Surabaya, radar96.com – Ketua Lembaga Kajian Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur Prof DR HM Turhan Yani MA menegaskan bahwa tantangan Abad Kedua NU adalah literasi digital agar digitalisasi tidak membuat kecanduan tapi menjadi peluang.
“Mayoritas warga Indonesia berdasarkan survei adalah NU, karena itu NU harus hadir untuk mendampingi jamaahnya pada Abad Kedua NU (2026-2126) yang tantangannya berbeda dari Abad Pertama (1926-2026),” katanya dalam Ngaji ‘Kentong Ramadhan 1447 H’ PWNU Jatim di Surabaya, Kamis (26/2) malam.
Saat tampil memberi pengantar ‘Ngaji Kentong Ramadhan 1447 H’ bertema “Tantangan Kekinian, Apa Kabar Warga NU?” dengan narasumber Wakil Sekretaris Lakpesdam PWNU Jatim Khoirul Huda SIP MM itu, Prof Turhan Yani menjelaskan warga mayoritas itu pun tidak hanya hidup di kota besar, tapi di desa dan pesisir.

“Ada yang buruh tani, nelayan, dan pedagang kecil. Kalau yang di kota besar mungkin mudah mencari peluang, tapi warga desa itu yang perlu pendampingan untuk melakukan kreasi dalam pertanian, perikanan, dan perkebunan. Kalau ditanya apa kabar warga NU, mungkin warga kota menjawab baik-baik saja, tapi warga desa menjawab belum baik-baik saja,” katanya.
Namun, ia menilai perkembangan warga NU dalam pendidikan sudah relatif membaik karena adanya beasiswa studi di perguruan tinggi yang merupakan kolaborasi PWNU Jatim dengan berbagai universitas, bahkan badan otonom IPNU-IPPNU yang berbasis pelajar/mahasiswa juga sudah memiliki komisariat perguruan tinggi/PT (PKPT).
“Perkembangan yang mungkin masih perlu pendampingan NU adalah perkembangan digitalisasi yang mayoritas masih bersifat candu daripada bermanfaat, karena itu NU perlu melakukan pelatihan atau literasi digital,” kata pakar pendidikan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.
Hal itu juga dibenarkan Wakil Sekretaris Lakpesdam PWNU Jatim Khoirul Huda SIP MM sebagai narasumber ‘Ngaji Kentong Ramadhan 1447 H’ itu. “Kalau Abad Pertama NU sudah sukses memberi kontribusi dalam kemerdekaan dan melawan ideologi komunis, maka Abad Kedua NU itu bagaimana memberi kontribusi melawan virus menakutkan yakni handphone/digital,” katanya.
Alumni Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang yang kini menjadi Ketua Yayasan Pesantren Teknologi Ibnu Shina Lamongan itu menjelaskan para muassis/pendiri sudah sukses memberi kontribusi kepada negara dan masyarakat melalui resolusi jihad yang mendorong kemerdekaan Indonesia (1945).
“Juga, menjaga benteng persatuan dan kebersamaan bangsa dan negara untuk melindungi masyarakat dari ideologi komunis yang merongrong negara pada tahun 1965, bahkan Banser sangat berperan di depan. Itu era Orde Lama, sedang saat Orde Baru pun menghadirkan tokoh-tokoh moderat seperti Gus Dur (1993-1998). Nah, kalau Abad Pertama NU dibangun dengan riyadhoh, maka Abad Kedua NU perlu pemberdayaan digital, baik literasi digital maupun personal branding di era digital,” katanya.
Sebelumnya (25/2), narasumber dari LKKNU Jatim Nur Diana Kholidah SAg MPd saat “Ngaji Kentong Ramadhan 1447 H” bertema “Relasi Mubaddalah, Kunci Keluarga Maslahah” menekankan pentingnya komunikasi dan berbagi peran untuk kemaslahan keluarga. “Saat ini, suami bisa berperan sebagai isteri dan istri berperan sebagai suami, karena itu berbagi peran perlu komunikasi yang saling memahami,” katanya. (*/fpnu)



