Ketum MUI Jatim: ukuran kinerja MUI adalah hadir saat dibutuhkan pemerintah dan umat

Ketua Umum MUI Jatim KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah dalam penutupan rapat evaluasi dan rapat kerja MUI Jatim di Surabaya, Minggu (24/10/2021). Rapat evaluasi dan rapat kerja itu dilaksanakan pada 23-24 Oktober 2021. (*/my)
Bagikan yuk..!

Surabaya (Radar96.com) – Ketua Umum MUI Jatim KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah menyatakan ukuran kinerja MUI itu simple atau sederhana, yakni hadir ketika dibutuhkan oleh pemerintah dan umat dalam berbagai bidangnya.

“Karena MUI adalah shodiqul hukumah dan khodimul ummah,” katanya dalam sambutan penutupan rapat evaluasi dan rapat kerja MUI Jatim di Surabaya, Minggu (24/10). Rapat evaluasi dan rapat kerja itu dilaksanakan pada 23-24 Oktober 2021.

Dalam penutupan acara tersebut, KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah juga mengucapkan terima kasih atas dedikasi yang diberikan para pengurus selama 9 bulan 12 hari.

“Tentu MUI tidak bisa maksimal tanpa kinerja semua pengurus, karenanya izinkan saya sebagai khodimul ummah dan khodim MUI Jatim memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya. Saya juga mengajak kita semua untuk terus menguatkan semangat dan istikamah menjaga amanah kita,” katanya.

Menurut pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo itu, apa yang dilakukan pengurus melalui MUI sudah meng-cover tiga ketaatan sebagai perintah agama, yakni athi’ullaha, wa athii’ur rasul wa ulil amri yaitu taat kepada Allah, taat kepada rasul dan taat kepada pemerintahan yang sah.

“Apa yang kita lakukan pada tahun 2021 dan yang akan kita lakukan pada 2022 ini, tidak lain kecuali untuk menjaga amanah dan tanggung jawab tersebut. Amanah tersebut akan kita balas dengan kinerja yang baik. Kita harus ingat bahwa Allah SWT melihat semua pengorbanan untuk perjuangan kita melalui MUI ini, pengorbanan waktu, pikiran, tenaga, bahkan harta,” katanya.

Dalam surah Al-Zalzalah dijelaskan, sekecil apapun kebaikan Allah akan melihat dan sekecil apapun kejelekan Allah juga melihat. Yang baik akan dilipatgandakan minimal 10 kali dan maksimalnya tidak terhingga, yang buruk akan dibalas setimpal dengan keburukannya.

“Terakhir, saya mohon maaf sebesar-besarnya apabila ada yang kurang pas dari layanan kami. Semoga amaliah kita ini menjadi amaliah hasanah yang menjadi wasilah untuk kemanfaatan dan keselamatan kita di dunia dan utamanya di akhirat nanti,” ujar Kiai Mutawakkil.

Tidak lupa, Kiai Mutawakkil menutup sambutan tersebut dengan pantun khasnya. “Hidup new normal segera mendarat. Gaya hidup halal menjadi pilihan. Bila ingin selamat dunia akhirat. Peran MUI jangan dilupakan,” pungkasnya. (*/my)

BeritaTerkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.