Surabaya, radar96.com – Ratusan jamaah Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS) mengikuti Sholat Istisqa’ yang dilaksanakan setelah Sholat Jumat di masjid setempat, untuk menyikapi kondisi cuaca dan fenomena kemarau panjang yang saat ini melanda seluruh Jatim.
Pada Sholat Istisqa’ setelah Sholat Jumat di ruang utama MAS itu dipimpin oleh imam MAS KH Abdul Hamid Abdullah MSi dan khotib oleh Prof Dr KHM Ali Azis MAg. Sholat Istisqa’ dilaksanakan 2 rokaat dengan 7 takbir pada rokaat pertama dan 5 takbir pada rokaat kedua.
Dalam khutbahnya, imam MAS Prof Dr KHM Ali Azis MAg menegaskan bahwa Sholat Istisqa’ secara Bahasa Arab merupakan sholat minta disiram air dengan tiga cara yakni sholat di luar Sholat Jumat, sholat bersamaan Sholat Jumat, atau sekadar doa pada setiap sholat.
“Mengapa ada Sholat Istisqa’. Ada dua alasan. Pertama, sunnah Rasulullah untuk meminta tapi soal dikabulkan adalah kehendak Allah, manusia tidak bisa turut campur. Kedua, ikhtiar batiniah untuk mengiringi ikhtiar lahiriah, sebagai taubat kepada Allah atas ulah dan dosa manusia. Yang penting, manusia tidak diam, karena ada hewan yang susah, tanaman yang kering, dan masyarakat kesulitan air,” katanya.
Secara lahiriah, pemerintah bisa melakukan operasi modifikasi cuaca dengan hujan buatan yang biayanya ratusan juta, bahkan bisa lebih bila dilakukan beberapa kali.
“Cara lahiriah yang juga penting adalah ikhtiar batiniah sebagai sarana taubat harus diiringi dengan ikhtiar lahiriah sebagai evaluasi, diantaranya tidak melakukan illegal loging, melakukan penghijauan, dan sebagainya,” katanya.
Sebelumnya, Sholat Istisqa’ itu merupakan imbauan dari Pimpinan Wilayah (PW) Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Jawa Timur untuk melaksanakan Sholat Istisqa’ menyikapi kemarau panjang yang melanda Jatim.
“Surat imbauan Nomor 192/PW-DMI/JTM/IX/2026 tertanggal 21 September 2026 itu menginstruksikan pelaksanaan Sholat Istisqa’ itu sebelum atau sesudah Sholat Jumat pada 25 September 2026,” kata Sekretaris PW DMI Jatim drs H Suhadi.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia akan berlangsung hingga pertengahan atau akhir Oktober 2026 akibat fenomena El-Nino yang berpengaruh hingga awal 2027, karena itu awal hujan diperkirakan November atau Desember 2026. (*/mas)



