Sufisme dan Sekulerisme di Turki (2)

Penulis (jongkok ke-2 dari kiri) dan teman-teman dengan latar salah satu masjid tertua, Blue Mosque Istambul, Turki. (*/dokpri)
Bagikan yuk..!

Oleh DR Rubaidi *)

Tema di atas adalah kelanjutan dari edisi minggu lalu (part 1) yang telah dipublikasikan di media yang sama sebagai oleh-oleh saya saat berkunjung hampir 1 (satu) bulan keliling di beberapa kota di Turki.

Untuk part 2 ini, secara khusus akhirnya kita tarik kepada pokok dari kolom ini, yakni melihat sudut-sudut dimensi sufisme yang sesungguhnya tetap menjadi ruh bagi dimensi kehidupan sebagian masyarakat Turki yang tidak banyak diekspose atau dicover oleh kebanyakan orang maupun ahli.

Ada banyak fenomena kehidupan unik dan menarik yang perlu kita refleksikan dalam konteks kehidupan kita berbasis pada spirit keislaman.

Catatan ini saya tulis kembali guna kita ambil sebagai pelajaran atau lesson learned dalam konteks peningkatan kualitas kehidupan kita di Indonesia.

“Hati-hati kalau membaca fenomena kehidupan masyarakat Turki pak,” pinta Munji, ketua tanfidliyah PCI NU Turki saat diskusi dengan delegasi kami dari UIN Sunan Ampel, Surabaya waktu itu.

“Kenapa harus hati-hati mas? Apa maksudnya,” Timpal saya. “Apa yang nampak di permukaan belum tentu menggambarkan masyarakat Turki secara utuh,” tambah Munji yang kuliah mengambil program doktoral atau S3 fakultas Illahiyat dengan konsentrasi di bidang sufisme. Jawaban Munji saya renungkan dengan fakta-fakta kehidupan nyata yang nampak oleh kasat mata.

Ada begitu banyak fenomena kontradiksi-kontradiksi dalam denyut kehidupan masyarakat Turki, terutama yang dapat diisaksikan di Istambul. Berbagai kontradiksi atau paradoks itu apabila dikerucutkan intinya bersumber dari dua point saja, yakni
(1) Kebebasan dalam arti negatif dan
(2) Spiritualitas Islam.

Yang pertama identik dengan Sekularisme dan kedua adalah sufisme Islam dalam sejarah panjang Islam dan masyarakat Turki.

Setelah saya renungkan, dua kata kunci itu, yakni (1) Sufisme dan (2), agaknya Sekularisme sangat membantu saya dalam memahami potret kehidupan warga Turki melalui denyut dan detak jantung di kota megapolitan Istambul yang sekaligus menjadi kota tua peradaban Islam maupun peradaban tua sebelumnya.

Sebelum para pembaca kami ajak berselancar lebih jauh untuk masuk ke berbagai lorong-lorong dan sudut-sudut kehidupan warga Turki yang dipotret dari kota Istambul, ada baiknya para pembaca saya tanya terlebih dahulu. Tahukah berapa jumlah penduduk Turki? Berapa persen dari penduduk Turki itu yang beragama Islam? Silakan kalian cari data terlebih dahulu untuk menjawab 2 (dua) pertanyaan tersebut.

Bisa dech, pembaca cari infornasi di perpustakaan atau tanya teman kiri-kanan. Kalau ingin cepat bisa secara instan tanya kepada si empunya data dan informasi, yakni si mbah google. Hehehe…..biar tidak tegang membacanya.

Jikalau anda jalan-jalan di Istambul, Ankara, atau kota-kota besar lain di Turki, sekilas akan mendapat pemandangan yang kontras. “Orang-orang di sini hidupnya bebas pak,” kata seorang mahasiswi Indonesia yang studi S3 di Turki. “Banyak orang Turki yang tidak bisa bahasa Arab,” tambah dia.

(“Emang orang Turki Timur Tengah,” guman saya dalam hati yang tidak saya ucapkan).

“Saya punya teman mahasiswa asli Turki yang tidak tahu bagaimana shalat,” tambahnya.

Tidak mudah memahami sosiologi suatu masyarakat kalau kita tidak menyelami secara sungguh-sungguh. Seorang mahasiswi kita yang menempuh S3 saja begitu gampangnya membuat konklusi. Memang sih, banyak fakta-fakta lain yang dengan mudah membuat seseorang secara cepat mengambil kesimpulan seperti seorang mahasiswi ini. Beberapa mahasiswa kita yang lain juga menjelaskan tentang kebebasan kehidupan di Istambul.

“Kehidupan muda-mudi di sini sudah seperti orang barat pak, bebas,” katanya meyakinkan. “Club malam menjamur di berbagai sudut kota,” tambahnya, mengingatkan kita pada tarian perut yang terkenal itu.

Di sudut jalan yang lain, kami menyaksikan sendiri pemandangan yang agak janggal dalam perspektif syariat Islam. Fakta ini kami lihat saat jalan-jalan di Grand Bazar.

“Itu pak lihat, antrean panjang orang-orang yang mau membeli lotre,” terang salah seorang mahasiswa Indonesia. Di antara antrean yang mengular terlihat beberapa adalah para perempuan muda yang berjilbab. “Kalau di Indonesia seperti Porkas atau SDSB itulah pak. Di sini SDSB dilegalkan oleh pemerintah pak,” terangnya lagi.

Saya hampir yakin dengan berbagai kesimpulan dari para mahasiswa di atas. Mereka seperti menggiring opini agar saya juga mengambil kesimpulan yang sama. Kesimpulan itu secara sederhana akan mengatakan, bahwa Turki secara keseluruhan adalah SEKULER.

Di berbagai sudut-sudut traffic light saya juga melihat pemandangan yang khas dengan budaya barat, pasangan muda-mudi tidak segan saling ‘kiss’, khususnya para pasangan yang tidak mengenakan hijab atau jilbab.

Kesimpulan di atas juga didukung oleh berbagai literatur.

Sejak Kemal Attatuk berkuasa, sistem pemerintahan Turki memang diarahkan sepenuhnya menjadi negara sekuler sebagaimana negara-negara Eropa. Agama secara resmi dipisahkan dari negara. Islam atau agama yang lain menjadi urusan privat yang tidak boleh dibawa masuk ke ranah negara atau politik kekuasaan. Akibatnya, negara benar-benar mengontrol terhadap berbagai institusi Islam yang dianggap dapat menjadi alat politik. Bahasa arab resmi tidak dipakai. Satu-satunya bahasa nasional adalah bahasa Turki. Seluruh masjid yang membangun adalah negara. Imam dan Khotib dibiayai negara. Bahkan, semua imam dan khotib selain ditunjuk atau di SK oleh negara juga tidak boleh mengkritik negara.

Begitu represif nya negara, setiap kebangkitan Islam selalu dicurigai ingin melakukan perlawanan atau pemberontakan terhadap negara. Relasi antara negara dan agama (Islam) masih menyisakan problem bagi Turki.

Puncak dari relasi yang vis-a-vis ini terjadi pada 2016, tiga tahun lalu. Peristiwa 2016 dikenal sebagai ‘Kudeta yang Gagal.’ Rezim penguasa, Tayyib Erdogan, secara langsung maupun tidak langsung menunjukkan tangan ke arah Amerika. Bukan negara super power yang dimaksud sebagai dalang dari kudeta militer yang gagal. Namun, telunjuk Erdogan ditujukan kepada salah seorang pelarian, seorang ulama kharismatik Turki yang memiliki pengikut jutaan di Turki. Ia tidak lain adalah Fetkhullah Gulen.

Gulen, begitu nama panggilannya, sudah bertahun-tahun mengasingkan diri di suatu resort dengan luas 26 hektar di Peninsylviana, Amerika Serikat. Gulen sejak muda sejatinya kawan dekat Erdogan. Namun, karena perbedaan pandangan politik membuat keduanya pecah kongsi. Gulen dalam usia lebih dari 80 tahun bukan orang biasa. Ia adalah murid didikan Syekh Badruzzaman Said Nursi, ulama kharismatik, seorang waliyullah mursyid Tarekat Naqsyabandiyah yang namanya diagung-agungkan oleh muslim Turki. Ketokohan Said Nursi kalau di Indonesia seperti KH. Hasyim Asyari yang tidak pernah lapuk dimakan zaman.

Sebaliknya, sebagai salah seorang murid Said Nursi, Gulen juga memiliki pengikut fanatik. Selain sebagai ulama atau kyai dalam khazanah pesantren di Indonesia, Gulen adalah seorang politisi sekaligus seorang pengusaha sukses. Dalam mengorganisir pengikutnya, Gulen mendirikan organisasi yang diberi nama Hizmet. Kerajaan bisnisnya bergerak di bidang Televisi, Koran, dan bisnis gurita lainnya. Endowen fund dari perputaran bisnis Gulen ini diwujudkan dalam bentukan lembaga pendidikan. Tidak kurang sekolah yang dididirikan Gulen tersebar di 100 negara. Total lembaga pendidikan yang didirikan Gulen sekitar 1000 buah. Luar biasa….pokoknya.

Atas dasar inilah, Erdogan merasa ketakutan dengan kekuatan civil society yang dipunyai Gulen. Karena itulah, kudeta yang gagal diklaim Erdogan sebagai upaya Gulen dalam mengorganisir sekaligus mengkudeta kekuasaan melalui jaringan militer. Padahal, dalam berbagai forum, Gulen sebagai ‘santri’ Said Nursi selalu kampanye tentang arti pentingnya Islam damai sesuai ajaran sufisme yang dibawa oleh gurunya, Said Nursi.

Fenomena inilah mungkin yang menempatkan kesimpulan saya berbeda dengan pandangan para mahasiswa Indonesia yang di awal yang menyimpulkan bahwa Turki sudah total menjadi negara Sekuler. Salah satu tesis yang penting bagi saya untuk menjustifikasi kesalahan kesimpulkan di atas adalah fakta, bahwa, warga Turki sekitar 99 persen adalah muslim. Suka tidak suka data yang bicara. Jika saja Turki adalah Sekuler tidak mungkin penduduknya tetap menganut Islam dengan populasi sebesar itu.

Justifikasi saya yang jarang dibaca para analis adalah kekuatan SUFISME yang tetap menjadi Ruh keIslaman penduduk Turki. Nilai-nilai spiritualitas sufisme tidak bisa dibaca secara hitam-putih seperti dimensi disiplin lain dalam Islam, tetutama disiplin syariat atau fiqih yang normatif.

Nilai-nilai sufisme begitu embodied dalam diri masyarakat Turki. Salah satu buktinya adalah tingginya rasa nasionalisme yang tertanam begitu kuat dalam diri setiap warga mereka. Nasionalisme Turki jelas dibangun salah satu karena ajaran Sufisme. Fenomena seperti persis terjadi di kalangan penduduk Indonesia khususnya pengikut Nahdlatul Ulama (NU). Nasionalisme kaum nahdliyin dibangun dari fondasi ajaran sufisme juga.

Dalam sejarah panjang Turki, sosok Said Nursi sebelum jatuhnya khilafah Turki Ustmani sudah membaca tanda-tanda zaman. Benar sekali prediksi Nursi, di bawah kekuasaan Kemal Attatuk, Turki diubah menjadi negara sekuler.

Namun demikian, seperti di tulis oleh KH. As’ad Said Ali dalam laman Facebooknya, Said Nursi saat itu meminta hibah tanah dari khalifah. Pemberian tanah itu bukan dipakai untuk mendirikan ribat, pesantren, atau masjid, namun Nursi yang telah membaca tanda-tanda zaman itu mendirikan Universitas Sains dan Teknologi.

Hasilnya, masih menurut As’ad Said Ali, beberapa puluh tahun kemudian, Nursi melahirkan kader-kader yang mengusai di bidang sains dan teknologi itu. Bahkan, dalam catatan, sekitar 40 konglomerat atau penguasaha kelas kakap Turki, sebagian besarnya adalah para pengikut dan pengagum ajaran Said Nursi. Seletah konsolidasi intelektual dan enterprenuer serta pengusaha selesai, baru di kemudian hari, Said Nursi mulai mengembangkan ajaran dan pemikirannya melalui institusi tarekat, yakni Tarekat Naqsyabandiyah.

Demikian hasil bacaan saya….Bravo Turki ! (*)

*) Penulis adalah penulis buku dan dosen Fakultas Tarbiyah dan Kependidikan (FTK) UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, yang konsens di bidang pemikiran Islam dan urban sufisme

Komentar Facebook

BeritaTerkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *