By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: KH Hasyim Asy’ari Tegur Menantunya soal Hasil Hisab Idul Fitri
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kultural > KH Hasyim Asy’ari Tegur Menantunya soal Hasil Hisab Idul Fitri
Kultural

KH Hasyim Asy’ari Tegur Menantunya soal Hasil Hisab Idul Fitri

15/04/2023 Kultural
Ilustrasi - Rukyatul Hilal (bmkg.go.id)
SHARE

Pondok pesantren telah banyak melahirkan ulama ahli falak yang dapat menghitung masa setiap tahunnya melalui hisab maupun rukyat.

Beberapa literatur kitab klasik (turats) yang membahas detail tentang ilmu falak juga dipelajari di pondok pesantren.

Meskipun mempunyai kepakaran dalam ilmu perhitungan bulan dan matahari, ulama NU dalam wadah Lembaga Falakiyah (tidak pernah menganggap hasil hisab dan rukyatnya sebagai sebuah keputusan, melainkan kabar (ikhbar), karena wilayah keputusan ada di tangan pemerintah yang sah (umara).

Terkait ikhbar tersebut, salah seorang ulama ahli falak, KH Ahmad Ghazalie Masroeri pernah menceritakan kepada Abdul Mun’im DZ (baca Fragmen Sejarah NU, 2017: 117) tentang KH Hasyim Asy’ari yang menegur menantunya KH Maksum Ali, ahli falak.

Kiai Hasyim Asy’ari melakukan teguran terhadap menantunya perihal hasil hisab dan rukyat yang diumumkan sendiri tanpa diserahkan kepada pemerintah yang berwenang untuk mengumumkan.

KH Maksum Ali Jombang, seorang ahli falak yang juga menulis kitab tentang falak. Sudah menjadi kelaziman bagi ahli falak untuk melakukan puasa dan lebaran sesuai hasil hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (observasi/melihat hilal)-nya sendiri.

Pada suatu hari sesuai dengan hasil perhitungannya, Kiai Maksum Ali memutuskan untuk ber-Idul Fitri sendiri yang ditandai dengan menabuh bedug bertalu-talu.

Mendengar keriuhan itu, sang mertua, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari kaget.

Setelah tahu duduk perkaranya, ia menegur, “Hei, bagaimana kau ini, belum saatnya lebaran kok bedug-an duluan?”.

Mendapat teguran dari mertuanya itu Kiai Maksum segera menjawab dengan tawadhu (hormat).
“Inggih (iya) romo kiai, saya melaksanakan Idul Fitri sesuai dengan hasil hisab yang saya yakini ketepatannya”.

“Soal keyakinan ya keyakinan, itu boleh dilaksanakan. Tetapi jangan woro-woro (diumumkan dalam bentuk tabuh bedug) mengajak tetangga segala,” ucap Kiai Hasyim Asy’ari.

“
Tetapi bukankah pengetahuan ini harus diikhbarkan (dikabarkan), Romo?,” tanya Kiai Maksum Ali.

“
Soal keyakinan itu hanya bisa dipakai untuk diri sendiri, dan tabuh bedug itu artinya sudah mengajak dan mengumumkan kepada masyarakat, itu bukan hakmu. Untuk mengumumkan kepastian Idul Fitri itu haknya pemerintah yang sah,” tutur Kiai Hasyim Asy’ari.

“Inggih Romo,” jawab Kiai Maksum setelah menyadari kekhilafannya.

Abdul Mun’im (2017) mencatat, pendirian Kiai Hasyim Asy’ari itu kemudian ditetapkan secara formal dalam Munas Alim Ulama NU di Cipanas, Bogor tahun 1954 bahwa hak isbat diserahkan kepada pemerintah sebagai waliyul amri.

Sedangkan para ulama NU hanya membantu melakukan ikhbar, baik kepada pemerintah maupun kepada masyarakat setelah diumumkan oleh pemerintah. Ini sebagai konsekuensi bagi NU dalam bernegara, yakni menyerahkan sebagian kewenangannya pada pemerintah yang sah.

Di situlah para ulama pesantren berupaya mempraktikkan ajaran dan hukum agama dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena walau bagaimana pun, ulama sebagai warga negara punya kewajiban menaati ulil amri.

Namun demikian, ulama juga mempunyai peran penting dalam mengingatkan dan mengkritik kebijakan penguasa yang mengabaikan kepentingan rakyat.

Di antara ulama falak dari pesantren ialah KHR Ahmad Dahlan Al-Falaki Al Tarmasi (adik kandung Syekh Mahfuzh Al-Tarmasi), KH Turaichan Adjhuri Asy-Syarofi Kudus, KH Maksum Ali Jombang, KHR Ma’mun Nawawi Cibogo-Cibarusah Bekasi, KH Zubair Umar Salatiga, KH Misbachul Munir Magelang, KH Ahmad Ghazalie Masroeri, KH Muhammad Manshur atau Guru Manshur Jakarta, KH Noor Ahmad, KH Ghozali Muhammad, dan lainnya. (*/NUO)

Sumber: https://www.nu.or.id/fragmen/kh-hasyim-asy-ari-tegur-menantunya-soal-hasil-hisab-idul-fitri-K2qJ2

Iklan.

You Might Also Like

38 Tahun IKSASS: Merawat Cinta kepada Kiai, Meneruskan Perjuangan Para Masyayikh

Gus Mujab: Logika Angka itu Menipu Manusia (Al-Humazah)

JKSN Kalsel Dilantik, Kiai Asep Dorong Kemajuan Pesantren seluruh Indonesia

Tim Digitalisasi Turats Ma’had Aly Lirboyo Belajar Pengelolaan Manuskrip pada Lajnah Turats Tebuireng

30 Santri Tebuireng Tembus Universitas Al-Azhar Mesir

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article 8.439 peserta ikuti “Festival Ramadhan Gen-ZI” Masjid Al Akbar Surabaya
Next Article Jatim Raih Silver Champion IEM Regional Award 2023

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

Konfercab III, PA GMNI Bondowoso Berganti Kepemimpinan dengan Tekankan Soliditas
Sospol
SAPA AIDS, Upaya FKM UNAIR Membangun Literasi HIV Remaja dan Stigma ODHA di Klumutan
Milenial
Bupati Hamid Dorong Potensi Desa Bondowoso Naik Kelas Lewat Platform Digital
Ekraf
300 Anggota Baru Ikuti “Remas Camp 2026” di Masjid Al Akbar Surabaya
Milenial

You Might also Like

Kultural

Kajian Senja Al-Yasmin, Gus Mujab: Haji itu soal Panggilan dan Mampu

14/05/2026
Kultural

Kajian Senja Al-Yasmin, Gus Mujab Ungkap 3 Alasan “Lailatulqadar” Dirahasiakan

12/03/2026
Kultural

KH A Muzakky Al Hafidz: Jika Diuji Allah Berarti Disayangi

26/02/2026
Kultural

Gus Mujab Jelaskan Lima Indikator “Kebahagiaan Sejati”

13/02/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?