Surabaya (YASMIN/radar96.com) — Pengasuh Pesantren Darut Ta’lim an-Nawawi, Ampel, Surabaya, KH Ahmad Mujab Muthohar (Gus Mujab) mengungkapkan lima indikator “Real Happiness” (Kebahagian Sejati).
“Indikator Bahagia Sejati itu ada lima indikator dengan indikator utama adalah qolbun syakir (hati yang selalu bersyukur) dan az-zaujatus sholihah (pasangan/keluarga yang baik/saleh/sholihah),” katanya.
Dalam Kajian Senja yang dihadiri puluhan orang dari jamaah ibu-ibu di Ballroom Pesantren Digipreneur Al-Yasmin, Surabaya, Rabu (11/2), ia menambahkan tiga indikator berikutnya adalah anak, lingkungan (cyrcle), dan keberkahan umur.

Gus Mujab menjelaskan semua orang pasti ingin bahagia. “Semua orang dari profesi apapun pasti ingin bahagia, baik petani, pedagang, ASN, pengusaha, dosen, guru, dosen, kiai, ustadz, tokoh masyarakat, bupati, gubernur, maupun presiden,” katanya dalam Kajian Senja bertema ‘Real Happiness’ (Kebahagian Sejati) yang dipandu Citta Helmy itu.
Namun, kebahagiaan dalam hidup itu semu, karena penilaian tentang bahagia itu benar-benar subyektif. “Ada yang bilang bahagia itu pas ngopi, tapi ada yang anggap ngopi itu biasa. Ada yang bilang bahagia kalau pas ada di rumah, duduk berdua dengan pasangan dan keluarga, lalu ada sajian teh dan kopi, tapi ada yang bilang bahagia itu kalau ada duit,” katanya.
Sebaliknya, ada pengusaha yang sedang buka pabrik di Ngoro, Mojokerto, Jatim justru kebahagian itu terletak pada kesehatan. “Walau saya dipegangi uang miliaran, tapi kalau sakit ya nggak ada artinya. Jadi, arti kebahagiaan itu setiap orang belum tentu sama,” katanya.

Bahkan, konsep kebahagiaan itu bisa mengalami tahapan waktu. “Ketika awal menikah, bisa mandiri, dan berpisah dari orang tua itu dinilai kebahagiaan, tapi hanya selang 2 tahun mulai kecewa, karena konsep kebahagiaan menjadi hilang atau berubah dengan mempunyai anak menjadi harapannya untuk bisa kontrak rumah, lalu kebahagiaan bisa berubah lagi menjadi ingin punya rumah atau vila sendiri, punya gaji atau jabatan pun ingin naik,” katanya, memberi contoh.
Menurut Gus Mujab, perubahan dalam kebahagiaan duniawi itu disinggung dalam Al Quran yakni Surah At-Takatsur. “Al-Qur’an Surah At-Takatsur menyebut bahwa karakter manusia itu berubah-ubah dalam kebanggaan terhadap duniawi dan hal itu baru akan berhenti sampai manusia masuk ke dalam kubur,” katanya.
Lantas, standar “Real Happiness” itu apa ? “Standar itu disebut Allah dalam Al-Qur’an Surah An-Nahl ayat 97, yakni siapapun yang mengerjakan kebaikan/kesalehan dan dalam kondisi mukmin/beriman, maka Allah pasti aka memberikan kehidupan yang lebih dan pahala yang lebih baik pula,” katanya.
Jadi, esensi kebahagiaan itu ada dua poin yakni semua didasari keimanan dan melakukan kebaikan. “Ya, rumus bahagia itu iman dan amal saleh. Iman itu meyakini Allah itu pencipta kita, pemberi rezeki kita, pemberi dan penahan rezeki, pengangkat dan penurun derajat, yang sempitkan dan luaskan rezeki,” katanya.
Menurut dia, pelajaran penting dari Surah At-Takatsur dan An-Nahl itu mengajarkan indikator “Real Happiness” itu ada lima indikator yakni qolbun syakir/bersyukur, pasangan yang baik, anak, lingkungan, dan keberkahan umur.
“Qolbun syakir adalah hati yang bersyukur, merasa puas, dan ridha/menerima. Punya uang Rp100 miliar tapi tidak qonaah (merasa cukup dengan apa yang ada) ya kurang terus, nggak ada puas, meski punya uang, ketampanan, jabatan, semuanya ada masanya dan baru selesai bila mati,” katanya.
Oleh karena itu, para ulama menyatakan dunia itu mirip penjara bagi orang beriman. “Imam Ghazali menyebut manusia itu aneh, misalnya umurnya 60 tahun tapi nggak mikir kehidupan abadi, kita bisa menikmati hidup itu berapa lama. Umur 60 tahun dengan durasi waktu 24 jam, itu tidurnya 8 jam, atau 1/3. Artinya, kalau usia 60 tahun berarti 20 tahun tidur, 20 tahun kerja, menikmati hanya 20 tahun,” katanya.
Bahkan, menikmati hidup selama 20 tahun itu pun kalau terpapar penyakit juga nggak bisa menikmati. “Lho, kenapa kehidupan yang sependek itu kok dibela daripada akhirat yang lebih baik. Kalau hidup dibela mati-matian sampai dengan korupsi pun akan diungkit-ungkit, apa enaknya,” katanya.
Oleh karena itu, Imam Ghazali menyatakan orang yang mau bahagia itu akan memikirkan kehidupan yang abadi, apakah neraka atau surga. “Jadi, kebahagiaan sejati bersumber pada qolbun syakir (hatinya bersyukur),” katanya.
Kedua, indikator kebahagiaan sejati adalah “az-zaujatus sholihah” atau pasangan hidup yang baik/saleh/sholihah. “Al-Qur’an Surah Al-Qashas ayat 77 menyatakan carilah akhirat, tapi jangan melupakan bagianmu di dunia, berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik, jangan berbuat kerusakan,” katanya.
Indikator ketiga adalah anak. “Anak disebut Al-Qur’an dengan tiga sebutan yakni fitnah/ujian, perhiasan/nilai, dan qurrota ayun (menyenangkan bila dipandang),” katanya.
Indikator keempat adalah lingkungan (cyrcle) dan indikator kelima adalah keberkahan umur. “Lingkungan dan umur yang berkah itu juga menentukan kualitas hidup, apakah baik atau tidak, apakah manfaat atau tidak,” katanya.
Namun, katanya, semua indikator kebahagiaan sejati itu tetap harus dipandang sebagai “jembatan” menuju keabadian/akhirat, karena Allah sudah mengingatkan manusia dalam Al-Qur’an Surah An-Nahl ayat 96 tentang “jembatan” itu.
“Al-Qur’an Surah An-Nahl ayat 96 sudah mengindikasikan bahwa apa yang di sisi kita (dunia) itu akan lenyap dan apa yang di sisi Allah (akhirat) itu kekal. Begitulah hidup itu, karena itu pastikan untuk selalu bersyukur dan baik, agar beruntung dalam keabadian (surga), bukan rugi dalam keabadian (neraka). Kalau baik dan benar ya jalan saja, meski dicibir,” katanya. (*/yasmin)



