KARTANU raih Best Application of 2020

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Ahmad Helmy Faishal Zaini (Foto: www.nu.or.id)
Bagikan yuk..!

Jakarta (Radar96.com) – Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Ahmad Helmy Faishal Zaini mengungkapkan, aplikasi Kartanu yang dikembangkan saat ini sudah diunduh lebih dari 100 ribu pengguna melalui apps store dan playstore.

“Saya ingin mempertegas soal keorganisasian. Ini (aplikasi Kartanu) sebuah transformasi besar-besaran yang luar biasa,” tegas Helmy yang alumni IPNU itu di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (17/2) sore.

Aplikasi Kartanu didesain untuk menunjang aktivitas keseharian dan juga sebagai identitas resmi warga NU. Sebab di dalamnya terdapat berbagai fitur menarik yang berfungsi memudahkan warga NU dalam berkegiatan, termasuk bermuamalah karena disediakan pasar digital (marketplace).
Selain itu, terdapat petunjuk untuk membuat kartu tanda anggota NU.
“Selama ini, warga NU kalau ingin membuat Kartanu harus datang ke kantor wilayah, cabang, dan ranting. Kondisi pandemi seperti ini, pasti ada banyak kesulitan. Kemudian sekarang era media sosial atau digital. Tentu sudah sangat berubah,” ungkap Helmy.

Oleh karena itu, saat ini disiapkan dua pola. Pertama, warga NU masih bisa datang langsung ke kantor NU di daerah masing-masing. Kedua, bisa juga melalui platform digital atau aplikasi Kartanu.

“Jadi mereka (warga NU) karena sudah 70 persen orang Indonesia sekarang sudah berurusan dengan internet, maka mereka cukup di rumah menggunakan handphone saja, bisa mendaftar untuk membuat Kartanu. Karena hanya cukup dengan menggunakan nomor induk kependudukan saja,” jelasnya.

Fungsi Kartanu yang pertama, lanjut Helmy, tentu saja sebagai kartu identitas warga NU. Di sana ada single identity number (nomor identitas tunggal) keanggotaan. Sebab setiap warga NU yang memiliki Kartanu akan mendapatkan nomor yang teregistrasi dan terverifikasi melalui sistem keanggotaan secara nasional dan internasional.

“Nah ketika kita bikin satu platform aplikasi Kartanu, seluruh warga NU di seluruh Indonesia dan bahkan di beberapa negara lain, terhubung melalui satu sistem. Di setiap PCNU atau PCINU ada adminnya untuk melakukan approval (persetujuan) ketika ada yang mengajukan permintaan pembuatan Kartanu,” ungkapnya.

“Jadi, Kartanu itu jadinya berapa lama tergantung cabang yang sudah dijadikan admin. Karena yang mengeluarkan juga cabang. Kalau ada yang kartunya belum jadi, tanya cabang saja,” lanjut Sekjen PBNU kelahiran Cirebon, 48 tahun lalu ini.

Fungsi Kartanu kedua adalah menjadi basis data. Melalui aplikasi ini, seluruh data demografis warga NU yang mencakup jenis kelamin, latar pendidikan, pekerjaan, dan kiprah keorganisasian bisa terdata atau diketahui.

“Ini semakin memudahkan dan sekaligus mengakselerasi program-program NU. Dengan database yang akurat, seluruh program yang dirumuskan oleh lembaga, badan otonom, dan PBNU diharapkan lebih terukur, tepat sasaran, dan terlaksana dengan baik,” harap Helmy.

Fungsi Kartanu ketiga yakni sebagai alat pembayaran. Pengguna Kartanu melalui IOS dan Android dapat melakukan berbagai transaksi yang sangat memudahkan aktivitas sehari-hari. Bahkan, sejalan dengan tren kehidupan yang kini bersifat cashless (nontunai).

Fungsi keempat Kartanu adalah sebagai sarana bisnis antarwarga. Tak ubahnya seperti aplikasi jual-beli online atau e-commerce pada umumnya, aplikasi Kartanu menjadi wadah untuk bertransaksi yang memungkinkan terbangunnya aktivitas perniagaan yang saling menguntungkan.

“Kita sediakan marketplace (pasar digital). Tinggal unggah produk saja tanpa biaya. Kita nggak kena biaya tambahan. Karena itu semacam CSR untuk warga NU yang mau menjual atau membeli berbagai produk ke-NU-an, seperti kopiah atau bahkan kitab, buku, dan lainnya,” jelas Helmy.

Berkaitan dengan itu, fungsi Kartanu kelima yakni warga NU bisa mendapatkan diskon di beberapa gerai belanja. Diskon yang sama bisa pula diperoleh saat berhubungan dengan Perguruan Tinggi NU, lembaga pendidikan di bawah LP Ma’arif NU, dan Rumah Sakit NU di semua daerah.

“Fungsi keenam, Kartanu bisa dijadikan sebagai wahana untuk menyalurkan sedekah, infak, dan zakat melalui NU-Care LAZISNU yang telah terintegrasi di dalam aplikasi Kartanu,” terang Helmy.

Terakhir, aplikasi ini menjadi penunjang amaliah warga NU. Sebab di dalamnya telah tersedia berbagai fitur seperti Al-Quran, tahlil, shalawat, dan arah kiblat. “Kartanu juga terhubung nih dengan berita-berita yang ada di NU Online sebagai sumber informasi ke-NU-an,” ucap Helmy.

Pengguna Kartanu dalam data Aplikasi ini sudah diunduh lebih dari 100 ribu pengguna. Sekitar 80 ribu di antaranya telah melakukan pengajuan Kartanu. Terdapat 67.643 (87 persen) pengguna telah disetujui dan 9.207 (43,2 persen) masih menunggu persetujuan.

Jumlah pengguna laki-laki sampai saat ini berjumlah 37.762 (56,8 persen) dan perempuan sebanyak 28.669 (43,2 persen) pengguna. Lalu pengguna yang pernah mengenyam pendidikan pesantren sejumlah 40.640 (61 persen) dan pengguna yang tidak berpendidikan pesantren sebanyak 26.029 (39 persen).

Pengguna aplikasi Kartanu terbanyak adalah berasal dari PWNU Jawa Timur (54.649). Lalu disusul Jawa Barat (8.403), Jawa Tengah (2.711), Banten (1.485), Sumatera Selatan (1.412), Riau (1.194), Nusa Tenggara Barat (1.091), Kalimantan Timur (956), DKI Jakarta (890), dan Lampung (808).

“Aplikasi Kartanu ini juga sudah mendapatkan penghargaan dari google yaitu Best Application of 2020 (aplikasi terbaik di tahun 2020),” pungkas Helmy.

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/126743

Komentar Facebook

BeritaTerkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *