By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Setelah Muktamar: Menerima Takdir, Mengawal Amanah, Membiarkan Waktu Membuka Kebenaran
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > Setelah Muktamar: Menerima Takdir, Mengawal Amanah, Membiarkan Waktu Membuka Kebenaran
Kolom

Setelah Muktamar: Menerima Takdir, Mengawal Amanah, Membiarkan Waktu Membuka Kebenaran

31/08/2026 Kolom
Dr. ROMADLON SUKARDI, MM.
SHARE

CATATAN PERADABAN

Muktamar Telah Usai, Sejarah Baru Saja Dimulai

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama telah sampai pada babak baru. AHWA telah terbentuk, Rais ‘Aam telah ditetapkan, dan Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031 telah lahir melalui mekanisme yang dipilih Muktamar. Sembilan anggota AHWA sebelumnya ditetapkan dari hasil 4.703 suara yang diberikan kepada 34 calon; KH Nurul Huda Djazuli memperoleh suara terbanyak dengan 485 suara.
Kini, setelah riuh kontestasi perlahan mereda, ada satu sikap yang jauh lebih penting daripada terus memperpanjang perdebatan: menerima keputusan dengan lapang dada, menghormati proses jam’iyyah, dan menyerahkan penilaian akhir kepada Allah SWT serta kepada waktu.

Dalam tradisi pesantren, kita mengenal taqdir, sabr, tawakkal, dan tabayyun. Keempatnya bukan sikap pasif. Menerima takdir bukan berarti berhenti berpikir. Bersabar bukan berarti kehilangan sikap kritis. Tawakal bukan berarti menyerahkan akal. Dan tabayyun bukan berarti mencari pembenaran.
Justru setelah keputusan ditetapkan, saatnya akal sehat, kejernihan hati, dan kedewasaan organisasi bekerja.

Muktamar telah memilih. Sekarang sejarah akan menguji.

Tidak Semua yang Kita Inginkan Harus Menjadi Kenyataan

Dalam perjalanan organisasi, manusia sering merasa telah membaca masa depan. Kita merasa tahu siapa yang paling baik, siapa yang paling layak, bahkan siapa yang akan membawa organisasi kepada kejayaan atau kehancuran.

Padahal manusia hanya melihat potongan kecil dari sebuah perjalanan.
Allah SWT melihat keseluruhan jalan.
Karena itu, ketika hasil Muktamar tidak sepenuhnya sesuai dengan harapan sebagian warga NU, sikap yang paling bermartabat bukanlah kebencian, bukan pula pembalasan, melainkan husnuzhan kepada Allah dan kesediaan memberikan kesempatan kepada sejarah untuk membuktikan dirinya.

Bisa jadi sesuatu yang hari ini kita anggap buruk ternyata membuka jalan kepada kebaikan.

Bisa pula sesuatu yang hari ini kita anggap sebagai kemenangan ternyata menjadi ujian yang berat.

Sebab jabatan bukan hanya kehormatan; jabatan adalah ujian.
Kekuasaan organisasi bukan hanya kesempatan untuk memimpin; ia adalah kesempatan untuk membuktikan apakah seseorang mampu menjaga amanah ketika berada di puncak kewenangan.

Waktu Adalah Pengadilan yang Tidak Bisa Dibeli

Karena itu, saya tidak ingin tergesa-gesa memberikan cap kepada siapa pun.
Tidak perlu hari ini kita menentukan siapa yang baik dan siapa yang buruk.

Tidak perlu hari ini kita memvonis siapa yang tulus dan siapa yang memiliki kepentingan.
Biarlah waktu yang berbicara.

Satu tahun.
Dua tahun.
Cukup waktu bagi masyarakat Nahdliyin untuk melihat dengan mata yang lebih jernih.
Lihat kebijakannya.
Lihat keberpihakannya.
Lihat cara ia memperlakukan ulama.

Lihat bagaimana ia memperlakukan struktur NU di daerah.
Lihat apakah ia mampu merawat persatuan.

Lihat apakah ia menjaga independensi NU dari kepentingan politik praktis.
Lihat apakah ia memperkuat pesantren, pendidikan, kaderisasi, ekonomi umat, dan pelayanan sosial.

Lihat apakah ia mampu mengembalikan marwah jam’iyyah.
Dan yang paling penting:
lihat apakah kata-katanya berjalan seiring dengan tindakannya.

Sebab dalam kepemimpinan, pidato dapat dibuat indah, slogan dapat dibuat megah, dan janji dapat dibuat sempurna.
Tetapi rekam jejak tidak pernah bisa berbohong terlalu lama.

Masyarakat NU Tidak Bodoh

Ada kalanya elite organisasi terlalu percaya bahwa masyarakat akan selalu mengikuti narasi yang dibuat dari atas.
Saya kira NU tidak seperti itu.

Nahdliyin memiliki ingatan sosial.
Pesantren memiliki tradisi panjang dalam membaca perilaku manusia.

Kiai tidak hanya mendengar apa yang dikatakan seseorang. Mereka membaca sikap, adab, konsistensi, dan keberpihakan.

Karena itu, jangan meremehkan kemampuan warga NU dalam menilai perjalanan kepemimpinan.

Mereka mungkin diam.
Mereka mungkin tidak berdebat di media sosial.
Mereka mungkin tidak membuat konferensi pers.

Tetapi mereka melihat.
Mereka mencatat.
Mereka membandingkan.

Dan pada waktunya, masyarakat akan memberikan penilaian sendiri.
Sejarah tidak membutuhkan pengeras suara untuk menyampaikan kebenaran.

Jangan Membalas Luka dengan Luka
Bagi mereka yang merasa kecewa terhadap hasil Muktamar, ada pesan sederhana:
Jangan membalas apa yang kita anggap sebagai ketidakadilan dengan ketidakadilan baru.

Jangan membalas kekerasan dengan kebencian.

Jangan membalas perbedaan dengan permusuhan.
Jangan membalas kekalahan dengan upaya merusak rumah sendiri.
NU terlalu besar untuk dikorbankan demi kekecewaan kelompok.
.
Kita boleh kritis.
Kita boleh mengawasi.
Kita boleh mengingatkan.

Kita bahkan wajib bersuara apabila terdapat sesuatu yang menyimpang dari prinsip jam’iyyah.

Tetapi semua itu harus dilakukan dengan adab, ilmu, bukti, dan mekanisme organisasi.
Sebab kritik yang lahir dari kecintaan kepada NU akan menjadi obat.
Sedangkan kebencian yang dibungkus kritik hanya akan menjadi racun.

Kepemimpinan Baru Harus Diberi Kesempatan—Sekaligus Diawasi

Menerima hasil Muktamar bukan berarti memberikan blank cheque kepada kepemimpinan baru.
Ini penting.

Dukungan terhadap persatuan tidak boleh berubah menjadi pembenaran terhadap semua tindakan pengurus.

Sebaliknya, kritik terhadap kepemimpinan juga tidak boleh berubah menjadi penolakan terhadap seluruh hasil Muktamar.
Di sinilah kedewasaan organisasi diuji.

Kita harus mampu mengatakan:
“Kami menerima hasilnya, tetapi kami tetap mengawasinya.”
“Kami menghormati pemimpinnya, tetapi kami tetap menjaga konstitusi jam’iyyah.”
“Kami mendukung persatuan, tetapi kami tidak akan membenarkan penyimpangan.”

Itulah constructive opposition dalam tradisi organisasi modern: bukan oposisi yang ingin menjatuhkan, tetapi pengawasan yang ingin memastikan amanah berjalan di jalan yang benar.

Dari Kontestasi Menuju Khidmah
Kini tidak ada lagi alasan untuk terus hidup dalam logika “kami” dan “mereka”.
Muktamar telah selesai.
Kontestasi telah berakhir.

Yang harus dimulai adalah khidmah.
Pemimpin baru bukan hanya milik kelompok yang memilihnya.
Ia harus menjadi pemimpin seluruh Nahdliyin.

Begitu pula mereka yang kemarin berada di barisan kandidat lain harus kembali menjadi bagian dari satu rumah besar.

Sebab NU bukan milik kandidat.
NU bukan milik AHWA.
NU bukan milik PBNU.
NU bukan milik partai politik.

NU bahkan bukan milik satu generasi.

NU adalah amanah sejarah para muassis yang diwariskan kepada generasi demi generasi.

Karena itu, siapa pun yang memimpin harus menyadari bahwa kursi kepemimpinan itu pada hakikatnya hanya sementara.
Yang kekal adalah amanah.

Yang kekal adalah khidmah.
Yang kekal adalah jejak amal.

Jika Ada yang Buruk, Waktu Akan Membukanya

Kepada seluruh warga NU yang masih menyimpan kegelisahan, mari kita tenangkan hati.
Tidak perlu tergesa-gesa.

Jika memang ada sesuatu yang buruk, waktu akan membukanya.

Jika ada yang tidak amanah, rekam jejak akan memperlihatkannya.
Jika ada yang menyalahgunakan kekuasaan, keputusan-keputusannya akan menjadi bukti.

Jika ada yang benar-benar tulus berkhidmah, amalnya juga akan terlihat.
Kebaikan tidak perlu dipaksakan untuk terlihat baik.
Keburukan juga tidak selamanya mampu bersembunyi di balik pencitraan.

Ada pepatah pesantren yang sangat sederhana:
Al-waqtu juz’un minal-‘ilāj—waktu adalah bagian dari proses penyembuhan.
Maka biarkan waktu bekerja.

Tetapi jangan pasif.
Awasi dengan ilmu. Ingatkan dengan adab. Kritik dengan bukti. Dan doakan dengan ketulusan.

Kebenaran Tidak Takut Menunggu

Pada akhirnya, sejarah selalu memiliki caranya sendiri untuk menyingkap manusia.
Hari ini seseorang mungkin dipuji.

Besok mungkin dikritik.
Hari ini seseorang mungkin dianggap kalah.

Besok mungkin justru dikenang karena keteguhannya.

Hari ini seseorang mungkin berdiri di puncak kekuasaan.

Lima tahun kemudian, yang tersisa bukan kursinya, melainkan apa yang telah ia lakukan dengan kursi tersebut.

Itulah hukum sejarah.
Dan lebih tinggi lagi, ada hukum Allah.
“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Karena itu, mari kita letakkan persoalan Muktamar pada tempat yang semestinya.

Kita terima keputusan.
Kita jaga persaudaraan.

Kita hormati ulama.
Kita kawal jam’iyyah.
Kita kritisi bila diperlukan.

Dan kita serahkan penilaian akhir kepada Allah SWT dan kepada sejarah.

Tidak perlu terburu-buru menentukan siapa yang paling baik.

Tidak perlu terburu-buru menuduh siapa yang paling buruk.

Berikan waktu kepada kepemimpinan untuk bekerja.

Berikan ruang kepada masyarakat untuk menilai.

Berikan kesempatan kepada sejarah untuk mencatat.

Dan berikan semuanya kepada Allah untuk menentukan akhirnya.

Penutup: NU Harus Tetap Lebih Besar daripada Kita Semua

Pada akhirnya, siapa pun yang menang dalam Muktamar akan mengalami satu kenyataan yang sama:
masa jabatan akan berakhir.

Tetapi NU harus tetap hidup.

Para ketua akan berganti.

Para Rais akan berganti.

Pengurus akan berganti.

Generasi akan berganti.

Namun amanah para muassis tidak boleh berganti.

Karena itu, mari kita tutup lembaran kontestasi dengan hati yang lebih lapang.

Bukan karena kita menganggap semua telah sempurna.

Tetapi karena kita percaya bahwa kebenaran memiliki jalannya sendiri untuk menemukan cahaya.
Mari kita bersabar.
Mari kita mengawal.
Mari kita berkhidmah.
Dan mari kita menunggu dengan tenang.

Sebab boleh jadi, satu atau dua tahun ke depan akan menjadi cermin yang jauh lebih jujur daripada seribu perdebatan hari ini.

Waktu akan memperlihatkan siapa yang benar-benar menjaga NU, siapa yang memperkuat NU, siapa yang mengabdi kepada NU, dan siapa yang justru menggunakan NU untuk kepentingan dirinya sendiri.
Kita tidak perlu menjadi hakimnya.

Biarlah amal menjadi bukti, waktu menjadi saksi, sejarah menjadi pengadilan, dan Allah SWT menjadi Hakim Yang Maha Adil.
Faṣbir ṣabran jamīlā.
“Maka bersabarlah dengan kesabaran yang baik.”
Karena dalam perjalanan peradaban, kebenaran tidak pernah takut menunggu waktu.

CATATAN PERADABAN

Dr. ROMADLON SUKARDI, MM.

Menjaga NU dengan akal sehat, hati yang teduh, keberanian yang beradab, dan kesetiaan kepada amanah para muassis.

Iklan.

You Might Also Like

Membangun dan Merajut Kembali  solidaritas di NU  Pasca MUKTAMAR NU ke 35

NU di Bawah Kepemimpinan Baru: Menjaga Tradisi, Menjawab Zaman

AHWA dan Seni Menimbang Amanah: Dari Politik Kandidat Menuju Fiqih Kepemimpinan

SUBUH YANG MENGUBAH PETA NU

Eksistensi AHWA Pasca-Putusan: Ketika Ketua Umum Dipilih oleh Ahlul Halli wal Aqdi

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Melalui Nawa Pradana Baznas Jatim Buka Kolaborasi dengan LAZISNU
Next Article Membangun dan Merajut Kembali  solidaritas di NU  Pasca MUKTAMAR NU ke 35

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

Membangun dan Merajut Kembali  solidaritas di NU  Pasca MUKTAMAR NU ke 35
Kolom
Melalui Nawa Pradana Baznas Jatim Buka Kolaborasi dengan LAZISNU
Uncategorized
NU di Bawah Kepemimpinan Baru: Menjaga Tradisi, Menjawab Zaman
Kolom
Muktamar Telah Usai, Saatnya Menyatukan Langkah untuk NU
Uncategorized

You Might also Like

Kolom

GEGERAN DULU GERGERAN KEMUDIAN

28/08/2026
Kolom

Muktamar NU : Pembukaan Gemilang, Jangan Sampai Pelaksanaan Kehilangan Marwah.

28/08/2026
Kolom

Ternyata NU Rame di Luar, Solid di Dalam

28/08/2026
Kolom

MENJAGA MUKTAMAR NU KE-35 SEBAGAI TUNTUNAN DAN HIKMAH

28/08/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?