Surabaya, radar96.com – Pengamat sejarah, dosen pascasarjana UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, dan pengurus PW LTNU Jatim DR Wasid Mansyur menyatakan lokasi kelahiran tokoh GP Ansor dan Persatuan Tani NU (Pertanu) KH Abdul Fattah Yasin membuktikan Kampung Kawatan, Surabaya sebagai Kampung Sejarah.
“Tidak hanya KH Abdul Fattah Yasin, tapi Kampung Sejarah itu melahirkan tokoh-tokoh NU seperti KH Mas Alwi bin Abdul Azis (pengusul nama NU), KH Abdullah Ubaid, KH Abdul Kahar, dan sebagainya,” katanya dalam bedah buku biografi KH Abdul Fattah Yasin di Warung Kawatan, Surabaya, Kamis (12/2) malam.
Bedah buku berjudul “KH. Abdul Fattah Yasin: Teladan Aktivis dan Pejuang Bangsa” itu menghadirkan tiga pembanding yakni Yahya Muhammad Umar Burhan (pegiat historiografi NU), Ahmad Karomi (Sekretaris Nahdlatut Turost), dan Mukani (pegiat literasi dari PW LTNU Jatim).

Menurut Dr Wasid Mansyur, Kampung Kawatan merupakan Kampung Sejarah, karena menjadi titik awal perjalanan sejumlah tokoh NU, termasuk KH Fattah Yasin, yang kiprahnya tak banyak tercatat dalam buku sejarah, karena keikhlasan tokoh itu.
“Fattah Yasin itu bukan sekadar ulama kampung, karena ia pernah menjabat Menteri Urusan Sosial serta Menteri Penghubung Alim Ulama pada era pemerintahan Ir Soekarno, bahkan beliau juga inisiator berdirinya Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). Saya sempat menelusuri arsipnya hingga ke markas ALRI di Malang,” kata Wasid.
Sebagai tokoh pemerintahan dari kalangan NU, Fattah Yasin juga pernah memimpin Pertanu pada periode awal sebelum 1963. Pada periode itu, Pertanu tak hanya mengurusi pertanian, tetapi juga isu pertanahan untuk merespons terhadap pemberlakuan Undang-Undang Agraria.
“Beliau berada di garis depan membela petani dan rakyat kecil, bahkan beliau juga tercatat sebagai anggota Hisbullah. Beliau sebagai tokoh yang tegas dalam bersikap, bahkan beliau pernah membela Yayasan Khadijah Wonokromo ketika lahannya hendak dikuasai pihak PKI pada era 1960-an,” katanya.
Terkait proses penulisan buku setebal 207 halaman itu, Wasid menjelaskan sebagai proses yang tidak mudah, karena dirinya harus berbulan-bulan menelusuri arsip dan keterangan lisan untuk menemukan data penguat. “Saya sering dilempar ke sana kemari untuk mencari data,” katanya.
Dalam diskusi buku itu, pegiat historiografi yang juga pengampu Rumah Arsip NU di Gresik, Yahya Muhammad Umar Burhan, menyebut Fattah Yasin yang kelahiran Kawatan, Surabaya tahun 1915 itu mampu menggerakkan kader-kader NU untuk melawan kolonialisme.
“Itu bukan peran kecil, Kawatan ibarat Kampung Sejarah, apalagi Fattah Yasin juga belajar di Madrasah Nahdlatul Wathan di kampungnya yang langsung dididik para tokoh pendiri dan penggerak NU,” ujarnya.
Senada dengan itu, Sekretaris “Nahdlatut Turost” Ahmad Karomi menilai Fattah Yasin yang konon dikabarkan sempat menjadi murid Syaikhona Kholil (Bangkalan/Madura) dalam usia sangat muda (10 tahun) itu memang berada dalam mata rantai penting gerakan ulama Jawa dan Madura, karena sempat “nyantri” di Pesantren Tebuireng.
Buku tentang KH Abdul Fattah Yasin karya DR Wasid Masnyur itu juga diapresiasi pegiat literasi yang juga pengurus PW LTNU Jatim Mukani sebagai buku yang luar biasa, karena menyoroti tokohg yang tidak disorot kamera sejarah, meski sangat berperan dalam sejarah.
“Langkah penulis (DR Wasid Mansyur) itu mirip jurnalis Amerika, Jimmy Breslin, yang pada 1963 menulis tentang Clifton Pollard, seorang penggali kubur Presiden John F. Kennedy, bukan menyoroti tokoh-tokoh besar di pusaran peristiwa,” ujar Mukani.
Apresiasi juga datang dari Ketua IKSA (Insan Keturunan Sagipoddin) atau Bani Gipo, Wachid Zein. “Terima kasih sudah menulis dengan data-data tentang KH Fattah Yasin. Bani Gipo mempunyai banyak tokoh terkait NU dan Muhammadiyah,” katanya.
Selain Fattah Yasin, Bani Gipo juga memiliki keturunan yang juga tokoh NU dan Muhammadiyah, yakni H Hasan Gipo (Ketua pertama PBNU), Mas Alwi bin Abdul Azis (pengusul nama NU), dan KH Mas Mansur (tokoh Nahdlatul Wathan pada era KH Wahab Chasbullah dan pimpinan pertama PW Muhammadiyah Jatim). (*/fpnu)



