By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: KH Saiful Islam Al Payage, Anak Pendeta yang jadi Ulama Besar Papua
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Gus File > KH Saiful Islam Al Payage, Anak Pendeta yang jadi Ulama Besar Papua
Gus File

KH Saiful Islam Al Payage, Anak Pendeta yang jadi Ulama Besar Papua

15/01/2022 Gus File
KH Saiful Islam Al Payage (*/Radar96.com/MusliModerat.net)
SHARE

Papua (Radar96.com/MusliModerat.net) – Pria yang nama aslinya Elimus Payage itu kelahiran Papua pada 4 April 1979, dia terlahir dari keluarga pendeta terkemuka di Papua bernama Simon Payage. Tak banyak yang tahu jika masa kecilnya dihabiskan di Desa Silimo Yahukimo, dan mulai bersekolah di SD Inpres Silimo Yahokimo Papua, lalu melanjutkan ke SMP YPPK Wamena Papua tahun 1991.

Sejak lulus SD, ia menemukan jalan hidup yang telah digariskan untuknya menjadi seorang dai. Perjalanan itu dimulai dari perkenalannya dengan seorang pengusaha Muslim di Papua bernama H. Baharuddin. Saat itu, Payage ingin sekolah di Jawa mengingat minimnya sarana dan fasilitas pendidikan di Papua.

“Saya nanti ingin kembali ke Papua dengan membawa pengetahuan yang berguna untuk masyarakat,” ujar Payage yang dibawa H. Baharuddin ke pesantren NU yang didirikan oleh KHR. As’ad Syamsul Arifin di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Situbondo, Jawa Timur itu pada tahun 1993.

Di sana ia dipertemukan dengan putra KHR. Ahmad Fawaid As’ad Syamsul Arifin. Jadi, menginjak remaja itulah, Payage muda melanjutkan sekolah ke SMU Ibrahimy Situbondo Jawa Timur (Pesantren NU yang didirikan oleh KHR. As’ad Syamsul Arifin di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Situbondo, Jawa Timur). Di kota inilah, ia lalu melanjutkan kuliahnya di Institut Agama Islam Ibrahimy Situbondo Jawa Timur.

Ternyata kedatangan Payage sudah ditunggu lama oleh pengasuh pesantren tersebut. Dari pembicaraan Kyai Fawaid dan H. Baharuddin, Payage mendengar bahwa Kyai As’ad pernah berwasiat kepada putranya untuk mendidik anak dari Papua yang akan dijadikan juru dakwah di sana.

“Anaknya asli Papua. Kalau sudah alim nanti akan dikirim kembali ke Papua untuk berdakwah di sana,” ujar KH Saiful Islam Al Payage mengingat pembicaraan itu. Sejak saat itu, nama Elimus Payage diganti Saiful Islam dan diangkat menjadi anak asuh KHR. Fawaid As’ad Syamsul Arifin.

Selama di pesantren, Saiful diminta sungguh-sungguh belajar ilmu agama. Untuk biaya sekolah, kebutuhan sehari-sehari dan biaya lain-lain akan ditanggung oleh ayah angkatnya, Kyai Fawaid. Di pesantren itu, Saiful Islam pun menunjukkan semangatnya dan kesungguhannya dalam belajar.

Ia lahap berbagai bidang ilmu agama mulai dari ilmu al-Quran, fikih, tarikh, akhlak dan tauhid. Ia juga mengenyam pendidikan formal mulai dari madrasah tsanawiyah sampai meraih gelar sarjana (S1) dari Institut Agama Islam Salafiyah Syafi’iyah, Situbondo, Jawa Timur tahun 2006. Tahun 2007 ia sempat dikirim ke Yaman . Di sana ia berhasil menyelesaikan S2-nya pada tahun 2008.

Bakat dan kemampuan Payage di dunia dakwah semakin terasah dengan mengikuti muhadharah (ceramah) di pesantren. Tak heran ketika masih menjadi santri, Saiful sering mendampingi Kyai Fawaid berceramah ke beberapa daerah serta diminta menggantikannya jika berhalangan hadir.

Namun demikian Saiful Islam Al-Payage tetap tidak lupa dengan tugas yang diemban untuk berdakwah di kampung halamannya. Selama berdakwah ke daerah-daerah, Saiful sempat beberapa kali berdakwah di Papua untuk menyampaikan ajaran Islam, meskipun tak mudah meretas jalan dakwah di Tanah Papua.

Budaya masyarakat Papua tetap tidak berubah meskipun daerah tersebut telah lama ia tinggalkan. Masyarakat di sana masih makan daging babi, mempercayai kekuatan roh, memakai koteka, berjudi, perang antarsuku dan berbagai kemaksiatan lainnya. Menurut beliau persoalan ini tidak bisa diselesaikan kecuali dengan jalan dakwah.

Melalui dakwah itulah, ia mengenalkan budaya kebersihan, keindahan dan kemuliaan akhlak sesuai dengan ajaran Islam. Dakwah ini dilakukan dengan dua cara. Cara pertama yaitu dakwah bil hal dengan mengenalkan mandi, bersuci, tayamum, memandikan mayit, menutup aurat, dan sebagainya. Cara kedua, melakukan safari dakwah ke daerah pedalaman seperti Babo, Bintuni, Kaimana, Wamena, Jayawijaya, Merauke dan daerah-daerah terpencil lain yang jarang tersentuh Islam.

Dakwah cara kedua dilakukan secara berkelompok ini ditempuh dengan berjalan kali. Jika rombongan kehabisan perbekalan di tengah jalan, mereka hanya bertahan dengan makan daun-daunan serta minum air hutan. “Semua kita lakukan agar masyarakat Papua mengenal Islam dan mendapat manfaat yang besar,” ucapnya.

Memang di Papua bukan rahasia lagi beberapa tempat di pedalaman itu banyak tak tersentuh nikmatnya fasilitas infrastruktur dari pemerintah. Seperti di Papua, Kalimantan hingga Sulawesi Al-Payage pun menceritakan beberapa pengalamannya.

“Saya pernah ke suatu tempat yang terpecil di Papua. Untuk mencapainya, saya harus dibopong oleh empat orang menggunakan papan kayu. Perjalanan itu butuh sehari-semalam. Makan pun hanya dedaunan yang kita temui sepanjang perjalanan,” kenangnya.

Ia tiba-tiba berdecak kagum karena melihat di tempat terpecil seperti itu ada sebuah kampung Islam. Bahkan di lain waktu, ia pernah berdakwah dengan menggunakan bahasa isyarat seadanya. Hal itu terpaksa dilakukan karena Syaikh Al-Payage tak mengerti bahasa lokal masyarakat setempat. Begitu pula masyarakat tersebut tak paham dengan Bahasa Indonesia.

“Akhirnya bahasa isyarat pakai gerakan-gerakan seperti saya menunjukkan kitab al-Quran dan menunjukkan gerakan-gerakan shalat. Nggak tahu saya kalau mereka paham atau tidak. Saya lalu menggunakan jasa penerjemah bila menemui seperti itu lagi,” ungkapnya.

Menurutnya ada kepuasan tersendiri bila berdakwah di pedalaman. “Dakwah di hotel atau tempat mewah memang enak, tapi kalau di pedalaman itu beda. Capeknya kerasa, perjuangannya kerasa, dan bangganya setelah berdakwah di sana rasanya sangat luar biasa,” lanjutnya.

Beliau pun menceritakan kondisi agama Islam di tanah kelahirannya. Saat ini Islam, bukan menjadi agama minoritas, namun sudah menjadi penyeimbang. Masyarakat Papua pun terbuka dengan agama Islam.

“Memang meluasnya ajaran Islam di Papua ada sangkut pautnya dengan banyaknya pendatang di sana. Tapi pada dasarnya orang asli Papua bukanlah masyarakat antiagama lain. Kami bisa menerima sesuatu hal yang baik dan bermanfaat,” akunya.

Mendirikan Islamic Center di tanah Papua merupakan cita-citanya. Baginya, pesantren adalah sumber pengembangan ilmu Islam dan dakwah Islam.

“Paling tidak di Papua ada pesantren yang pertama kali didirikan oleh putra daerah asli rakyat Papua yang Muslim. Saya sangat yakin andaikan di Papua ini Islamnya bagus maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang ‘Baldatun thayibatun warabbun ghafur’ (negara yang baik dan selalu dalam ampunan Allah).”

Ulama yang beristrikan Umi Luluk Kholifah ini adalah Ketua HISSI (Himpunan Ilmuwan & Sarjana Syari’ah Indonesia Wilayah Timur Papua) dan Ketua IKSASS (Ikatan Santri Salafiyah Syafi’iyah Wilayah Timur Papua) serta Ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI Prov. Papua). Motto hidupnya cukup sederhana; “Hidup adalah ibadah dan bermanfaat untuk orang banyak”.

Boleh jadi Payage merupakan satu-satunya anak pendeta dari Papua yang kembali ke tanah kelahirannya untuk menyampaikan ajaran Islam. Al-Habib Umar bin Haifidz pernah berkata: ﻛﻞ ﻭﺍﺣﺪ ﻗﺮﺑﻪ ﻓﻰ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻣﻦ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﺇﻫﺘﻤﺎﻣﻪ بهذه الدعوة
“Esok di hari kiamat, kadar kedekatan seseorang dengan para nabi tergantung kadar kepeduliannya terhadap dakwah”. (*/MusliModerat.net)

Sumber: http://profil-cerita-santri.blogspot.com/2017/12/kh-saiful-islam-al-payage-anak-pendeta.html?m=1

Iklan.

You Might Also Like

23 Tahun, Istri Gus Dur Berkeliling Membersamai Dhuafa dan Kaum Marginal

Gus Dur

Etika Politik Gus Dur

“Amanat Ciganjur” Ingatkan Pemilu 2024 Tak Sekadar Berebut Kuasa

Gus Dur dan Jejak Perayaan Imlek di Indonesia

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Gubernur Khofifah ungkap tiga resep Jaga Persatuan saat Natal Bersama 2021
Next Article Gus Yahya: Ulama Al-Azhar Mesir kagum pada NU

Advertisement


Iklan.

Berita Terbaru

OPOP Jatim Hadiri Silaturahmi dan Temu NU Sedunia, Dorong Penguatan Ekonomi Warga Nahdliyin
Nahdliyyin
PBNU “Roadshow” 4 Provinsi, Gaungkan Gerakan Nasional “Pesantren Ramah Anak”
Nahdliyyin
Luncurkan GISNU, LAZISNU PCNU Sidoarjo Targetkan Manfaat Lebih Luas dan Merata
Nahdliyyin
603 Siswa Ikuti Seleksi Beasiswa PWNU Jatim bersama 17 PTN/PTS/PTNU
Nahdliyyin

You Might also Like

Gus File

GUS DUR DAN MAULID YESUS KRISTUS

25/12/2022
Gus File

Denny Cak Nan dan 5 Gus Manggung Bareng dalam Konser Akhir Tahun di Unesa

16/11/2022
Gus File

Alissa Wahid Raih Penghargaan NPPVA dari Jepang

31/10/2022
Gus File

Gusdurian Desak Demokratisasi Ekonomi dan Perhatian kepada UMKM

18/10/2022
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?