By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Airlangga Business Community/ABC: Perubahan Kebijakan Publik Harus Dibaca Sebagai Terbukanya Peluang Bisnis
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Ekraf > Airlangga Business Community/ABC: Perubahan Kebijakan Publik Harus Dibaca Sebagai Terbukanya Peluang Bisnis
Ekraf

Airlangga Business Community/ABC: Perubahan Kebijakan Publik Harus Dibaca Sebagai Terbukanya Peluang Bisnis

06/10/2026 Ekraf
SHARE

Surabaya, radar96.com – Pelaku usaha perlu memperkuat kemampuan adaptasi menghadapi perubahan lingkungan bisnis yang berlangsung cepat, mulai dari dinamika kebijakan pemerintah, perkembangan teknologi, perubahan perilaku konsumen, hingga kondisi ekonomi.

Kemampuan membaca perubahan tersebut dinilai penting agar pelaku usaha tidak hanya mampu mempertahankan keberlangsungan bisnis, tetapi juga dapat mengidentifikasi peluang baru yang muncul dari perubahan.

Ketua “Airlangga Business Community” (ABC) Bidang Jejaring dan Pengembangan Bisnis, Bustomi, S.Hub.Int., M.IP, mengatakan perubahan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari lingkungan bisnis.

“Pengusaha yang adaptif tidak hanya bertanya bagaimana bertahan menghadapi perubahan, tetapi juga bagaimana mengubah perubahan menjadi peluang,” kata Bustomi dalam dialog Dimensi Radio Suara Muslim, Selasa (6/10/2026).

Menurut Bustomi, pelaku usaha perlu memahami bahwa perubahan kebijakan maupun perkembangan lingkungan bisnis tidak selalu harus dipandang sebagai beban. Perubahan juga dapat menjadi informasi mengenai arah perkembangan sektor usaha, teknologi, maupun kebutuhan pasar.

“Kita tidak mungkin meminta dunia berhenti berubah hanya supaya bisnis kita nyaman. Bisnislah yang harus memiliki kemampuan untuk terus bergerak ketika dunia berubah,” ujar Bustomi yang juga Direktur Institute for Strategic and Political Studies (INTRAPOLS) itu.

Bustomi mengatakan pengusaha perlu melihat regulasi tidak semata-mata sebagai kewajiban administratif, tetapi juga sebagai bagian dari informasi strategis mengenai arah perkembangan ekonomi dan sektor usaha.

Menurut dia, perubahan regulasi dapat memberikan indikasi mengenai sektor yang sedang didorong pemerintah, perubahan standar usaha, perkembangan teknologi, maupun kebutuhan baru di pasar.

“Kalau ada kebijakan baru, jangan hanya bertanya apa kewajiban saya. Pengusaha juga harus bertanya, peluang apa yang muncul dari perubahan ini ?,” katanya.

Ia mencontohkan digitalisasi layanan pemerintah dan penerapan perizinan berbasis risiko. Di satu sisi, perubahan tersebut menuntut pelaku usaha menyesuaikan administrasi dan proses bisnis. Namun di sisi lain, digitalisasi dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki pencatatan usaha, mempercepat proses, memperluas akses pasar, dan meningkatkan efisiensi.

Karena itu, menurut Bustomi, pengusaha perlu mampu membedakan antara biaya penyesuaian dan peluang jangka panjang yang dapat muncul dari perubahan kebijakan.

Salah satu perubahan yang perlu dicermati pelaku usaha adalah implementasi Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2025.

Menurut Bustomi, perubahan seperti KBLI 2025 seharusnya tidak hanya dilihat sebagai persoalan administrasi. Pengusaha perlu memanfaatkannya untuk memastikan model bisnis, legalitas, dan aktivitas usaha berjalan dalam arah yang sama.

“Jangan sampai bisnisnya sudah naik kelas, tetapi administrasinya masih menggambarkan bisnis lima atau sepuluh tahun yang lalu,” ujarnya.

Bustomi menegaskan kemampuan adaptasi perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar respons ketika perubahan sudah menimbulkan dampak.

Menurut dia, pelaku usaha perlu membangun kebiasaan untuk terus belajar, mengevaluasi model bisnis, memperkuat kesehatan keuangan, memanfaatkan teknologi, serta memahami perubahan regulasi yang berkaitan dengan bidang usahanya.

Perubahan kebijakan, lanjutnya, memang dapat menimbulkan biaya penyesuaian. Namun, pada saat yang sama, perubahan tersebut dapat menciptakan ruang bagi inovasi dan model bisnis baru.

“Jadi jangan berhenti pada pertanyaan, apa dampak kebijakan ini terhadap bisnis saya? Kita juga harus bertanya, peluang apa yang bisa saya ciptakan dari perubahan ini?,” kata Bustomi.

Ia menambahkan, pengusaha yang mampu membaca arah perubahan lebih awal memiliki kesempatan lebih besar untuk menyesuaikan strategi sebelum perubahan tersebut berkembang menjadi tekanan terhadap bisnis.

Dalam menghadapi perubahan lingkungan bisnis, Bustomi juga menilai jejaring dan komunitas bisnis memiliki peran penting.

Menurut dia, pelaku usaha tidak selalu memiliki akses yang sama terhadap informasi, pengetahuan, pasar, teknologi, maupun pembiayaan. Karena itu, keberadaan komunitas bisnis dapat membantu pengusaha memperluas akses sekaligus mempercepat pertukaran informasi.

Komunitas bisnis, kata dia, tidak seharusnya hanya menjadi ruang untuk memperluas pertemanan. Lebih dari itu, komunitas dapat menjadi wadah pertukaran pengetahuan, pemetaan kebutuhan bisnis, pembukaan akses pasar, hingga penciptaan kolaborasi antarpelaku usaha.

“Networking bukan sekadar tentang siapa yang kita kenal, tetapi tentang nilai apa yang bisa kita ciptakan bersama,” ujar Bustomi yang juga Direktur PT Cakrawarta Megah Mediatama itu.

Sebagai Ketua ABC yang membidangi jejaring dan pengembangan bisnis, Bustomi mengatakan kolaborasi antarpelaku usaha dapat membuka peluang yang sulit diperoleh apabila pengusaha berjalan sendiri-sendiri.

Ia mencontohkan pelaku usaha yang memiliki produk tetapi terbatas dalam distribusi dapat bekerja sama dengan pelaku usaha yang memiliki jaringan pasar. Kolaborasi juga dapat dikembangkan dalam pengadaan bahan baku, teknologi, pemasaran, hingga akses pembiayaan.

Dalam konteks tersebut, komunitas bisnis dapat berfungsi sebagai penghubung antara kebutuhan dan sumber daya.

Pengusaha yang membutuhkan pasar dapat bertemu dengan mitra distribusi. Pelaku usaha yang membutuhkan teknologi dapat dipertemukan dengan penyedia solusi. Sementara pelaku usaha yang membutuhkan pembiayaan dapat memperoleh akses informasi maupun jejaring yang relevan.

“Jadi, komunitas bisnis bukan hanya tempat bertemu. Yang lebih penting adalah bagaimana pertemuan itu menghasilkan pertukaran pengetahuan, kolaborasi, dan pada akhirnya menciptakan nilai ekonomi,” kata Bustomi.

Menurut dia, semakin kompleks lingkungan bisnis, semakin penting bagi pelaku usaha untuk tidak berjalan sendiri. Jejaring dapat menjadi sumber informasi untuk membaca perubahan sekaligus menjadi modal sosial dalam membuka peluang baru.

Bustomi menilai kemampuan adaptasi dan kekuatan jejaring, harus diarahkan pada kemampuan pelaku usaha menciptakan nilai baru.

Pengusaha, kata dia, perlu membangun pola pikir bahwa perubahan bukan hanya sesuatu yang harus dihadapi, tetapi juga sesuatu yang perlu dibaca dan dimanfaatkan.

Karena itu, pelaku usaha perlu terus memperbarui pengetahuan, memperkuat kapasitas internal, membangun jejaring, dan terbuka terhadap kolaborasi.

“Penting diingat ya, pengusaha yang bertahan bukan hanya mereka yang mampu menghadapi perubahan, tetapi yang mampu membaca perubahan lebih awal dan mengubahnya menjadi nilai ekonomi baru dan jejaring atau komunitas jadi salah satu poin kuncinya,” pungkasnya. (**/ABC)

Iklan.

You Might Also Like

Dari Warung hingga Toko Pakaian, Mia Andalkan Layanan BRI Jalankan Usahanya di Bondowoso

BRI Bondowoso Perluas Layanan hingga Desa, BRILink Agen Wringin Layani Transaksi Warga

Kopi “Tujuh Bidadari” Bondowoso Tembus Malaysia

Jadi Mitra BRI sejak 2018, BRILink Cahaya Bintang Layani Warga Jebung Kidul, Bondowoso

Hari Pelanggan Nasional 2026, Manajemen BRI Bondowoso Sapa Nasabah dan Beri Apresiasi

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Konsolidasi di Bangkalan, ISNU Jatim Doakan PBNU dan Ziarah ke Maqbaroh Syaichona Cholil

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

Konsolidasi di Bangkalan, ISNU Jatim Doakan PBNU dan Ziarah ke Maqbaroh Syaichona Cholil
Nahdliyyin
Rapat Paripurna DPRD Bondowoso, Fraksi Demokrat-PKS Minta Raperda LP2B Tak Abaikan Hak Pemilik Tanah
Sospol
Bupati Cup VI 2026, IKSPI Kera Sakti Bondowoso Raih 13 Medali
Sospol
LTM NU Bondowoso dan Kemenag Sepakat Percepat ID SIMAS Masjid
Nahdliyyin

You Might also Like

Ekraf

Kopi Kalibaru – Banyuwangi Sabet Tiga Juara dalam kompetisi “Green Beans” di Yogyakarta

07/09/2026
Ekraf

Noe Letto Nikmati Kopi Bondowoso, Festival Jadi Panggung Promosi Komoditas Lokal

01/09/2026
Ekraf

Bondowoso Digital Days (BDD) 2026 ditutup, 5.452 Transaksi QRIS Tercatat dengan Omzet Rp783,1 Juta

28/07/2026
Ekraf

Paving Blok Pesantren Angkat Nilai Sampah Plastik jadi Peluang Ekonomi

20/07/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?