Aktivis: ada tujuh kelompok yang suka “nyinyir” pada Pemerintah di Medsos

Firman Syah Ali (*/dokpri)
Bagikan yuk..!

Surabaya (Radar96.com) – Aktivis dari PP Asosiasi Dosen Pergerakan IKA PMII dan Bendahara Umum PW IKA PMII Jatim, Firman Syah Ali, menegaskan bahwa saat ini ada tujuh kelompok yang suka “nyinyir” kepada pemerintah di medsos dan semuanya ada indikasi bisa ditunggangi kelompok lain, kecuali satu kelompok saja.

“Sekilas, saya melihat orang-orang yang selalu nyinyir kepada pemerintah, dimana semua yang dilakukan pemerintah serba disalahkan, bahkan dihina, itu ada beberapa level,” kata Pengurus Harian LP Ma’arif NU Jatim itu di Surabaya, Rabu.

Pertama, Pendengung (Buzzer) Amatiran, yaitu : Orang-orang awam yang menjadi korban para pendengung profesional, mereka ikut berdengung di media sosial menyebarkan konten-konten yang disemburkan oleh para pendengung profesional.

Kedua, Pendengung (Buzzer) Profesional, yaitu : Orang yang memang berprofesi sebagai pendengung bayaran, dia mengajukan proposal kepada pejabat/tokoh yang anti pemerintah atau anti NKRI kemudian berdengung di media sosial dengan bayaran tertentu dari personal/organisasi yang tidak suka kepada Pemerintah/anti NKRI.

Ketiga, Kritikus, yaitu : Orang yang memang suka melakukan kritik sosial politik tidak peduli siapapapun Presidennya. Tidak ada urusan dengan pro kontra Jokowi.

Keempat, Residu Pilpres, yaitu : Barisan sakit hati karena dua kali kalah Pilpres, walaupun capres dan cawapres yang didukungnya sudah masuk kabinet pemerintahan. Sakit gigi mudah disembuhkan, sakit hati sulit hilangnya.

Kelima, Residu kekuasaan masa lalu, yaitu : Orang-orang yang pernah berkuasa di masa lalu atau keluarga dari penguasa masa lalu yang sangat sensitif dengan keberhasilan pemerintah saat ini. Kelompok ini tidak anti NKRI, mereka masih dalam koridor NKRI namun berpotensi berdemagogi dengan kelompok anti NKRI.

Keenam, Kelompok Islamis Simbolik, yaitu : Orang-orang yang tetap cinta NKRI namun menginginkan penerapan syariat Islam di seluruh Indonesia. Mereka tidak peduli siapapun Presidennnya kalau tidak menerapkan syariat islam di NKRI, maka selalu dinyinyiri.

Ketujuh, Kelompok Radikalis anti NKRI, yaitu : Mereka adalah radikalis fundamentalis ekstrimis transnasional yang DNA-nya sudah terbentuk jauh sebelum NKRI sendiri terbentuk. Mereka mempunyai jaringan transnasional yang sel-selnya sangat aktif dan agresif. Mereka terbagi dua, ada yang hanya ingin mendirikan Negara Islam Indonesia dan ada yang ingin menggabungkan Indonesia ke dalam Negara Khilafah Sedunia ala Hizbut Tahrir, ISIS dan sejenisnya.

“Kelompok nomer 1 hingga 6 tanpa sadar dapat menjadi tunggangan kepentingan kelompok nomer 7,” kata pegawai Bakorwil Madura yang tinggal di Bendul Merisi Permai, Surabaya itu. (*/pna)

Komentar Facebook

BeritaTerkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *