasis tiga pilar pemberdayaan ekonomi warga NU ala “Nahdlatut Tujjar”

Jelang Muktamar, PWNU Jatim Usulkan “Aswaja Center” jadi Lembaga/Badan Khusus NU

PCNU Surabaya Ajak Pemerintah Eksekutif dan Legislatif Bersinergi Atasi Permasalahan Ummat

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Gubernur Khofifah ajak tanam mangrove, tebar benih ikan, dan bersih-bersih pantai
Next Article Pemprov Jatim Kembangkan “Jatim Bejo” (Belanja Online) lewat Virtual Account

Advertisement



Berita Terbaru

Sekjen Kemendiktisaintek: PTNU harus Atasi “Mismatch” Pendidikan
Nahdliyyin
120 Pelaku UMKM di Jatim Ikuti Pelatihan “Platform Marketplace” ISNU Jatim
Ekraf
Fenomena “Ghosting Berkedok Lupa: Seni Menghilang Tanpa Rasa Bersalah” dalam Perspektif Relasi Sosial dan Etika Keislaman
Kolom
KPK rekomendasikan 7 solusi cegah 8 potensi korupsi program MBG
Sospol

You Might also Like

Nahdliyyin

Rais Aam PBNU: Muktamar ke-35 NU pada tanggal 1-5 Agustus

12/04/2026
Nahdliyyin

Muskerwil di Tuban, PWNU Jatim Ingatkan Pentingnya Tradisi Silaturahmi dan Qanun Asasi

11/04/2026
Nahdliyyin

Jelang Muktamar NU, PWNU Jatim Siapkan Muskerwil di Pesantren Sunan Bejagung, Tuban

08/04/2026
Nahdliyyin

Halalbihalal, KMNU Unair: Silaturahmi jadi Jalan Kebersamaan di Tengah Gejolak Dunia

05/04/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?