Mardani H. Maming adalah mantan Bupati Tanah Bumbu (2010-2015) yang juga Ketua DPD Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kalimantan Selatan (2019-2024) serta Ketua Umum HIPMI (2019–2022), yang masuk dalam kepengurusan baru PBNU periode 2022-2027 sebagai Bendahara Umum PBNU sejak 12 Januari 2022.
Mardani merupakan pengusaha muda dari Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Saat ini, dia menjabat sebagai salah satu pimpinan perusahaan PT Batulicin 69 dan PT Maming 69, dua perusahaan holding yang membawahi 35 anak perusahaan.
Fokus bidang perusahaannya mulai dari pertambangan mineral, terminal dan pelabuhan khusus batubara. Termasuk pengelolaan jalan hauling, underpass, transportasi pertambangan, penyewaan alat berat, penyediaan armada kapal, properti, hingga perkebunan.
Politikus PDIP itu tercatat sebagai lulusan S1 Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Tanah Bumbu (2009-2010). Kini, kader PDIP itu diakomodasi PBNU.
Ya, posisi di PBNU-nya baru dijalani selama enam bulanan tapi posisi terbaru itu sudah membuat banyak pihak dan media massa mengaitkan pemeriksaan KPK dalam kasus IUP saat menjabat sebagai Bupati Tanah Bumbu periode pertama itu dengan jabatan saat ini sebagai Bendahara Umum PBNU.
Itulah “framing” (pembingkaian) media di era digital dengan judul-judul seperti Bendahara PBNU Mardani Maming Dikabarkan Jadi Tersangka, Bendahara PBNU Mardani Maning Dicekal ke Luar Negeri, Bendum PBNU Mardani H Maming Jadi Tersangka, dan sebagainya.
Padahal, Mardani itu kader dan politisi PDIP yang kasusnya terkait posisi saat menjabat sebagai Bupati Tanah Bumbu (2010-2015) dan belum menjadi Bendahara Umum PBNU yang baru diemban pada Januari 2022, jadi pemeriksaan KPK terhadap dirinya itu tidak ada hubungan sama sekali dengan PBNU.
Bahkan, hal itu juga diakui Mardani saat diperiksa KPK pada 2 Juni 2022. “Saya hadir di sini (KPK) sebagai pemberi informasi penyelidikan. Intinya, ini permasalahan saya dengan Haji Syamsuddin atau Haji Isam pemilik Jhonlin Group,” kata Mardani (2/6/2022).
Nama Mardani Maming sempat disebut dalam perkara dugaan korupsi peralihan izin usaha pertambangan (IUP) di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, yang menjerat mantan Kepala Dinas ESDM Kabupaten Tanah Bumbu Raden Dwidjono Putrohadi Sutopo.
Dwidjono kini berstatus sebagai terdakwa dan perkara tersebut masih disidangkan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Banjarmasin. Namun, Mardani membantah dirinya terlibat dalam perkara tersebut saat dia menjabat sebagai Bupati Tanah Bumbu.
Selain itu, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf juga mengaku tidak tahu kasus secara detail tentang kasus yang dijalani Mardani. “Kami sudah mendengar kabar itu. Akan tetapi, kami ‘kan pelajari dulu nanti, ya, karena kami ‘kan belum mengetahui secara detail bagaimana sebetulnya duduk perkaranya,” kata Gus Yahya kepada wartawan di Jakarta (20/6/2022).
Sementara itu, PDI Perjuangan (PDIP) melalui tim hukum siap melakukan kajian menyusul informasi pencekalan ke luar negeri terhadap kader mereka, Mardani H. Maming, sejak 16 juni 2022 sampai 16 Desember 2022.
“Ya saya baru dapat informasi dari media sehingga tim hukum dari PDI Perjuangan baru melakukan pencermatan, kajian terhadap hal tersebut,” ujar Hasto di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin (20/6/2022).
Hasto menegaskan pernyataan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri saat rakor dengan para kepala daerah. “Ibu ketum mengingatkan tiap kader partai itu pada tanggung jawabnya untuk tidak melakukan berbagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan. Sehingga saya tak bisa berkomentar lebih lanjut karena memang masih perlu mempelajari oleh tim hukum kami,” katanya.
Dari sini cukup jelas posisi kasusnya yang tidak ada kaitan sama sekali dengan PBNU.
“Pokoknya, siapapun, ajak masuk ke NU. Jangan ada santri, alumni mana saja, punya gaya: (jika pengurus) NU keliru, mengritik di luar. Kamu harus masuk, khidmah,” kata Wakil Katib Syuriyah PWNU Jawa Timur, KH Muhammad Abdurrrahman Al Kautsar (Gus Kautsar) dalam Lailatul Ijtima dan Halal Bihalal Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Tembalang, Kota Semarang (25/5/2022).
Pengasuh Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, itu mengajak untuk menjaga kekompakan dan persatuan. NU didirikan oleh Mbah Hasyim dan para masyayikh yang lain, lanjutnya, asasnya adalah persatuan (al-ittihad), kekompakan, dan se-iya-sekata
“Tapi praktiknya apa, orang NU? Satu-satunya jam’iyah yang paling sulit dikompakkan. Iya, tidak? Mengaku saja,” ungkap Gus Kautsar, sambil menyomot dalil yang sering disampaikan dalam khutbah jumat: Wa’tashimu bihablillah jamii’an walaa tafarraquu (QS. Ali Imron:103).
Ia mengkritik gaya sebagian orang NU yang senangnya punya ‘ijtihad’ sendiri-sendiri. “Jangan sampai ada Nahdliyin kemudian suka berpecah-belah. Tidak memiliki jiwa kekompakan. Tidak membangun kekompakan. Karena perpisahan, perpecahan, hanya melemahkan kita semua, dan membuat kita ini menjadi tidak berharga di mata siapa pun,” tuturnya.
Putra KH Nurul Huda Djazuli itu meminta kapada santri dan alumnus pesantren agar jangan pura-pura tak tahu. “(NU) ini rumahmu, kok dikritik sendiri. Itu maksudmu bagaimana? Kamu harus masuk. Kalau memang kamu mau ngomong, masuk. Kamu harus ikut khidmah,” kata Gus Kautsar.
“Kemudian kalau kamu punya pandangan yang lebih baik untuk menata NU ke depan, bangun dari dalam. Jangan kamu gerogoti dari luar, seakan-akan kamu orang lain,” imbuh menantu KH Abdul Hamid Baidlowi itu.
Ia terinspirasi pidato sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, ketika diangkat menjadi pemimpin umat Islam pasca-wafatnya Rasulullah saw. “Kami ini hanya generasi penerus, kami ini bukan yang bikin jam’iyah ini. Kalau memang yang kita lakukan dalam pengabdian kita ternyata benar, tolong di-support, tolong didoakan, tolong didukung. Tapi kalau kami salah, tolong ingatkan dengan baik, jangan malah menjelek-jelekkan (dengan) update status,” pintanya.
Sebelumnya, sahabat karib Gus Baha ini juga membagikan dua resep dalam membangun NU yaitu dengan dua hal. “(NU) yang penting harus Anda bangun dengan dua hal: satu rasa cinta, yang kedua adalah keilmuan,” kata Gus Kautsar, berpesan. (*/Redaktur Radar96.com/NUO)


