By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Kaum Inteligensia Sebagai Sakramen Politik
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > Kaum Inteligensia Sebagai Sakramen Politik
Kolom

Kaum Inteligensia Sebagai Sakramen Politik

11/07/2021 Kolom
Penulis, Andre Vincent Wenas (*/dokpri)
SHARE

Oleh: Andre Vincent Wenas *)

Berpolitik adalah suatu keniscayaan, tidak bisa tidak. Sewaktu kita ngomel-ngomel kenapa listrik byar-pet, kok di kawasan puncak banyak prostitusi yang katanya syariah (hic!), monas gundul, pasar semrawut, trotoar kotor, banyak pungli, harga cabe mahal, dan berbagai macam komplain sehari-hari, kita sesungguhnya sudah dan sedang berpolitik.

Politik, urusan yang menyangkut kepentingan warga. Arti mulanya sangat baik, etis, dan peduli dengan kesejahteraan bersama. Politik, dari kata polis (artinya kota) tempat kita tinggal menetap dan hidup bersama sebagai warga. Warga yang berasal dari bermacam latar belakang dengan bermacam keperluan.

Yang bikin runyam adalah praktek politik yang dikotori dengan perilaku pragmatik dan oportunistik. Egoisme sektarian, dan libido kekuasaan yang luber kemana-mana dalam bentuk kooptasi keberbagai elemen sosial demi melanggengkan hegemoninya.

Praktek politik kotor senantiasa bersembunyi dibalik narasi besar yang seolah nasionalis dan heroik. Tapi itu semua pada instansi terakhirnya hanyalah topeng. Kasak-kusuk dibalik layar besar itulah yang sesungguhnya menggambarkan jati diri mereka sesungguhnya.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa kerap dipakai sebagai tabir yang menutupi hasrat primordialnya, yaitu sila Keuangan Yang Maha Esa. Tampuk kekuasaan hanyalah fasilitas untuk meraup itu dan memuaskan dahaga moneternya. Ketamakan yang laksana minum air laut tak akan pernah puas.

Tercermin dalam politik praktis dalam proses rekrutmen kader partai misalnya. Berani bayar berapa? Adalah pertanyaan primernya.

Politik gelembung (bubble) tanpa esensi keutamaan seperti ini sudah banyak yang pecah, dengan narasi yang akhirnya mengotori ruang-ruang publik. Kasus yang menyangkut korupsi adalah contoh yang paling gamblang.

Untuk mencerna berbagai narasi yang berseliweran di ruang publik bukanlah kerja yang gampang. Disinilah peran kaum inteligensia untuk ambil bagian.

Kaum inteligensia, kaum cendekiawan, kaum intelektual, kaum terpelajar atau apalah sebutannya, adalah mereka yang terpanggil untuk bisa membuka tabir-tabir kebohongan tadi. Untuk menyatakan kebenaran, mengartikulasikan realitas ke dalam narasi tandingan yang mencerahkan. Mereka adalah yang tidak diam walau kerap dipaksa diam.

Sakramen adalah tanda yang terlihat. Tanda yang dapat ditangkap dan dicerna indera dan akal budi. Dan dengan demikian kita pun menyatakan bahwa kaum inteligensi sesungguhnya adalah juga tanda yang terlihat dalam kancah politik. Oleh panggilan sejarah mereka bersedia jadi semacam signal penunjuk arah, terlihat oleh masyarakat awam sekalipun, dan dimengerti. Mereka adalah sakramen politik.

Eddy Kristiyanto, OFM adalah seorang rahib Katolik yang pernah menulis buku “Sakramen Politik, Mempertanggungjawabkan Memoria” (Penerbit Lamalera, 2008). Di buku itu ia menulis:

“Di sini politik menyiratkan kebijakan terorganisasi yang diperlukan untuk mencapai tujuan hidup bersama, yakni bonum commune (kebaikan bersama) yang adil dan merata. Ini semua menunjukan politik mestinya dijunjung tinggi sedemikian rupa sehingga menampakkan apa yang mau dicapai dengannya, juga jelas bagi siapa diperuntukkannya, sekaligus tampak tolok ukur untuk menilai capaian politik.”

Maka oleh karena…

“Begitu pentingnya fungsi dan peran politik dalam hidup berkomunitas, sampai-sampai siapa pun yang menghendaki keselamatan maka berpolitik merupakan keniscayaan. Meminjam istilah dalam perspektif teologi: politik adalah tanda dan sarana penyelamatan!”

Ruang kepedulian pada sesama berada dalam kancah politik. Dan panggilan kaum inteligensia adalah jadi tanda dan sekaligus signal penunjuk arah, to the true north. Seperti kompas yang senantiasa setia mengarah ke utara, dimana setiap kita bisa berorientasi, menjawab pertanyaan dimana kita? Dan mesti kemana kita?

“In absentia lucis, tenebrae vincunt” (in the absent of light, darkness prevails). (*)

*) Penulis (Andre Vincent Wenas) adalah Sekjen Kawal Indonesia – Komunitas Anak Bangsa
*) Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=bXS778PIEBA (5/2/2020)

Iklan.

You Might Also Like

MEMBINCANG PELUANG SUARA, DALAM ARAH KOALISI MUKTAMAR NU KE 35

Membaca Paslon Pimpinan NU di Muktamar NU ke-35

Evaluasi Tanpa Intervensi: Ujian Kemandirian Muktamar NU

PERANG HORMUZ

Mencari Isyarah Langit (Ketum PBNU)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article KH Zainuddin Djazuli Wafat, Gubernur Khofifah: Jatim berduka
Next Article Pasien membeludak, RSUD dr. Soetomo Surabaya “sulap” Kontainer jadi Triage untuk pasien Covid-19

Advertisement



Berita Terbaru

Perkuat Digipreneur, Al Yasmin Hadiri Rakor Rencana Pengembangan Pesantren
Sospol
MEMBINCANG PELUANG SUARA, DALAM ARAH KOALISI MUKTAMAR NU KE 35
Kolom
Membaca Paslon Pimpinan NU di Muktamar NU ke-35
Kolom
Sowan Rektor, Pesantren Digipreneur Al Yasmin Perkuat Kolaborasi dengan UPN “Veteran” Jawa Timur
Sospol

You Might also Like

KolomNahdliyyin

KH Mutawakkil Mengundurkan Diri Dari MUI Jatim

24/04/2026
Kolom

Hardiknas dan Kebangkitan Intelektual Profesor Muslimat NU

24/04/2026
Kolom

Muktamar NU: ABUKTOR—Asal Bukan Koruptor

23/04/2026
Kolom

Kartini Juga Manusia: Ketika Perempuan Kuat Tetap Boleh Lelah

20/04/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?