By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Mulanya Tidak Tertarik, Akhirnya Malah Jatuh Cinta pada Profesi Bidan
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Milenial > Mulanya Tidak Tertarik, Akhirnya Malah Jatuh Cinta pada Profesi Bidan
Milenial

Mulanya Tidak Tertarik, Akhirnya Malah Jatuh Cinta pada Profesi Bidan

21/10/2024
Savitri Zuhilda
SHARE

Surabaya, radar96.com – Menjadi seorang bidan awalnya tidak pernah terlintas dalam pikiran Savitri Zuhilda, seorang bidan yang baru saja diambil sumpahnya dalam acara Sumpah Profesi Bidan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Kamis (17/10/). Perjalanan Savitri menuju profesi ini ternyata tidak dimulai dengan minat atau keinginan pribadi yang kuat, melainkan bermula dari dorongan orangtuanya.

“Ibu saya seorang bidan, tapi sejujurnya dulu saya punya passion sendiri, ingin masuk kuliah ke jurusan teknologi pangan. Setelah lulus SMA saat itu sempat gap year, akhirnya orangtua saya yang mendorong saya untuk masuk ke program studi kebidanan,” kata Savitri mengenang awal perjalanannya di dunia kebidanan.

Perempuan asal Bima, Nusa Tenggara Barat itu turut menceritakan bahwa meski pada awalnya merasa ragu dan kurang tertarik, ia tetap menjalani perkuliahan dengan dedikasi maksimal.

“Awal kuliah bisa dibilang berat, ada keraguan juga bisa apa enggak. Jadi waktu kuliah S1 Bidan saya menjalani seadanya. Tapi ketika memutuskan lanjut profesi bidan, di situ titik baliknya hingga saya punya ambisi tinggi dan ingin membayar apa yang kurang maksimal dulu ketika S1,” tukasnya.

Momen yang mengubah hidupnya adalah ketika ia mulai menjalani praktik lapangan, terutama saat ia terjun langsung membantu proses persalinan. Pada momen itulah Savitri merasakan secara nyata peran penting bidan dalam menjaga kesehatan ibu dan bayi yang baru lahir.

“Saya ingat saat pertama kali terlibat langsung dalam proses persalinan. Ada perasaan bangga tersendiri bisa membantu seorang ibu berjuang dalam persalinan, dan bayinya selamat. Di situ saya berpikir betapa keren dan mulianya profesi ini dan saya mulai mencintai profesi ini sepenuhnya,” ungkap Savitri dengan penuh haru.

Tekadnya itu berhasil mengantarkan Savitri lulus dengan IPK 4.00, dan seiring berjalannya waktu, ia mulai menumbuhkan cinta dan rasa tanggung jawab terhadap profesinya. Savitri mulai menganggap profesi bidan sebagai jalan hidup yang benar-benar ingin ia tekuni.

Anak ketiga dari empat bersaudara itu mengungkapkan bahwa keragu-raguannya juga yang membawa dirinya terbang dari Bima ke Surabaya untuk menuntut ilmu. “Ketika saya memutuskan untuk mau studi di kebidanan, di situ saya juga bertekad ingin sekolah di luar pulau saja. Saya berpikir, saya harus mengembangkan diri lebih maksimal di tempat yang lebih juga, dan dari situ saya search di internet dan muncullah Unusa pertama kali yang akhirnya menjadi tujuan saya sampai saat ini,” ujarnya.

Saat ditanya apa motivasi terbesarnya untuk merantau, ia menceritakan bahwa kondisi penanganan permasalahan ibu dan bayi di daerah Bima masih perlu perhatian serius. Keberadaan jumlah bidan di Bima terbilang cukup banyak, namun angka kematian yang terjadi juga terbilang masih cukup tinggi.

“Bidan di Bima itu cukup banyak, tapi untuk penanganan lebih dalam terhadap persoalan ibu dan bayi masih kurang. Di sana pemantauannya belum menyeluruh bahkan minim, pemanfaatan kadernya terbilang belum maksimal, beda jika saya melihat di Surabaya, kita bisa memantau risiko dan melihat perkembangan ibu dan bayi sangat mudah,” ujar perempuan kelahiran Bima, 10 November 2000 itu.

Hal tersebut akhirnya menjadi dorongan kuat Savitri ke depannya untuk kembali ke daerah asalnya. “Setelah lulus profesi ini, saya ingin bekerja dulu menjadi bidan di Surabaya untuk sementara waktu. Saya ingin memperkaya pengalaman dan wawasan dulu di sini, yang akhirnya nanti bisa saya bawa pulang ke Bima dan membuka praktik sendiri di sana, juga bisa memberikan sistem pelayanan lebih baik,” ujarnya.

Kini, setelah resmi diambil sumpah sebagai bidan, Savitri siap untuk mengabdikan dirinya dalam dunia kesehatan, khususnya dalam bidang kebidanan. Ia berharap dapat berkontribusi dalam membantu lebih banyak perempuan melalui masa-masa penting dalam hidup mereka, yaitu proses persalinan.

“Sekarang saya merasa sangat bersyukur bahwa orangtua saya mendorong saya ke arah yang benar. Saya juga bersyukur bisa menjalani kuliah di Unusa, yang telah memberikan saya banyak ilmu dan pengalaman berharga,” tambahnya.

Pengambilan sumpah Savitri ini menandai dimulainya babak baru dalam hidupnya sebagai seorang bidan profesional. Kisahnya membuktikan bahwa melalui pengalaman dan kesempatan, kita dapat menemukan panggilan hati kita yang sebenarnya. Savitri berharap agar pengalamannya ini dapat memberikan inspirasi bagi mahasiswa lainnya yang sedang mencari jalan hidup mereka.

Iklan.

You Might Also Like

Seminar Politik Penyiaran Media di Stikosa-AWS
Pertama di Dunia, 250 channel YouTube siarkan Haul Emas KH Abd Wahab Chasbullah
Makin Cakap Digital, Mahasiswa Stikosa-AWS Dibekali Ilmu Forensik Digital
MA IPNU minta IPNU Jatim satu suara dalam Kongres XX di Jakarta
849 Siswa TK-SMA “Khadijah” Surabaya Lulus Uji Kompetensi Al-Qur’an
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Hari Santri 2024, PCNU Surabaya berangkatkan jamaah umroh HSN
Next Article Hari Santri, PCNU Surabaya Pentaskan Drama Kolosal “Resolusi Jihad NU” di Tugu Pahlawan

Advertisement

Iklan.

Iklan.

Berita Terbaru

LAZISNU PCNU Sidoarjo Dukung Dana Pembangunan Rumah Anggota Banser
Nahdliyyin
Menteri ATR/BPN Serahkan 2.532 sertipikat tanah wakaf rumah ibadah di Masjid Al-Akbar
Sospol
LPT UNAIR Targetkan Inovasi Berimpak Nasional-Global
Sospol
Ketua PWNU Jatim: Modal Utama NU adalah Silaturrahmi dan Tradisi
Nahdliyyin

You Might also Like

Milenial

MA IPNU Jatim gagas yayasan untuk biaya studi lanjut khusus kader

10/10/2021
Milenial

Pelepasan Program PMM Unusa Diwarnai Nuansa Kebhinnekaan

05/01/2024
Milenial

Jurnal Raih Indeksasi Scopus, Bukti Unusa Jaga Mutu Pendidikan

17/10/2023
Milenial

Unusa Terima Apresiasi dari Infinite Learning, Berkat Tiga Mahasiswanya Lolos Sertifikasi Internasional

28/05/2024
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?