Bondowoso, radar96.com – Di tengah deretan ternak unggulan yang dipamerkan dalam “Ekspo Peternakan dan Kontes Ternak (Exponak) Bondowoso 2026”, seekor domba berpostur besar bernama Domba Sumo sukses mencuri perhatian pengunjung. Domba hasil persilangan tersebut menjadi salah satu objek yang paling banyak didatangi masyarakat di Pasar Hewan Terpadu Selolembu, Kecamatan Curahdami.
Tidak sedikit pengunjung yang berhenti untuk melihat lebih dekat bentuk fisik Domba Sumo yang berbeda dari kebanyakan domba yang selama ini dikenal masyarakat. Tubuhnya yang besar, padat, dan kekar membuat ternak tersebut menjadi daya tarik tersendiri selama pelaksanaan expo.
Domba Sumo merupakan hasil pengembangan Komunitas Peternak Domba Milenial Wripa Wringin Pakem. Ternak tersebut lahir dari proses persilangan antara domba Suffolk F1 dan Texel F1 yang dilakukan oleh para peternak muda sebagai bagian dari eksperimen pengembangan genetika ternak.
Sunjoyo, anggota komunitas peternak milenial tersebut, menjelaskan proses persilangan dilakukan untuk menghasilkan karakter ternak yang memiliki ukuran tubuh lebih besar serta potensi pengembangan yang menjanjikan.
“Kita dari peternak domba milenial melakukan eksperimen persilangan antara Suffolk F1 dan Texel F1. Hasilnya kemudian menjadi seperti ini dan kami beri nama Domba Sumo,” ujarnya.
Nama Sumo dipilih karena karakteristik fisiknya yang besar dan kokoh. Julukan tersebut dianggap mewakili bentuk tubuh domba hasil persilangan yang tampak lebih berisi dibandingkan jenis domba lainnya.
Menariknya, meskipun baru berusia sekitar 6 bulan 9 hari, Domba Sumo telah menunjukkan pertumbuhan yang cukup pesat. Ukuran tubuhnya yang besar membuat banyak peternak tertarik mengetahui lebih jauh pola pemeliharaan dan proses persilangan yang dilakukan.
Bagi komunitas peternak muda Wripa Wringin Pakem, Domba Sumo bukan sekadar hasil persilangan biasa. Hewan tersebut menjadi simbol kreativitas dan keberanian peternak muda dalam melakukan inovasi di sektor peternakan.
“Kebetulan untuk jenis yang ini masih tergolong langka. Tujuan kami mengembangkan hasil eksperimen dari persilangan ini agar nantinya bisa menjadi salah satu alternatif pengembangan ternak domba yang memiliki kualitas lebih baik,” kata Sunjoyo.
Menurutnya, hingga saat ini komunitas peternak belum menemukan hasil persilangan dengan karakteristik serupa di daerah lain. Karena itu, keberadaan Domba Sumo diyakini memiliki nilai keunikan tersendiri dibandingkan dengan domba hasil persilangan yang sudah umum dikenal masyarakat.
“Hasil eksperimen ini kemungkinan besar hanya ada satu di Bondowoso, bahkan mungkin di Indonesia. Kami sudah mencoba mencari referensi dan belum menemukan domba dengan karakter persilangan seperti ini. Karena itu kami menyebutnya sebagai hasil eksperimen murni dari komunitas kami,” ungkapnya.
Meski masih membutuhkan pengembangan dan pengamatan lebih lanjut, Domba Sumo mulai dikenal sebagai salah satu hasil inovasi peternak lokal yang mampu menunjukkan potensi besar dalam dunia peternakan daerah.
Keikutsertaan Domba Sumo dalam Exponak Bondowoso 2026 sekaligus menjadi bukti bahwa inovasi tidak hanya lahir dari lembaga penelitian atau perusahaan besar, tetapi juga dapat tumbuh dari semangat para peternak muda di desa-desa yang terus berupaya mengembangkan kualitas ternak mereka.
“Harapan kami ke depan pemerintah daerah terus mengadakan kegiatan expo seperti ini. Karena di sinilah ajang bagi peternak untuk memperkenalkan hasil ternaknya sekaligus memotivasi kami untuk terus berinovasi dan mengembangkan peternakan yang lebih baik,” pungkas Sunjoyo.
Ayam Sensi Agrinak
Berbagai inovasi dan potensi peternakan daerah diperkenalkan dalam gelaran Ekspo Peternakan dan Kontes Ternak (Exponak) Bondowoso 2026 yang berlangsung di Pasar Hewan Terpadu Selolembu, Kecamatan Curahdami, Rabu (24/6/2026).

Selain menampilkan ternak sapi, kambing, dan domba unggulan, kegiatan tersebut juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat melalui pameran berbagai jenis unggas lokal, salah satunya Ayam Sensi Agrinak.
Ayam Sensi Agrinak dipamerkan oleh Cafe Ternak Bondowoso sebagai salah satu galur ayam lokal hasil pemuliaan yang dinilai memiliki prospek baik untuk dikembangkan sebagai ayam pedaging.
Keberadaannya di area pameran cukup menarik perhatian pengunjung yang ingin mengetahui lebih jauh karakteristik dan keunggulan ayam lokal tersebut.
Dengan bulu dominan berwarna putih dan postur tubuh yang relatif lebih besar dibandingkan ayam kampung pada umumnya, Ayam Sensi Agrinak menjadi salah satu unggas yang banyak diamati oleh masyarakat selama pelaksanaan expo.
Alfian Dwi Nugraha, mahasiswa semester akhir Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Jember Kampus Bondowoso selaku pendamping pameran, menjelaskan Ayam Sensi Agrinak merupakan galur murni hasil seleksi yang dikembangkan untuk meningkatkan performa ayam lokal Indonesia.
Menurutnya, proses seleksi dilakukan agar ayam lokal memiliki kemampuan tumbuh yang baik dan mampu bersaing dengan berbagai jenis ayam yang selama ini banyak dikembangkan dari luar negeri.
“Kalau dari Sensi Agrinak sendiri, keunikannya dibanding ayam yang lain karena merupakan galur murni hasil seleksi. Posturnya lebih besar dan memiliki warna putih yang menjadi ciri khas tersendiri,” kata Alfian.
Ia menilai keberadaan Ayam Sensi Agrinak menjadi bukti bahwa ayam lokal Indonesia memiliki potensi yang tidak kalah dibandingkan galur ayam dari luar negeri apabila dikembangkan melalui proses pemuliaan yang tepat.
“Ayam lokal tidak kalah dengan ayam luar. Karena itu dilakukan seleksi agar ternak ini memiliki performa yang unggul dan mampu bersaing dengan berbagai jenis ayam yang berasal dari luar negeri,” ujarnya.
Berdasarkan informasi yang dipamerkan, Ayam Sensi Agrinak merupakan singkatan dari Sentul Terseleksi Agrinak, yaitu hasil pemuliaan ayam Sentul yang telah ditetapkan sebagai galur unggul nasional melalui Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 39/Kpts/PK.020/F/01/2017.
Sebagai ayam pedaging lokal, Sensi Agrinak memiliki performa pertumbuhan yang cukup baik. Pada umur 10 minggu, ayam jantan memiliki bobot hidup rata-rata sekitar 1.066 gram per ekor, sedangkan ayam betina mencapai sekitar 745 gram per ekor.
Selain memiliki potensi sebagai ayam pedaging, galur ini juga mempunyai kemampuan produksi telur yang cukup baik dengan produksi puncak mencapai sekitar 61,98 persen dan bobot telur rata-rata sekitar 40 gram per butir.
Ayam yang dipamerkan dalam Exponak Bondowoso kali ini berusia sekitar 1 bulan lebih 3 minggu atau mendekati 2 bulan. Pada usia tersebut, pertumbuhan tubuhnya mulai memperlihatkan karakter khas sebagai ayam pedaging lokal unggulan.
Menurut Alfian, masyarakat lebih banyak memanfaatkan Ayam Sensi Agrinak sebagai ayam konsumsi karena pertumbuhan tubuhnya yang relatif cepat dan ukuran badan yang lebih besar dibandingkan ayam lokal biasa.
“Kalau untuk pemanfaatannya, rata-rata lebih banyak untuk konsumsi atau pedaging. Produksi telurnya ada, tetapi memang lebih dominan dikembangkan sebagai ayam pedaging,” jelasnya.
Dalam proses budidaya, Cafe Ternak Bondowoso menggunakan pakan pabrikan yang dianggap lebih praktis dan efisien. Selain memudahkan manajemen pemeliharaan, penggunaan pakan tersebut juga dinilai mampu menjaga kestabilan pertumbuhan ternak.
Cafe Ternak Bondowoso yang berlokasi di Desa Poncogati, Kecamatan Curahdami, selama ini tidak hanya menyediakan kebutuhan pertanian dan peternakan, tetapi juga aktif melakukan budidaya berbagai jenis ternak sebagai sarana edukasi dan pengembangan usaha peternakan masyarakat.
Usaha tersebut didirikan oleh Dr. Ir. Nur Widodo, S.Pt., M.Sc, dosen Universitas Jember yang turut mengembangkan sektor peternakan dan pertanian di Bondowoso.
Melalui pameran Exponak 2026, pihaknya berharap Ayam Sensi Agrinak semakin dikenal sebagai salah satu ayam pedaging lokal unggulan yang memiliki potensi ekonomi sekaligus menjadi bukti bahwa hasil pemuliaan unggas dalam negeri mampu bersaing dan berkembang di tengah industri peternakan modern. (*/Rif)



