Surabaya, radar96.com – Saat mengisi Kajian Senja Al-Yasmin episode ke-13 (13/5/2026), Pengasuh Pesantren Darut Ta’lim an-Nawawi, Ampel, Surabaya, KH Ahmad Mujab Muthohar (Gus Mujab) mengatakan haji dalam ayat-ayat Al-Qur’an itu terkait dengan dua hal/soal yakni panggilan dan mampu.
“Jamaah haji yang berangkat pada tahun ini (2026) adalah mereka yang mendaftar pada tahun 2012 atau 14 tahun lalu. Karena itu, usia jamaah haji pun tercatat sekitar 70 persen yang berusia 60 tahun ke atas dan 10 persen lansia (usia 80 tahun),” katanya dalam kajian bertema ‘Tadabbur Ayat-Ayat Haji’ di Ballroom Pesantren Digipreneur Al Yasmin, Surabaya, Rabu.



Dalam kajian yang dipandu Hj Cita Helmy itu, Gus Mujab menjelaskan lamanya menunggu waktu berangkat ke tanah suci itu sekarang lebih ekstrem itu, karena orang yang sekarang mendaftar haji itu akan menunggu 18 tahun untuk berangkat ke Tanah Suci. “Dulu, saya mendaftar tahun 2010 itu hanya antre 3 tahun atau bisa berangkat pada tahun 2013,” katanya.
Terkait masa tunggu yang lama iti, maka orang tua mempunyai kewajiban moral untuk menyiapkan haji bagi anak-anaknya sejak dini, karena antrean yang panjang sehingga perlu “planning” (perencanaan). “Kalau secara syariat memang bukan kewajiban, tapi secara moral ada tanggung jawab untuk ‘planning’ untuk menyiasati lamanya antrean haji itu,” katanya.
Selain soal waktu, bicara haji itu juga bicara tempat. Ada ayat dalam Alqur’an yang bicara tempat yakni Mekkah. Kalau bicara Mekkah itu juga berarti bicara Ka’bah, siapa yang membangun ka’bah? Pendapat pertama, ulama bilang Ka’bah itu sudah ada sebelum manusia ada. Pendapat kedua, Ka’bah itu dibangun Nabi Adam. Pendapat ketiga, Ka’bah itu dibangun oleh Nabi Ibrahim.
Nabi Ibrahim itu mempunyai empat isteri, tapi ada dua isteri yang dikenal yakni Sarah dan Hajar, karena Sarah menurunkan Ishaq dan Hajar menurunkan Ismail. Nabi Ibrahim mendapat perintah agar membawa isteri dan anaknya Ismail yang masih 2 tahun ke Mekkah. Ada ulama yang bilang, Sarah itu cemburu, karena Hajar mempunyai anak duluan, sehingga diminta untuk dibawa pergi jauh, tapi ada cerita lain jika hal itu merupakan perintah. Tiba di Mekkah, Hajar Cuma ditaruh begitu saja di suatu lokasi tanpa diomongi. Tapi, hal itu diterima saja oleh Hajar, karena perintah Allah.
Saat meninggalkan istri dan anaknya di gurun yang tandus itu, Nabi Ibrahim berdoa, “Ya, Allah, letakkan anak keturunanku di lembah yang dekat dengan rumah-Mu” (QS Ibrahim : 37). Berarti ka’bah sudah ada? Ayat lain menyebut Nabi Ibrahim yang meninggikan, berarti Ibrahim yang merestorasi, jadi sudah ada. Kalau sudah ada, Ka’bah itu dibangun oleh malaikat atau Nabi Adam ?
Jadi, ibadah haji itu tidak lepas dari Masjidilharam, Ibrahim, Hajar, dan Ismail. Dalam ayat Al-Qur’an juga disebutkan Nabi Ibrahim diminta memanggil manusia dari segala penjuru dunia untuk menunaikan haji, lalu setelah bangunan selesai, maka Ibrahim melapor kalau pekerjaan sudah selesai. “Terima-lah, ya Allah,” kata Nabi Ibrahim, namun sebelumnya Nabi sempat bertanya, bagaimana aku bisa memanggil manusia? Allah menjawab, “Urusanmu memanggil, sampai atau tidak panggilan itu, maka itu urusanku”.
“Mertua saya pernah memberi saran, kalau sudah berumah tangga itu lamunkan haji. Kalau sudah haji itu akan menemui banyak tempat mustajab, ada Raudah, Shofa, Marwah, Hijr Ismail, Rukun Yamani, Padang Arofah, Muzdalifah, Mina, dan sebagainya. Mintalah kepada Allah Yang Maha Menata Hidup. Itu (haji) soal panggilan, Allah yang menata dan kalau Allah yang menata itu bisa dipastikan bisa terwujud, kita tinggal menikmati”.
Selain soal panggilan, ayat lain memaknai haji dengan istilah “istito’ah/mampu”. Mampu itu ada yang sifatnya lahir, seperti sehat, ada uang, dan sebagainya, tapi ada juga makna psikis/mental, yakni mempunyai uang itu belum pasti berangkat ke Tanah Suci. “Nanti saja, ah,” kata orang itu. Kenapa? Itu rahasia Allah. Ada yang menjadi mampu itu karena dibayari orang. Jadi, haji itu bukan untuk mereka yang kaya, tapi untuk mereka yang mampu.
Terkait psikis itu, pengalaman saya selama 40 kali membimbing jamaah haji, saya ada banyak kisah. Ada jamaah yang cerita kalau dirinya tidak melihat China Muslim yang menunaikan ibadah haji, eh… tidak lama kemudian ada jamaah China lewat… Saya juga pernah bergumam: bosan, karena bimbingan haji itu monoton, ternyata saat kepulangan ada jamaah yang sakit di pesawat, dan jamaah itu perlu turun, sehingga menjadi pengalaman baru yang tidak monoton. “Jadi, jangan mengukur Allah dengan ukuran manusia,” katanya. (*/alYasmin)



