By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: PBNU Perkuat Posisi Ulama/Syuriah di Era Digital dengan PPWK
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Nahdliyyin > PBNU Perkuat Posisi Ulama/Syuriah di Era Digital dengan PPWK
Nahdliyyin

PBNU Perkuat Posisi Ulama/Syuriah di Era Digital dengan PPWK

18/07/2025 Nahdliyyin
SHARE

Surabaya, radar96.com – PBNU memberi penguatan peran Syuriah/ulama di Era Digital dengan mengadakan Pendidikan Pengembangan Wawasan Keulamaan (PPWK) perdana di Surabaya pada 17-20 Juli 2025, karena syuriah/ulama selama 3-4 dekade terakhir hanya menjadi “stempel” NU, padahal NU berdiri pada 31 Januari 1926 sebagai organisasi para ulama.

“Era digital justru memungkinkan pertengkaran sesama NU seperti agama kurang berperan, jadi perang digital mudah terjadi di lingkungan yang berjumlah besar, karena itu PPWK harus bisa menjawab bagaimana NU bisa menyatukan jamaah NU politisi, birokrasi, akademisi, grass root, dan pesantren di bawah komando ulama/NU,” kata Wakil Rais Syuriah PBNU KH Anwar Iskandar saat membuka PPWK di Surabaya, Kamis malam.

Dalam pembukaan di Pesantren Miftachussunnah, Kedungtarukan, Surabaya yang dihadiri Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Katib Aam PBNU KH Ahmad Said Asrori, dan Prof Mohammad Nuh (Ketua Panitia), KH Anwar Mansur mengutip “spirit” KH Imron Hamzah (Rois Syuriah PWNU Jatim 1992-2002/Rais Syuriah PBNU 1999-2004) yang akan mengikuti/mengutamakan pendapat NU, meski berbeda dengan pendapatnya.

“Seharusnya begitu, jangan curiga dulu, karena apapun keputusan NU itu tentu sudah melalui musyawarah para ulama dari berbagai sudut pandang yang mungkin tidak kita ketahui. Jadi, mudzakarah PBNU melalui PPWK yang diadakan perdana di Surabaya dengan diikuti 64 ulama dari PBNU, Jawa, Lampung, dan NTB untuk penguatan peran syuriah itu strategis untuk peran NU di era perang digital,” katanya.

Hal itu juga ditekankan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dalam sambutannya. “Kalau kita baca Qonun Asasi NU yang dirumuskan muassis NU Hadratussyeikh KHM Hasyim Asy’ari itu sudah jelas bahwa NU itu memanggil ulama untuk menghadapi perubahan peradaban, jadi pemilik NU itu ulama, sedangkan non-ulama itu hanya pengikut dan bukan pemilik,” katanya.

Menurut Gus Yahya, posisi ulama dalam Qonun Asasi itu masih terjaga selama kepemimpinan tiga muassis NU sebagai syuriah yakni KHM Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri, namun mulai ada perubahan pada era KH Ma’shum Ali (Rais Aam PBNU 1981-1984), karena KH Ma’shum Ali memang murni dari pesantren dan tidak pernah berproses di organisasi.

“Apalagi, Ketua Umum PBNU saat itu adalah KH Idham Chalid, apalagi kemudian ada Gus Dur, sehingga syuriah pun tenggelam perannya, bahkan NU juga mengalami ‘banjir’ sarjana. Itu berbeda dengan Rais Aam Syuriah PBNU KH Miftachul Akhyar sekarang yang selain dari pesantren juga berproses di NU sejak ranting, MWC, cabang/PCNU, wilayah/PWNU, hingga PBNU,” katanya.

Oleh karena itu, PPWK menjadi konsep pengembangan wawasan ulama yang penting untuk NU, apalagi sebaran kader ulama di NU saat ini juga belum merata, seperti PCNU di Mentawai, Timika, Manggarai Barat, Papua Pegunungan yang tidak ada syuriah-nya, sehingga peran ulama pun tidak terlihat.

Dalam kesempatan itu, Ketua Panitia PPWK Prof DR H Mohammad Nuh DEA menjelaskan PPWK perdana yang diadakan PBNU periode 2022-2027 itu memang bertujuan meningkatkan kapasitas kader/ulama dengan narasumber PPWK, seperti KH Ma’ruf Amin (Wapres 2019-2024/Rais Aam PBNU 2015-2018), Prof KH Nazaruddin Umar (Menag 2024-2029/Rais Syuriah PBNU 2022-2027), KH Mustofa Bisri (Gus Mus/Rais Aam PBNU 2014-2015), dan KH Said Aqil Sirodj (Ketua Umum PBNU 2010-2021).

“PPWK itu bukan sekadar pelatihan, tapi menyajikan dialektika antara logika ala Nabi Musa dengan wisdom ala Nabi Khidzir, karena ulama itu memang bukan hanya teknis, tapi juga terampil dalam memadukan dua layanan NU yakni layanan keagamaan yang memang sudah paten dan layanan non-keagamaan yang hasil riset Alvara menunjukkan kebutuhan jamaah NU (di luar keagamaan) adalah tiga hal penting yakni kesehatan 31,6 persen, pendidikan 26 persen, dan ekonomi 23,3 persen,” katanya.

Secara teknis, metode PPWK adalah interaktif, Focus Group Discussion (FGD), simulasi kepemimpinan, studi kasus nyata, kajian jejaring lintas wilayah dan generasi. “Jadi, kader ulama yang ditargetkan dari PPWK itu tidak hanya berbasis ilmu agama, tetapi juga memperhatikan kebutuhan sosial dan respons terhadap isu-isu kebangsaan dan global,” katanya. (*/fpnu)

Iklan.

You Might Also Like

Waketum PP ISNU Prof Mas’ud Said Lantik 95 Pengurus Baru ISNU Blitar

Siap Diajak Diskusi, ISNU Jatim: Penutupan Prodi Kependidikan Tidak Boleh Tergesa-gesa

Pasangan KH Mahmud Markatam dan H Fathul Ibad Kembali Pimpin MWCNU Sukodono, Siap Optimalkan Lembaga dan Khidmat Nahdliyin

Pesantren Digipreneur Al-Yasmin Surabaya jadi tempat uji kompetensi bagi tour leader internasional

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng PWNU Jatim untuk Perlindungan Pekerja Informal

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Konsul Jenderal Jepang di Surabaya Apresiasi “Mini Soccer” Masjid Al-Akbar Surabaya
Next Article Jatim Tercepat Bentuk Koperasi Merah Putih, Gubernur Khofifah Tekankan Sinergi Unit Usaha KMP dengan UKM

Advertisement



Berita Terbaru

Waketum PP ISNU Prof Mas’ud Said Lantik 95 Pengurus Baru ISNU Blitar
Nahdliyyin
Imam Masjid Al-Akbar: Haji adalah Miniatur Kehidupan
Sospol
Masjid Al-Akbar Surabaya Kembangkan “Bioflok Ikan” berbasis Teknologi RAS
Sospol
Perkuat Digipreneur, Al Yasmin Hadiri Rakor Rencana Pengembangan Pesantren
Sospol

You Might also Like

KolomNahdliyyin

KH Mutawakkil Mengundurkan Diri Dari MUI Jatim

24/04/2026
Nahdliyyin

Gus Kikin Hadiri Tahlil Hari Ketujuh KH Moch Chisni Umar Burhan di Gresik

23/04/2026
Nahdliyyin

Hari Bumi, Pokja Perhutanan Sosial PWNU Jatim Ajak Warga NU Rawat Jagat, Lestarikan Hutan

23/04/2026
Nahdliyyin

LAZISNU se-Jatim Kelola Rp208 Miliar Dana ZIS selama Ramadhan 1447 H

21/04/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?