By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: NU adalah Pesantren Besar
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > NU adalah Pesantren Besar
Kolom

NU adalah Pesantren Besar

02/12/2021 Kolom
SHARE

Oleh Dr. H . Ahmad Fahrur Rozi *)

Nahdlatul Ulama (NU) lahir dari para kyai pemimpin Pesantren, hubungan NU dengan pondok pesantren adalah ibarat ikan dengan air, dimana keduanya tidak mungkin untuk dapat dipisahkan. Menurut ibarat KH Muchit Muzadi (alm), Pesantren adalah NU kecil dan NU adalah pesantren besar. Keduanya merupakan rumah besar yang nyaman bagi segenap warga masyarakat nahdliyyin yang sejak awal didirikannya merupakan wadah perjuangan para ulama dalam membina akidah Islam Ahlussunnah wal jamaah (Aswaja) dan mengajarkan Akhlak mulia dalam kehidupan masyarakat dengan ajaran Islam moderat.

Para ulama pesantren memiliki kesamaan wawasan keagamaan dan kebangsaan di Indonesia, kesamaan itu meliputi tata cara pemahaman, pandangan dan sikap perilaku dalam memperjuangkan pengamalan ajaran Islam berhaluan Ahlussunnah wal jamaah menghadapi berbagai macam aliran sempalan yang timbul saat itu , karena kesamaan tersebut mereka menggabungkan diri menjadi satu dalam sebuah wadah jamiyyah Nahdlatul ulama untuk memperjuangkan tegaknya akidah aswaja dan membangun kemaslahatan masyarakat.

Persamaan antara Nahdlatul Ulama dengan pondok pesantren terdapat dalam pola kepemimpinannya yang sama-sama berpusat kepada seorang Kyai. Apabila di dalam Pondok Pesantren itu, Kiai memiliki peran yang sangat menentukan, maka di dalam Nahdlatul Ulama dikenal Kepemimpinan Syuriyah yang terdiri dari para ulama atau Kyai selaku Pemimpin tertinggi. Keduanya menempatkan Kyai atau ulama dalam posisi tertinggi dalam struktur kepemimpinan, karena ulama adalah mata rantai pembawa ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jamaah.

Di dalam Nahdlatul Ulama, para Kyai atau ulama dipahami sebagai tokoh yang paling kuat yang mempunyai keunggulan dan kelebihan dalam bidang spritual, ilmu, amal, dan akhlak keagamaannya.

Pengaruh yang dimiliki oleh para Kyai pengasuh pondok pesantren di lingkungan masyarakat menjadi kekuatan pendukung bagi Nahdlatul Ulama. Hubungan antara Nahdlatul Ulama dengan pondok pesantren, terlihat dalam struktur masyarakat santri yang selama ini tampil sebagai pendukung dan penyangga kekuatan Nahdlatul Ulama; Kiai, Pondok Pesantren, kaum santri merupakan pilar kuat yang dimiliki organisasi NU.

Tradisi santri pesantren senantiasa patuh berada dibawah garis kepemimpinan kyai. Hubungan antara seorang santri dengan gurunya tidak pernah terputus dengan selesainya proses belajar mengajar. Hubungan batin dan silaturahmi antara Kyai dengan santrinya senantiasa berlangsung terus-menerus, bahkan kepada para Dzurriyyah, meskipun mereka sudah pulang ke rumahnya dan mendirikan pesantren baru di berbagai daerah.

Sejak NU didirikan pada tahun 1926, sebetulnya organisasi tersebut juga telah mengukuhkan diri untuk berada di bawah komando kyai dan para ulama. Hal itu terlihat dari nama organisasi itu yakni Nahdlatul Ulama yang berarti ‘kebangkitan ulama’. KH Hasyim Asy’ari sebagai pendiri NU dikukuhkan sebagai Rais Am pertama bergelar ‘Rais Akbar NU’, kemudian secara bergantian Rais ‘Aam dipilih berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan dan merupakan figur yang paling dihormati di kalangan NU.

Rais Am adalah pemimpin tertinggi dan ketua umum yang sebenarnya dalam tradisi NU, sedangkan Ketum Tanfidziyah adalah pelaksana ibarat kyai pengasuh pesantren dengan lurah pondok. Namun ketika NU bermetamorfosis sebagai partai politik tahun 1955, peran Ketua Umum (tanfidziyah) menjadi jauh lebih menonjol, bahkan sangat populer mengalahkan Rais Am.

Secara aturan sudah seharusnya Ketum PBNU dan jajaran tanfidziyah selaku pelaksana wajib taat kepada titah Rais Am tanpa ada tawar-menawar, karena didalam Anggaran Dasar NU Bab VII pasal 14 ayat 3 disebutkan jelas bahwa “Syuriyah adalah pemimpin tertinggi Nahdlatul ulama”. Selanjutnya, Pasal 58 ART ayat 1 A menyebutkan bahwa “kewenangan Rais Am adalah : Mengendalikan kebijakan umum organisasi”.

Namun, perkembangan situasi zaman kemudian berubah, dimana saat ini terasa kedudukan Ketum menjadi sangat dominan, karena merasa dipilih dalam muktamar, bahkan kadang terlihat berseberangan dengan Rais Am, misalnya dalam kasus Ahok di Jakarta yang silam. Ini adalah fenomena yang melawan “khittah” struktur hubungan tanfidziyah dan syuriyah.

Fenomena itu kemudian mendorong PWNU Jawa Timur mengusulkan dalam Munas di Jakarta bulan September 2021 untuk mengubah AD ART tentang pemilihan Ketua Umum PBNU dan tingkatan dibawahnya agar tidak lagi dipilih, melainkan diangkat oleh Rais Am sebagaimana zaman awal pendirian NU oleh Hadrarussyaikh KH Hasyim Asy’ary atau minimal dipilih oleh AHWA sebagaimana Rais Am.

Perubahan ini dipandang perlu untuk mengakhiri gejala timbulnya dualisme kepemimpinan dalam tubuh NU, dan menjadikan hubungan yang lebih harmonis layaknya pengasuh dan lurah pondok. Konsep AHWA juga diyakini oleh PWNU Jatim sebagai langkah tepat mencegah isu money politics di arena muktamar dan memperkuat posisi syuriyah sebagai pengendali tertinggi organisasi dan tidak menjadikan posisi Ketum sejajar Rois Am karena sama-sama dipilih oleh forum muktamar. Wallahu a’lam. (*)

*) Penulis adalah Pengasuh Ponpes ANNUR 1 Bululawang Malang, Wakil Ketua PWNU Jatim , Wakil Sekjend MUI Pusat, Wakil Ketua PP RMI PBNU 2004-2015, dan Ketua Himasal Jatim 2015-2019.

Iklan.

You Might Also Like

Membaca Paslon Pimpinan NU di Muktamar NU ke-35

Evaluasi Tanpa Intervensi: Ujian Kemandirian Muktamar NU

PERANG HORMUZ

Mencari Isyarah Langit (Ketum PBNU)

KH Mutawakkil Mengundurkan Diri Dari MUI Jatim

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Diundang ke Grahadi, Gubernur Khofifah doakan Mario Aji-Magetan juarai Seri Moto 3 GP Kejuaraan Balap Motor Dunia Musim 2022
Next Article Gubernur Khofifah pimpin langsung Misi Dagang ke Maluku

Advertisement



Berita Terbaru

PW JKSN Gorontalo Resmi Dilantik, Usung Misi Kemandirian Umat
Sospol
Waketum PP ISNU Prof Mas’ud Said Lantik 95 Pengurus Baru ISNU Blitar
Nahdliyyin
Imam Masjid Al-Akbar: Haji adalah Miniatur Kehidupan
Sospol
Masjid Al-Akbar Surabaya Kembangkan “Bioflok Ikan” berbasis Teknologi RAS
Sospol

You Might also Like

Kolom

Hardiknas dan Kebangkitan Intelektual Profesor Muslimat NU

24/04/2026
Kolom

Muktamar NU: ABUKTOR—Asal Bukan Koruptor

23/04/2026
Kolom

Kartini Juga Manusia: Ketika Perempuan Kuat Tetap Boleh Lelah

20/04/2026
Kolom

Fenomena “Ghosting Berkedok Lupa: Seni Menghilang Tanpa Rasa Bersalah” dalam Perspektif Relasi Sosial dan Etika Keislaman

18/04/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?