Jakarta (Radar96.com/NUO) – Duta Besar Suriah untuk Indonesia Abdul Munim Annan mengaku bahwa Islam yang sebenarnya ada di Indonesia. Hal itu ia sampaikan kepada istrinya melalui telepon.
“Wallahi Islam sebenarnya itu di Indonesia,” kata dia kepada istrinya yang diceritakan langsung kepada KH Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), saat berkunjung ke PBNU di Jakarta, Senin (14/3/2022).
Ia juga mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada NU dan Indonesia atas dukungan penuhnya terhadap stabilitas wilayah Arab.
Munim juga mendukung terhadap promosi wacana Islam Nusantara yang dicetuskan NU. Wacana ini seirama dengan Islam yang diusung Suriah. Ia sepakat bahwa Islam bukan hanya untuk Arab.
Ia menyebut Imam Bukhari dan Imam Muslim yang datang dari Samarkandi. Ia juga menyebut kehadiran Wali Songo di Indonesia menunjukkan hal tersebut.
Dalam kesempatan itu, ia juga menceritakan kondisi terkini di Suriah. Ia memastikan ibu kota Damaskus aman, walaupun beberapa daerah masih belum sepenuhnya aman.
Sementara itu, Gus Yahya menyampaikan bahwa Suriah merupakan tanah yang diberkahi. Sebab, Rasulullah saw mendoakannya secara langsung. Suriah juga menjadi salah satu kiblat keberislaman ulama Indonesia. Sanad keilmuannya bersambung ke ulama-ulama di sana.
“Ulama NU telah nyaman dengan legasi intelektual. Pelajar Indonesia juga belajar di sana. Ulama Suriah memiliki posisi sangat penting bagi dunia intelektual Islam Indonesia,” ujar Gus Yahya.
Gus Yahya juga mengatakan bahwa NU dan Suriah harus tetap menjaga harmoni dan moderasi beragama. “Kita butuh mempromosikan pemahaman agama kita. Kita juga perlu meletakkannya sebagai pandangan internasional,” kata dia.
Rusia dan Penyelesaian Damai
Sebelum itu (8/3), Duta Besar Rusia untuk Indonesia Ludmila Vorobieva berkunjung ke Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta Pusat, yang disambut langsung Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).
Pada kesempatan itu, Gus Yahya bersama Dubes Ludmila bersepakat bahwa perang antara Rusia dan Ukraina harus sesegera mungkin dihentikan dengan cara yang damai dan tanpa kekerasan.
“Kami berdua sepakat bahwa penyelesaian damai harus diperjuangkan dan kekerasan harus dihentikan sesegera mungkin,” tegas Gus Yahya.
Meski begitu, lanjut Gus Yahya, upaya ini tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru, tetap harus menggunakan pertimbangan yang matang dan pengamatan yang jeli karena persoalan perang Rusia dan Ukraina merupakan masalah yang cukup kompleks.
“Tapi jelas bahwa ada masalah-masalah kompleks yang harus diurus di sana,” kata Gus Yahya yang juga mengatakan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) akan selalu siap dalam membantu mencari solusi terhadap konflik-konflik yang ada demi terwujudnya perdamaian dunia.
“NU siap melakukan apa saja yang bisa dilakukan yang mungkin bisa membantu ke arah perdamaian dan penyelesaian masalah. Sudah menjadi tugas NU untuk mewujudkan perdamaian dunia dan ketertiban internasional. Prinsip ini, sama seperti yang dimiliki Rusia,” ucap Gus Yahya.
Sementara, Dubes Ludmila menyampaikan banyak terima kasih terhadap PBNU atas respons dan sikap yang telah diberikan. Dia juga menyampaikan apresiasi kepada Nahdlatul Ulama (NU) yang selama ini telah banyak berkontribusi untuk mewujudkan perdamaian dunia.
“Kami mengapresiasi kepada Nahdlatul Ulama yang selama ini telah banyak berkontribusi untuk mewujudkan perdamaian dunia,” ucap Ludmila.
Selain itu, Dubes Ludmila juga menyampaikan terima kasih kepada Gus Yahya karena sudah meluangkan waktu untuk berdiskusi banyak hal, baik terkait isu-isu global, komunitas muslim di Rusia, dan lain sebagainya.
“Kami sangat berterimakasih kepada Ketua Umum PBNU yang telah meluangkan waktu untuk berdiskusi banyak hal, terkait isu-isu keamanan global, muslim di Rusia, dan sebagainya,” kata Ludmila. (*/NUO)
Sumber:
*) https://www.nu.or.id/nasional/berkunjung-ke-pbnu-dubes-suriah-wallahi-islam-sebenarnya-ada-di-indonesia-Bvdfg
*) https://www.nu.or.id/nasional/terima-kunjungan-dubes-rusia-ketum-pbnu-penyelesaian-damai-harus-diperjuangkan-2jOsH


