Surabaya, radar96.com – Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) Jawa Timur menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Santri Next” bertema “Gerbang Baru Nusantara: Dari Pesantren Menjadi Game Changer Transformasi Jawa Timur” di Surabaya, Sabtu (10/10/2026), guna mendorong kiprah santri/pesantren untuk mewarnai tranformasi daerah (Provinsi Jatim) di tengah perkembangan teknologi dan era digital.
FGD Santri Next yang juga dihadiri Ketua PWNU Jatim KH Firjaun Barlaman itu menampilkan sejumlah narasumber, diantaranya Ir Mohammad Yasin M.Si (Kepala BPKAD Jawa Timur), Dr H Basnang Said S.Ag M.Ag (Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama RI), Prof Dr Ahmad Zainul Hamdi M.Ag (Kapus Strategi Kebijakan Pembangunan Kementerian Agama RI), dan Ning Khilma Anis (novelis).

Saat membuka kegiatan yang diselenggarakan untuk memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2026 tersebut, Ketua PW ISNU Jawa Timur, Prof Dr HM Afif Hasbullah SH M.Hum menegaskan bahwa santri harus mengambil peran strategis dalam menentukan arah perubahan dan pembangunan peradaban.
“Santri tidak cukup hanya menjadi penonton, tetapi harus mampu menghadirkan pemikiran, gagasan, inovasi, hingga gerakan nyata di berbagai sektor kehidupan. Sebagai santri, kita mesti harus senantiasa memegang peran, memegang kendali, apakah itu dari sisi pemikiran, gagasan ide hingga langkah gerak. Itu adalah santri yang mewarnai,” ujarnya.
Afif menjelaskan, santri sejak masa perjuangan kemerdekaan telah menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa. Sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama di Surabaya serta Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 menjadi pengingat atas kontribusi santri/ulama dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Menurutnya, semangat perjuangan tersebut perlu diteruskan dalam konteks kekinian. “Jika dahulu santri berperan dalam perjuangan kemerdekaan, kini santri harus mampu mengambil bagian dalam perkembangan teknologi, transformasi digital, pendidikan, ekonomi, serta pembangunan pusat-pusat peradaban intelektual. Santri ini senantiasa menjadi pemimpin peradaban itu sendiri,” tegasnya.
Afif juga mengingatkan pentingnya menjaga ingatan sejarah agar generasi penerus tidak kehilangan gagasan besar yang menjadi fondasi berdirinya bangsa dan Nahdlatul Ulama. Ia menyinggung pemikiran Ibnu Khaldun mengenai pergantian generasi, mulai dari generasi pendobrak, generasi pembangun, hingga generasi yang hanya menikmati hasil pembangunan.
Ia mengingatkan agar generasi saat ini tidak terjebak menjadi penikmat yang melupakan perjuangan para pendahulu. Sebaliknya, santri dan kader NU harus terus merawat nilai perjuangan para pendiri bangsa dan muassis NU, termasuk Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Hasbullah.
“Jangan sampai kita tercerabut dari akar bagaimana fondasi negara ini didirikan, kemudian Jam’iyah Nahdlatul Ulama ini didirikan dan bagaimana pemeranan para santri ini sebagaimana digagas diharapkan oleh Hadratus Syekh Romo Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy’ari dan Kiai Haji Abdul Wahab Hasbullah dan seluruh muassis Jamiyah Nahdlatul Ulama,” ujarnya.
Afif menilai sumber daya manusia di lingkungan Nahdlatul Ulama memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam pembangunan nasional. Diaspora warga NU telah tersebar hingga berbagai negara dan pusat peradaban intelektual dunia. Potensi tersebut, menurutnya, perlu dioptimalkan agar santri dapat mengambil peran lebih luas di berbagai bidang.
Ia juga mendorong agar hasil diskusi menghasilkan gagasan segar yang selaras dengan program Pemerintah Provinsi Jawa Timur maupun pemerintah kabupaten dan kota. Sinergi tersebut diharapkan dapat membuka ruang inovasi bagi kalangan santri, akademisi, peneliti, birokrat, legislator, pengusaha, dan berbagai profesi lainnya.
Afif turut menyoroti visi Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara. Menurutnya, visi tersebut membutuhkan dukungan pemikiran, sumber daya manusia, serta kerja nyata dari berbagai elemen masyarakat, termasuk kalangan pesantren.
Ia mengajak warga NU dan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mendukung program pemerintah serta memaksimalkan potensi daerah. Menurutnya, berbagai keunggulan Jawa Timur perlu dioptimalkan melalui kolaborasi lintas sektor agar mampu memperkuat kontribusi daerah terhadap pembangunan nasional.
Melalui FGD Santri Next itu, ISNU Jawa Timur berharap lahir gagasan dan rekomendasi yang dapat disampaikan kepada para pemangku kepentingan, baik di tingkat pemerintah provinsi, legislatif, maupun sektor lainnya. “Semoga, forum ini tidak berhenti sebagai ruang bertukar gagasan, tetapi menghasilkan pemikiran yang dapat ditindaklanjuti untuk memperkuat peran santri dalam memimpin perubahan dan membangun peradaban,” kata Afif. (*/isnu)



