Surabaya, radar96.com – Ancaman paham radikal, intoleransi, dan narasi kebencian di era digital masih menjadi tantangan nyata bagi bangsa Indonesia. Dengan semakin kuatnya penetrasi media sosial di kalangan generasi muda, arus informasi yang beredar tak selalu sehat. Konten provokatif, hoaks, hingga ujaran kebencian mudah menyusup ke ruang-ruang digital. Tanpa bekal literasi yang memadai, anak muda berpotensi menjadi korban sekaligus penyebar.
Menyadari hal tersebut, Global Peace Youth Surabaya bersama Indika Foundation menggelar Mini Bootcamp bertajuk “Freedom of Belief & Culture of Tolerance” pada Sabtu (20/9/25) di ASEEC Tower Universitas Airlangga. Acara ini diikuti puluhan perwakilan komunitas dan mahasiswa dari berbagai kampus di Surabaya. Tujuannya untuk membekali generasi muda dengan wawasan literasi digital sekaligus menumbuhkan semangat toleransi dalam berinteraksi, baik di dunia nyata maupun dunia maya.
Ketua Duta Damai BNPT Jawa Timur, Achmad Reza Rafsanjani, menekankan bahwa usia remaja dan mahasiswa merupakan fase pencarian jati diri yang paling rentan. Di usia ini, rasa ingin tahu tinggi namun sering kali belum diimbangi kemampuan menyaring informasi.

“Yang perlu dibangun di era digital ini adalah literasi digital. Jangan gampang terpapar narasi kebencian hanya karena ikut-ikutan tren atau terbawa emosi,” ungkap Reza di hadapan para peserta.
Ia menegaskan, sikap kritis sangat diperlukan agar generasi muda tidak asal membagikan informasi yang belum terverifikasi. “Saring sebelum sharing. Kita harus punya kebiasaan memverifikasi konten. Tidak semua yang viral itu benar, dan tidak semua yang tampak meyakinkan bisa dipercaya,” tambahnya.
Lebih jauh, Reza mengingatkan, generasi muda tak cukup hanya bersikap defensif. Mereka perlu berperan aktif menciptakan konten positif di media sosial. Konten yang mengangkat nilai toleransi, perdamaian, keberagaman budaya, dan kebersamaan bisa menjadi penyeimbang dari derasnya arus ujaran kebencian.
“Kalau bukan kita yang mengisi ruang digital dengan konten damai, maka akan terus ada celah bagi narasi kebencian untuk berkembang,” tegasnya.
Diskusi yang berlangsung dalam bootcamp membuka kesadaran baru di kalangan peserta. Banyak dari mereka mengaku sering menemukan hoaks, provokasi, dan ujaran intoleransi di media sosial. Fenomena saling menyalahkan, menuduh tanpa dasar, hingga mengkafirkan kelompok lain, kerap bermula dari unggahan sederhana yang tidak disaring dengan baik.
Dari sini, peserta belajar bahwa intoleransi digital bisa tumbuh dari kebiasaan sehari-hari yang tampak sepele, seperti menyebarkan meme bernuansa kebencian, ikut mengomentari dengan nada kasar, atau mendukung narasi yang memecah-belah tanpa tahu kebenarannya. Literasi digital menjadi tameng agar generasi muda tidak terjebak dalam sikap reaktif yang berujung pada intoleransi.
Kadispora Jawa Timur Dr M Hadi Wawan Guntoro, SSTP, MSi, CIPA, yang hadir sebagai keynote speaker, menekankan pentingnya peran pemuda sebagai garda terdepan dalam menjaga persatuan bangsa.
Hadir pula Lastiko Endi Rahmantyo, MHum dari DPKKA Universitas Airlangga, serta Dr H Muhammad Yazid, SAg, MSi, FKUB Kota Surabaya. Kehadiran mereka menegaskan bahwa melawan narasi kebencian bukan hanya tugas individu, tetapi memerlukan sinergi antara pemerintah, akademisi, tokoh agama, dan komunitas pemuda.
Mini Bootcamp ini akhirnya tidak sekadar menjadi ruang diskusi, melainkan wadah pembelajaran kolektif. Peserta sepakat bahwa literasi digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak di tengah derasnya arus informasi. Lebih dari itu, mereka diajak bertransformasi: dari sekadar konsumen informasi menjadi produsen nilai-nilai positif yang menyejukkan ruang digital.
Kolaborasi antara Global Peace Youth, Indika Foundation, dan Duta Damai BNPT Jawa Timur ini diharapkan melahirkan agen-agen perdamaian baru yang siap menyebarkan pesan toleransi di dunia maya. Harapan tersebut sejalan dengan cita-cita besar menjaga keutuhan NKRI dari ancaman radikalisme dan intoleransi yang kerap bersembunyi di balik layar gawai.



