Semarang (Radar96.com/NUO) – Wakil Katib Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Muhammad Abdurrrahman Al Kautsar atau lebih dikenal Gus Kautsar, mengajak agar santri dan alumni pesantren yang berafiliasi dengan NU untuk tidak mengritik dan menggerogoti NU dari luar.
“Tadi saya bilang kepada Kiai Hanif (Ismail). Pokoknya, Kiai, seadanya santri, alumni mana pun, ajak masuk ke NU. Jangan ada santri, alumni mana saja, punya gaya: (jika pengurus) NU keliru, mengritik di luar. Kamu harus masuk, khidmah,” ungkapnya dalam Lailatul Ijtima’ dan Halal Bihalal Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (25/5/2022) malam.
Pengasuh Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, itu mengajak untuk menjaga kekompakan dan persatuan. NU didirikan oleh Mbah Hasyim dan para masyayikh yang lain, lanjutnya, asasnya adalah persatuan (al-ittihad), kekompakan, dan se-iya-sekata
“Tapi praktiknya apa, orang NU? Satu-satunya jam’iyah yang paling sulit dikompakkan. Iya, tidak? Mengaku saja,” ungkap Gus Kautsar, sambil menyomot dalil yang sering disampaikan dalam khutbah jumat: Wa’tashimu bihablillah jamii’an walaa tafarraquu (QS. Ali Imron:103).
Ia mengkritik gaya sebagian orang NU yang senangnya punya ‘ijtihad’ sendiri-sendiri. “Jangan sampai ada Nahdliyin kemudian suka berpecah-belah. Tidak memiliki jiwa kekompakan. Tidak membangun kekompakan. Karena perpisahan, perpecahan, hanya melemahkan kita semua, dan membuat kita ini menjadi tidak berharga di mata siapa pun,” tuturnya.
Putra KH Nurul Huda Djazuli itu meminta kapada santri dan alumnus pesantren agar jangan pura-pura tak tahu. “(NU) ini rumahmu, kok dikritik sendiri. Itu maksudmu bagaimana? Kamu harus masuk. Kalau memang kamu mau ngomong, masuk. Kamu harus ikut khidmah,” kata Gus Kautsar.
“Kemudian kalau kamu punya pandangan yang lebih baik untuk menata NU ke depan, bangun dari dalam. Jangan kamu gerogoti dari luar, seakan-akan kamu orang lain,” imbuhnya di depan ratusan Nahdliyin.
Menantu KH Abdul Hamid Baidlowi itu terinspirasi pidato sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, ketika diangkat menjadi pemimpin umat Islam pasca-wafatnya Rasulullah saw.
“Kami ini hanya generasi penerus, kami ini bukan yang bikin jam’iyah ini. Kalau memang yang kita lakukan dalam pengabdian kita ternyata benar, tolong di-support, tolong didoakan, tolong didukung. Tapi kalau kami salah, tolong ingatkan dengan baik, jangan malah menjelek-jelekkan (dengan) update status,” pintanya.
Gus Kautsar menyerukan kepada siapa saja yang merasa pernah menjadi santri, di mana pun dulu mengaji, asal dari pesantren muktabar, untuk berkhidmah di NU. “Jangan punya gaya: sukanya mengktitik NU dari luar, karena itu bahaya. Itu sama sekali enggak membangun, dan untuk apa?,” ajaknya.
Sebelumnya, sahabat karib Gus Baha ini juga membagikan dua resep dalam membangun NU yaitu dengan dua hal. “(NU) yang penting harus Anda bangun dengan dua hal: satu rasa cinta, yang kedua adalah keilmuan,” kata Gus Kautsar, berpesan.
Dalam sambutannya, Ketua PCNU Kota Semarang H Ansom menyampaikan, beberapa waktu lalu pihaknya bersama para santri mengkhatamkan Al Qur’an 475 kali, sesuai angka hari jadi kotanya. “Semoga dengan ini menjadi keberkahan masyarakat Kota Semarang,” harapnya. Selain itu, beberapa kegiatan ke depan yang padat juga sudah teragendakan.
Hadir dalam kesempatan ini, Gus Fahim Rouyani (Ploso), KH Hanif Ismail, segenap pengurus dan badan otonom NU, serta para jamaah. Turut hadir pula anggota DPRD Jateng Tazkiyatul Mutmainnah dan Wali Kota Semarang H Hendrar Prihadi. Acara ini disiarkan langsung dan dapat dapat disimak di kanal YouTube NU Online.
Jangan Membandingkan Kiai/Habib
Saat ngisi acara di Kongres III Pergunu di Ammanatul Ummah Pacet, Mojokerto, Kamis (26/5/2022), Pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman, Yogyakarta KH Miftah Maulana Habiburrahman atau lebih dikenal dengan Gus Miftah meminta umat Islam tidak membandingkan seorang kiai dengan kiai lainnya untuk tujuan negatif.
Hal tersebut menurut Gus Miftah bisa menyebabkan terjadinya perpecahan dalam tubuh umat Islam sendiri. Sehingga yang muncul adalah dampak negatifnya. “Jangan banding-bandingkan guru, boleh mencintai seorang kiai, tapi tidak boleh menjelekkan kiai lainya,” kata Gus Miftah.
Menurut Gus Miftah, akhir-akhir ini banyak umat Islam yang membandingkan seorang guru dengan guru agama lainnya. Hal serupa juga terjadi untuk guru dari kalangan habib. Pengikutnya seorang habib lebih sibuk menjelekkan jamaah habib lainnya daripada menghiasi diri dengan sifat terpuji.
“Begitu juga ketika mencintai seorang habib, jangan menghina habib yang lainnya. Karena itu bukan ajaran nabi,” imbuhnya. Gus Miftah menjelaskan, membandingkan seorang kiai atau habib dengan yang lainnya tidak pas karena setiap individu memiliki kelebihan masing-masing. “Orang Jawa jangan kehilangan Jawanya. Hakikatnya orang boso itu memuliakan orang lain,” ujar Gus Miftah.
Bagi Gus Miftah, setiap kiai atau habib biasa memiliki kelebihan masing-masing atau menonjol dalam bidang ilmu tertentu dan jangan dianggap salah. Ada kiai atau habib yang ahli dalam bidang Al-Qur’an seperti KH A Baha’uddin Nursalim dan Prof Quraish Shihab, ahli bisnis serta ekonomi ada KH Asep Syaifuddin Chalim, ahli kitab kuning seperti Gus Qoyyum Lasem dan ahli tasawuf ada Kiai Said Aqil Siradj.
“Setiap orang punya kelebihan masing-masing. Seharusnya orang muslim mendatangi habib dan kiai sesuai dengan kemampuan tokoh tersebut. Mengambil ilmu dan pelajaran dari keahlian mereka,” tegasnya.
Gus Miftah mengingatkan, sosok guru sangat penting dalam kehidupan seseorang. Sehingga jangan sampai salah memilih guru. Banyak orang yang tersesat secara ideologi karena salah memilih pengajian.
“Banyak orang tersesat berawal salah mengikuti guru dan pengajian, hati-hati milih guru. Makanya saya mau datang ke acara kongres guru Nahdlatul Ulama, karena guru itu penting,” tandasnya. (*/NUO)
Sumber:
*) https://www.nu.or.id/nasional/pesan-gus-kautsar-ke-santri-jangan-gerogoti-nu-dari-luar-UXXqW
*) https://www.nu.or.id/nasional/gus-miftah-jangan-membandingkan-kiai-atau-habib-satu-dengan-lainnya-8gjeO



