Bondowoso, radar96.com — Himpunan Mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Republik Mahasiswa Universitas At-Taqwa Bondowoso menjadikan Training of Commander (TOC) sebagai ruang pembentukan karakter dan etika komunikasi, khususnya bagi kepemimpinan di lingkungan pendidikan Islam.
Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, Jumat-Sabtu, 25-26 September 2026, di Aula Universitas At-Taqwa Bondowoso.
TOC tidak hanya diarahkan untuk membangun kemampuan memimpin, tetapi juga membekali mahasiswa dengan kemampuan berkomunikasi secara santun, cerdas dan profesional. Hal itu menjadi penting karena mahasiswa MPI dipersiapkan untuk memiliki peran dalam pengelolaan lembaga pendidikan.
Salah satu materi yang diberikan dalam kegiatan tersebut yakni “Etika Komunikasi Akademik: Panduan Berinteraksi Santun, Cerdas, dan Profesional Bagi Mahasiswa Baru MPI” yang disampaikan Mohammad Hairul, M.Pd., Kepala SMPN 1 Curahdami.
Mohammad Hairul mengajak mahasiswa memahami bahwa komunikasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kepemimpinan.
“Seorang pemimpin tidak hanya dituntut mampu mengambil keputusan, tetapi juga harus mampu menyampaikan gagasan dan membangun komunikasi dengan orang lain. Karena itu, kemampuan berkomunikasi harus mulai dilatih sejak mahasiswa,” ujar Mohammad Hairul.
Ia menekankan bahwa komunikasi akademik tidak cukup hanya memperhatikan isi pesan. Cara menyampaikan pesan juga menjadi bagian dari etika yang perlu diperhatikan mahasiswa.
“Ilmu yang kita miliki harus disampaikan dengan cara yang baik. Jangan sampai kita merasa paling benar kemudian mengabaikan adab dalam berkomunikasi. Kecerdasan harus berjalan bersama kesantunan,” katanya.
Dalam paparannya, ia menghubungkan prinsip komunikasi dengan nilai-nilai Al-Qur’an melalui konsep “Sinergi Pragmatik dan Adab Al-Qur’an.” Dua prinsip yang menjadi perhatian yakni Qaulan Sadida, berkata jujur, lurus dan benar, serta Qaulan Layyina, menyampaikan sesuatu dengan kelembutan.
“Qaulan Sadida mengingatkan kita agar tidak bermain-main dengan kebenaran, sedangkan Qaulan Layyina mengajarkan bahwa menyampaikan sesuatu yang benar pun harus tetap mempertimbangkan cara dan kondisi orang yang menerima pesan,” jelasnya.
Materi kemudian diarahkan pada praktik sederhana yang dekat dengan kehidupan mahasiswa, salah satunya ketika mengirim pesan kepada dosen. Mahasiswa diingatkan untuk memperhatikan salam, identitas, maksud komunikasi, pilihan bahasa dan ucapan terima kasih.
“Ketika menghubungi dosen, jangan langsung masuk pada kepentingan kita. Awali dengan salam, perkenalkan diri, sampaikan maksud dengan jelas, kemudian hargai waktu dosen. Hal sederhana seperti ini sebenarnya bagian dari pendidikan karakter,” ungkapnya.
Menurut Mohammad Hairul, etika komunikasi juga berkaitan dengan bagaimana mahasiswa memperlakukan orang lain. Prinsip kebijaksanaan, penghargaan, kesederhanaan, permufakatan dan kesimpatian perlu hadir dalam kehidupan akademik.
Perhatian serupa diberikan terhadap aktivitas mahasiswa di ruang digital. Peserta didorong untuk menjaga rekam jejak, tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya dan mampu mengendalikan emosi ketika berinteraksi di media sosial.
“Ruang digital juga merupakan ruang publik. Apa yang kita tulis dan bagikan bisa menjadi rekam jejak. Karena itu, mahasiswa harus berpikir sebelum berbicara, memeriksa informasi sebelum menyebarkannya dan jangan menjadikan media sosial sebagai tempat melampiaskan emosi,” pesannya.
Mohammad Hairul memiliki pengalaman di bidang pendidikan dan literasi. Selain menjabat Kepala SMPN 1 Curahdami, ia tercatat sebagai Instruktur Nasional Literasi Baca-Tulis, Praktisi Mengajar di Universitas Negeri Malang 2025-2026, serta Direktur Pelaksana Penerbit Licensi. Ia juga merupakan penulis novel Bersampul Batik yang terbit April 2026 dan penerima Literacy Awards dari BAZNAS dan Republika.
Rangkaian materi dalam TOC tersebut kemudian mengarah pada tiga prinsip yang ditekankan kepada mahasiswa MPI, yakni Cerdas Akademia, Santun Berbahasa, dan Beradab Islami.
Melalui Training of Commander, HIMA MPI Universitas At-Taqwa Bondowoso menempatkan kepemimpinan bukan hanya sebagai kemampuan mengatur atau mengambil keputusan, tetapi sebagai proses membangun kapasitas diri, menjaga komunikasi dan menghadirkan adab dalam setiap tindakan. (*/Rif)



