Surabaya, radar96.com — Sebanyak 35 pengurus PW dan PC ISNU se-Jawa Timur mengikuti pelatihan dan uji kompetensi Juru Sembelih Halal yang diselenggarakan selama 2 hari di Surabaya, Minggu, 3 Mei 2026.
Sekretaris PW ISNU Jatim, Muhammad Dawud menjelaskan, pelatihan dan uji kompetensi Juru Sembelih Halal yang digelar di Surabaya Suites Hotel itu bertujuan untuk menyiapkan SDM sarjana NU yang akan terjun dalam salah satu mata rantai industri halal.
Sejak Sabtu pagi hingga Minggu sore, para pengurus ISNU yang memiliki ketertarikan dan passion dalam penyembelihan hewan ditempa dengan berbagai materi seputar penyembelihan hewan, dan melakukan praktik penyembelihan hewan di RPH Pegirian Surabaya.



“Kami menjaring para peserta dari kabupaten dan kota se-Jawa Timur untuk keperluan mendapatkan juru sembelih halal yang profesional. Dan alhamdulillah, oleh para asesor BNSP para peserta dinyatakan kompeten,” Ungkap pengajar Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember ini.
Dawud menuturkan, di tengah euforia sertifikasi produk, terjadi kesenjangan kritis di sektor hulu rantai pasok halal, yaitu ketersediaan Juru Sembelih Halal yang kompeten dan tersertifikasi. Data BPJPH dan Kementerian Pertanian mencatat bahwa kebutuhan nasional terhadap Juru sembelih halal tersertifikasi mencapai puluhan ribu orang, sementara yang tersedia saat ini masih sangat terbatas. Padahal, kehalalan produk pangan hewani (daging, olahan susu, bakso, sosis, dll) sangat ditentukan pada momen penyembelihan itu sendiri. Sehebat apapun proses produksi, jika penyembelihan tidak memenuhi syariat dan standar teknis, produk tersebut tidak dapat disertifikasi halal.
Selain bertujuan untuk mencetak kader-kader NU yang bukan hanya paham fikih tradisional, upaya ini adalah investasi jangka panjang bagi NU untuk memiliki in-house competency di bidang jaminan produk halal.
Salah satu ulama yang menjadi narasumber acara adalah KH Ma’ruf Khozin. Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Suramadu ini menyambut baik upaya PW ISNU Jawa Timur dalam berperan serta di mata rantai industri halal. Menurut kyai yang juga Pengurus MUI Jawa Timur ini sudah saatnya warga NU ikut serta terlibat secara aktif dalam industri halal, bukan hanya sebagai penonton dan konsumen saja.
Menurutnya, ISNU Jatim bisa menggapai para juru sembelih hewan, baik sapi, kambing maupun unggas yang belum memiliki sertifikasi juru sembelih halal untuk ikut serta dalam memastikan bahan-bahan konsumsi masyarakat yang berupa daging benar-benar halal dan baik.
“ISNU bisa menggapai kepada lapisan masyarakat yang paling bawah yang kebanyakan warga nahdliyin. Sehingga masyarakat tidak ragu lagi terhadap daging-daging dan ayam yang dijual di pasar terkait kehalalannya,” tegas Kyai Muda yang pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Fatwa MUI Jawa Timur ini.
ISNU, kata kyai Ma’ruf Khozin, tidak bisa lagi hanya bergerak di bidang dakwah dan pendidikan. ISNU harus masuk ke dalam rantai nilai industri halal secara profesional dan sistematis.
Sebelumnya, ISNU Jatim telah menorehkan perolehan sertifkat halal untuk pelaku usaha mikro dan kecil dengan jumlah sekitar 200 ribu sertifikat halal. Upaya-upaya penguatan Ekosistem Halal dari Hulu ke Hilir terus dilakukan ISNU Jawa Timur, diantaranya melalui Lembaga Solusi Halal (LSH) ISNU yang telah menjadi pendamping proses produk halal (P3H) resmi. Kini, ISNU Jatim melengkapi kapasitasnya di sektor hulu. Juru sembelih halal yang tersertifikasi adalah mata rantai pertama dan paling krusial.



