By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: KH Abdul Mun’im : NU adalah “pesantren besar” bagi ulama-umat, bukan ajang kontestasi
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Nahdliyyin > KH Abdul Mun’im : NU adalah “pesantren besar” bagi ulama-umat, bukan ajang kontestasi
Nahdliyyin

KH Abdul Mun’im : NU adalah “pesantren besar” bagi ulama-umat, bukan ajang kontestasi

05/12/2021 Nahdliyyin
Pengasuh Pondok Pesantren Salaf Qur’an (PPSQ) Asyadzili Sumber Pasir, Malang, KH. Abdul Mun'im, saat menghadiri acara Majelis Sholawat Dalailul Khoirot, Malang, Kamis (2/12/2021). (*/pna)
SHARE

Kabupaten Malang (Radar96.com) – Pengasuh Pondok Pesantren Salaf Qur’an (PPSQ) Asyadzili Sumber Pasir, Malang, KH. Abdul Mun’im, menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) adalah “pesantren besar” bagi ulama dan umat nahdliyyin, karena itu NU harus menjadi “rumah bersama” yang membuat ulama dan umat menjadi nyaman di dalamnya, karena itu bukan jadi ajang kontestasi.

“Harus dipertegas kembali bahwa pesantren adalah NU kecil dan NU adalah pesantren besar, jangan lupa bahwa mengurus NU adalah merawat semangat kebangkitan ulama dan umat dalam menjaga spirit perjuangan para masyayikh kita,” katanya disela-sela acara Majelis Sholawat Dalailul Khoirot, Kamis (2/12/2021).

Menurut dia, NU dan Pesantren tak terpisahkan, keduanya menjadi embrio cikal bakal kekuatan yang harus mengakar dalam kesadaran berjam’iyah para nahdhiyin, harus ada pakem besar yang dijaga, kesepakatan aturan main di dalamnya, agar hasil dari konferensi NU melahirkan kepemimpinan yang mumpuni dan berwibawa.

Pengasuh Pondok Pesantren Salaf Qur’an (PPSQ) Asyadzili Sumber Pasir, Malang, KH. Abdul Mun’im, saat menghadiri acara Majelis Sholawat Dalailul Khoirot, Malang, Kamis (2/12/2021). (*/pna)

“NU harus kembali menjadi rumah besar yang nyaman bagi segenap warga masyarakat nahdliyyin didalamnya, sebab tujuan awal didirikan NU memang sebagai wadah perjuangan para ulama dalam berdakwah, membina serta menjaga umat (warga NU), mengajarkan Islam Aswaja serta tujuan membentuk karakter akhlak mulia dalam konteks bermasyarakat, bernegara, berbangsa dan bertanah air,” katanya.

Oleh karena itu, Kebangkitan NU tidak bisa dilepaskan dari pesantren, sebab pesantren adalah alasan berdirinya NU, pesantren sebagai basis pendidikan agama, sekaligus juga pesantren sebagai poros pendidikan calon manusia mulia, sebab didalamnya diprioritaskan pendidikan akhlak, pendidikan moral, pendidikan etika, maka bisa dipastikan pesantren adalah penempaan lahir batin menuju umat yang diharapkan Rasulullah.

“Sejatinya NU adalah refleksi kebangkitan Ulama, sedangkan kita paham benar bahwa ulama’ adalah para pewaris nabi Muhammad SAW, yang melanjutkan keberlangsungan ajaran-ajaran Nabi dalam menata umat manusia menjadi insan kamil,” katanya.

Ia menambahkan NU harus kembali ada marwah yang dibangun dari kesadaran bersama bahwa sesungguhnya NU itu rumah Kyai dan warga Nahdhliyin, rumah penerus kanjeng Nabi, didalamnya umat harus dibikin betah untuk berteduh dan bersandar pada NU, jangan dibikin gusar dan bingung.

“Jadi, NU bukan hanya ajang untuk kontestasi, politisasi, yang ujung-ujungnya saling menghalalkan segaa cara, jangan sampai akhirnya ujung-ujungnya NU hanya menjadi ruang stempel legalitas politik praktis menjelang Pileg, Pilpres hingga Pilkada, eman NU-nya,” kata kyai Alumni Ploso itu.

Sementara itu, Wakil Ketua Majelis Dakwah dan Pendidikan Islam (MADANI), Ustadz Ainul Yaqin, memaparkan bahwa sudah bisa dipastikan NU harus kembali pada posisi dan tujuan awal didirikannya NU, yang mampu menjawab segala tantangan zaman yang semakin kompleks, karenanya kejernihan dan kemandirian para pengemban amanah NU didalamnya sangat penting, kemurnian dalam setiap kebijakan para pemangku NU menjadi taruhan marwah NU.

“Kebijaksanan para kyai didalamnya akan berimplikasi langsung pada kesetiaan warga nahdhliyin nantinya. Jika kita melihat sejarah, dahulu, Rais Akbar NU, KH. M Hasyim Asy’ari mencetuskan fatwa Resolusi Jihad. Itulah yang menjadi pemicu perjuangan kiai dan santri pesantren untuk mempertahankan kemerdekaan dari penjajah yang mencoba masuk kembali ke Indonesia, ada energi besar yang mengalir dan membersamai sebuah harapan dan tujuan,” katanya.

Kemerdekaan itu bisa dimaknai kebebasan dan kedaulatan mengelola jam’iyah, konteksnya juga dapat dimaknai bagaimana memosisikan diri kita sebagai bagian dari NU yang mandiri, berwibawa dan bermartabat sebagai organisasi, pola penyampaian Islam wasathiyah yang menjamah ruang-ruang egaliter, mengimplementasikan sebagai bagian dari penerjemahan syi’ar dan dakwah Islam rahmatan lil “alamin, sehingga nilai kewibawaan Jam’iyah NU benar-benar kokoh dan tidak terdegradasi akibat langkah-langkah kerdil.

Inisiator dan pendiri BAANAR (Badan Ansor Anti Narkoba) Nasional itu menjelaskan sakralitas NU sepatutnya tetap terjaga, diantaranya NU yang tetap kokoh, sesuai khittah 1926, NU harus dikembalikan sebagai semangat persatuan (Al-Ittihad), persatuan dan kesatuan tujuan membangun peradaban bangsa, denan segala tujuan dan orientasi untuk kemaslahatan, tidak bisa condong sebelah, sebab peran NU sangat penting dalam melestarikan semangat persatuan bangsa dan tanah air yang sangat luar biasa. (*/pna)

Iklan.

You Might Also Like

PWNU Jatim Tugaskan KH Abdul Hakim Mahfudz jadi calon Ketua Umum PBNU 2026-2031

Jelang Muktamar NU ke-35, ISHARI gelari KHA Wahab Hasbullah sebagai “Bapak ISHARI”

Lengkapi Istighotsah Kubro dengan Aksi Sosial Santuni 84 Anak Yatim

Ketua PCNU Sidoarjo Ingatkan Amanah dan Niat Pengabdian di NU

KH Yusuf Hasyim Penuhi Syarat sebagai Pahlawan Nasional

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article NU Jatim bantu warga Lumajang terdampak Letusan Gunung Semeru
Next Article Gunung Semeru Meletus, Gubernur Khofifah langsung datangi “kampung” tertimbun abu vulkanik

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

Luruskan Video Viral MBG, Kepala MTsN 4 Bondowoso: Kronologi Sebenarnya Berbeda
Sospol
PWNU Jatim Tugaskan KH Abdul Hakim Mahfudz jadi calon Ketua Umum PBNU 2026-2031
Nahdliyyin
Tiga Prodi Unusa Raih Hibah Program Penguatan PTS
Sospol
Universitas Bondowoso Tantang Mahasiswa KKN Jadi Agen Transformasi Desa Berbasis Digital
Uncategorized

You Might also Like

Nahdliyyin

Gus Afif Pimpin Silaturahmi PKB ke PCNU, Perkuat Hubungan dan Perjuangkan Aspirasi Umat

14/07/2026
Nahdliyyin

Jelang Muktamar ke-35, Kiai Imam Jazuli dan Gus Kikin Diskusikan NU Abad Kedua

12/07/2026
Nahdliyyin

Gus Yahya: Delegasi Indonesia ke Iran Sampaikan Belasungkawa dan Dorong Perdamaian

11/07/2026
Nahdliyyin

Mengembalikan Muktamar NU ke-35 kepada Maslahat, Bukan Kontestasi

11/07/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?