By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Gus Yahya: Transformasi Digital kurangi relevansi Ideologi
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kontrahoax > Gus Yahya: Transformasi Digital kurangi relevansi Ideologi
Kontrahoax

Gus Yahya: Transformasi Digital kurangi relevansi Ideologi

29/08/2023
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf. (Foto: NU Online)
SHARE

Yogyakarta, Radar96.com/NUO – Realitas dunia digital saat ini yang mengarah kepada dominasi dari perihidup masyarakat, ada tiga hal yang relevan dengan operasionalisasi demokrasi di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni partisipasi masyarakat, lingkaran jaringan sosial, dan relevansi ideologi.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) saat mengisi Seminar Nasional dalam rangkaian Kongres ke IX Ikatan Sosiologi Indonesia di Hotel UGM Yogyakarta, Sabtu (26/8/2023).

Pertama, terkait dengan partisipasi. Menurut Gus Yahya, platform digital membuka partisipasi dengan tanpa batas. Semua orang berpartisipasi. Pengaruh dari partisipasi yang sangat terbuka itu tidak bisa diblokir, tidak terhindarkan terhadap dinamika politik, sehingga belum diketahui arahnya ke mana.

Misalnya, adanya fenomena aktor-aktor politik mengerahkan buzzer untuk bermacam-macam manuver dan agenda-agenda. Menurutnya, tidak hanya orang-orang yang dianggap kompeten tentang satu topik, tapi siapa saja bisa ikut berpartisipasi di dalam topik apa pun.
“Politisi yang jadi pemegang wewenang pemerintahan dengan orang-orang di jalanan enggak ada bedanya, partisipasinya. Dan, ini nanti akan sangat mengubah dinamika politik itu sendiri,” ujar kiai yang juga meminati kajian sosiologi itu.

Kedua, lingkaran jaringan sosial. Dalam hal ini, Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibien, Leteh, Rembang, itu melihat jika kemarin-kemarin dalam urusan politik, primadonanya adalah statistik, untuk bisa melihat secara lebih dalam terhadap dinamika yang terjadi, kini sudah mulai makin populer dengan apa yang disebut sebagai social network analysis (SNA).

“Bagaimana satu lingkaran jaringan-jaringan sosial ini bisa berpengaruh terhadap pilihan-pilihan, termasuk pilihan-pilihan politik,” jelasnya.

Ketiga, kemustahilan ideologi. Menurut Gus Yahya, ideologi menjadi semakin mustahil di tengah-tengah konteks realitas digital ini. Dunia menjadi tanpa batas sehingga masyarakat global mengarah kepada perwujudan satu peradaban global tunggal yang saling bercampur aduk dari semua elemen yang ada, sehingga ukurannya besar sekali.

“Nature dari ideologi itu selalu membawa asumsi untuk membentuk dunia ini seperti yang dirumuskan oleh ideologi itu sendiri. Jadi ideologi itu punya eskatologi, dan eskatologi itu pengandaian tentang dunia yang hendak diciptakan melalui ideologi itu sendiri,” ungkapnya.

Alumnus Pesantren Krapyak, Yogyakarta itu mencontohkan, bahwa Karl Marx ingin mewujudkan masyarakat proletar. Begitu juga ideologi Islam ingin mewujudkan khilafah universal, dan lain sebagainya.

“Di tengah-tengah masyarakat global yang begini luas, sudah tidak mungkin lagi orang berambisi membentuk dunia sesuai dengan keinginannya, karena begitu banyak elemen yang saling bercampur. Karena itu, akan semakin kurang relevan bicara tentang Pancasila sebagai ideologi negara, karena sudah terlalu banyak variabel yang ikut berperan,” katanya.

Maka, yang paling tepat, yang lebih tepat, Pancasila ini kita jadikan sebagai landasan moral, yang memotivasi dalam gerakan mengupayakan kemaslahatan-kemaslahatan bagi masyarakat, termasuk dalam politik.

“Dunia maya hari ini adalah juga dunia yang sedang dilanda perang. Secara fisik mungkin semua orang kelihatan baik-baik saja. Ada hiruk pikuk dunia maya, terutama media sosial yang penuh dengan pertengkaran, ujaran kebencian (hate speech), dan konten-konten palsu (hoax),” ujar Gus Yahya menerangkan dalam akun Facebook-nya (8/12).

Tapi, lanjut putra KH Cholil Bisri itu, korban-korban kejiwaan (mental casualties) berjatuhan tak terhitung jumlahnya. Mereka yang kurang pintar sejak lahir dan belum pernah punya pengalaman menjadi pintar, jelas merupakan kelompok yang paling rentan. Tapi bencana di kalangan berpendidikan tak kalah dahsyatnya. Kehilangan segala manfaat pendidikan, bahkan kehilangan kewarasan secara drastis.

“Apa boleh buat, ini perang. Makin maraknya pertengkaran, ujaran kebencian, dan berita palsu disoroti Davis Kushner (Penulis Jacked: The Outlaw of Grand Theft Auto serta Kontributor untuk Rolling Stone dan The New York Time) bahwa berita palsu (hoax) hanyalah gejala. Penyakit sesungguhnya adalah berkurangnya keinginan mencari bukti, mempertanyakan sesuatu, dan berpikir kritis,” katanya, mengutip Kushner (Jawa Pos/4/12/2016). (*/NUO)

Sumber: https://www.nu.or.id/nasional/gus-yahya-ungkap-3-hal-penting-dalam-transformasi-digital-FMIuZ

Iklan.

You Might Also Like

Kritis dalam Bermedia hindari “jebakan” Hoaks
Dakwah di Era Digital di mata Al-Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman Al-Jufri
Hoaks, Video Wapres Ma’ruf Amin (Islam Nusantara) Shalat Jenazah Pakai Rukuk dan Sujud
Hijrah Dari Musik?
Mendikbud-Menag: Madrasah Tak Hilang dari RUU Sisdiknas
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Lagi, CHATour berangkatkan jamaah umroh PT Arofahmina yang tertunda
Next Article Gubernur Khofifah Kuatkan Jejaring Alumni Unair Dan Academic Achievements di London

Advertisement

Iklan.

Iklan.

Berita Terbaru

LAZISNU PCNU Sidoarjo Dukung Dana Pembangunan Rumah Anggota Banser
Nahdliyyin
Menteri ATR/BPN Serahkan 2.532 sertipikat tanah wakaf rumah ibadah di Masjid Al-Akbar
Sospol
LPT UNAIR Targetkan Inovasi Berimpak Nasional-Global
Sospol
Ketua PWNU Jatim: Modal Utama NU adalah Silaturrahmi dan Tradisi
Nahdliyyin

You Might also Like

Kontrahoax

Ismail Yusanto (Jubir HTI) dan Ahmad Ishomuddin dalam sidang gugatan eks-HTI di PTUN Jakarta

19/03/2021
Kontrahoax

Take Down Wahabi dari Muka Bumi

01/04/2021
Kontrahoax

Jihad bukan terorisme

02/04/2021
Kontrahoax

Hoaks, poster/poling Konvensi Capres NU 2024

05/06/2021
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?