Bondowoso, radar96.com – Ribuan masyarakat dari berbagai wilayah di Kabupaten Bondowoso menghadiri Tabligh Akbar Festival Muharram 1448 Hijriah x Road to Fesyar SAMARA (Semarak Ekonomi Syariah Sekarkijang) yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Bondowoso bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember di Alun-Alun Bondowoso, Jumat (19/6/2026) malam.
Kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah tersebut menghadirkan Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, KHR. Achmad Azaim Ibrahimy, S.Sy., M.H., Ph.D., sebagai penceramah utama.
Acara juga diwarnai lantunan shalawat dari Majelis Sholawat Sokarajjeh yang menghidupkan suasana religius sepanjang kegiatan berlangsung.
Dalam sambutan singkatnya, Bupati Bondowoso KH. Abdul Hamid Wahid mengapresiasi Bank Indonesia Jember dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Festival Muharram 1448 H dan Road to Fesyar SAMARA.
Menurut beliau, kegiatan tersebut merupakan langkah strategis dalam memperkuat ekonomi syariah, mendukung pengembangan UMKM, serta memperluas akses pembiayaan syariah di Bondowoso.
Setelah pembukaan, ribuan jamaah menyimak mauidhoh hasanah yang disampaikan KHR. Achmad Azaim Ibrahimy.
Dalam ceramahnya, beliau mengajak masyarakat menjadikan Tahun Baru Islam sebagai momentum melakukan hijrah menuju kehidupan yang lebih baik.
“Malam ini kita masih dalam suasana memperingati tahun baru islam 1448 hijriah dengan berharap bahwa setiap diri kita semoga diberi kemampuan untuk melakukan hijrahnya, transformasi untuk menuju keadaan kondisi yang lebih baik lagi, seraya berharap wahai Allah dzat yang maha mengubah segala kondisi segala keadaan, ubahlah kondisi kami kepada keadaan kondisi yang lebih baik lagi ditahun yang akan datang yang akan dihadapi ini amiin ya rabbal alamin,” tutur beliau.
Menurut Kiai Azaim, kehidupan manusia sejak awal memang diciptakan oleh Allah SWT sebagai sarana ujian.
Beliau mengutip firman Allah SWT:
“Alladzi khalaqal mauta wal hayata liyabluwakum ayyukum ahsanu amala.”
Beliau menjelaskan bahwa tujuan akhir kehidupan bukan sekadar menjalani hidup, melainkan mencapai derajat ahsanu amala atau amal terbaik di hadapan Allah SWT.
“Tujuan akhirnya adalah siapa diantara kita yang mencapai target ahsan amal. Maka hidup itu adalah problem bahkan mati adalah problem tapi ada tawaran tawaran jawaban untuk menghadapi segala problematika kehidupan yang dikenal dengan spiritual problem solving. Islam memberikan tawaran yang jelas, kongkrit,” jelas beliau.
Dalam ceramahnya, Kiai Azaim menegaskan bahwa tidak ada satu pun manusia yang terbebas dari persoalan.
“Tidak ada satupun diantara kita yang tidak menghadapi masalah, para ulama dengan dinamika permasalahnnya, umara pun dengan dinamika permasalahannya, setiap orang didalam rumah tangga dengan dinamika keluarganya, anak dengan sesama seusia ada problem disana, setiap lembaga, setiap segmen kehidupan selalu ada masalah tinggal bagaimana kita menghadapinya sebagai tantangan ataukah ancaman atau bahkan menjadi peluang,” ujar beliau.
Karena itu, menurut beliau, Islam menawarkan solusi yang nyata agar manusia mampu menghadapi berbagai persoalan dengan tenang dan bijaksana.
“Alabidzikrillahi tatmainnal qulub maka dengan berdzikir kita berharap semoga allah anugrahkan hati kita tenang ketika kita tenang kita mampu menghadapi kehidupan ini dengan bijaksana,” kata beliau.
Beliau menegaskan bahwa ketenangan hati merupakan modal utama dalam menyikapi berbagai dinamika kehidupan.
Pada kesempatan tersebut, Kiai Azaim juga memperkenalkan dzikir jama’i yang diijazahkan oleh guru beliau, KH. Muhammad Ihya’ Ulumuddin.
Beliau menjelaskan bahwa ancaman terbesar manusia adalah siksa neraka sehingga manusia dianjurkan memperbanyak kalimat tauhid.
“Maka tawaran solusinya adalah berdzikir lailahaillah,” ungkap beliau.
Selain itu, manusia juga harus terus memperkuat hubungan dengan Allah SWT melalui dzikir.
“Allah, Allah, Allah,” tutur beliau.
Beliau juga menjelaskan tentang bahaya syirik, baik syirik yang nyata maupun syirik yang tersembunyi, seperti keinginan memperoleh pujian manusia dalam beribadah.
Menurut beliau, salah satu solusi yang dapat diamalkan adalah memperbanyak dzikir yang bersumber dari Surah Al-Ikhlas.
“Qul huwallahu ahad, maka perbanyaklah berdzikir huu allah, huu allah, huu allah,” jelas beliau.
Kiai Azaim juga mengingatkan bahwa dosa yang dilakukan manusia secara terus-menerus dapat menyebabkan kematian ruhani.
“Akibat perilaku manusia berbuat dosa maka berdampak kepada spiritualitasnya, kematian ruhani, yang itu bisa memisahkan antara manusia dengan Allah SWT sebagai dzat sumber energi kehidupan. Hati menjadi gelap. Kalau lampu yang mati kita masih bisa beraktifitas tapi kalau kemudian hati yang gelap maka sulit untuk menerima kebenaran,” tutur beliau.
Lebih lanjut, beliau menyoroti berbagai kegelisahan yang sering dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
“Cemas ada keresahan, begitu bahan bakar naik bingung resah, ada ancaman pangan resah, geopolitik resah, tantangan kesulitan dalam hidup jauh dari keberkahan ada anggapan bagaimana mencari yang halal, yang haram saja sulit, merusak hubungan baik dan peduli sama manusia,” kata beliau.
Menurut beliau, Rasulullah SAW telah memberikan solusi melalui amalan istighfar.
Beliau mengutip hadis Nabi Muhammad SAW:
“Man lazima al-istighfara ja’alallahu lahu min kulli hammin farajan, wa min kulli dhiqin makhrajan, wa razaqahu min haitsu la yahtasibu.”
“Siapa yang istiqomah menetapi dzikir istighfar maka allah pasti menjadikan untuknya jalan keluar dari setiap kesulitan, kesenangan dari setiap kesusahan, dan allah memberinya rezeki dari jalan yang tidak ia sangka,” terang beliau.
Kiai Azaim kemudian mengajarkan bacaan istighfar yang diijazahkan kepada jamaah.
“Astaghfirullah walilmu’minina wal mu’minat.”
Menurut beliau, bacaan tersebut mengandung dimensi sosial karena mengajarkan kepedulian terhadap sesama umat Islam.
“Sehingga kita tidak hanya secara individualis memohon ampun hanya urusan diri kita tapi bagaimana ada kepedulian sosial, walilmu’minina wal mu’minat bahkan jika perlu al ahya’i wal amwat,” ujar beliau.
Selain istighfar, beliau juga mengajak jamaah memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
“Nabipun memberikan apresiasi kepada seorang sohabat yang seluruh waktunya disibukkan untuk bersholawat, apa sabda nabi? Jika demikian niscaya hajatmu, keinginanmu dicukupi dan dosamu diampuni,” tutur beliau.
Beliau menegaskan bahwa shalawat merupakan salah satu jalan untuk meraih keberkahan hidup.
“Jika kita ingin succes kita ingin cita-cita dan harapan tercapai, hajat kita terkabulkan dan dosa kita diampuni perbanyaklah baca sholawat,” kata beliau.
Beliau kemudian mengajarkan bacaan:
“Shollallahalannabi Muhammad, shollallahalannabi Muhammad, shollallahalannabi Muhammad.”
Menjelang akhir ceramah, Kiai Azaim menyinggung isu penyesuaian daya listrik yang beberapa hari terakhir menjadi perhatian masyarakat. Menurut beliau, persoalan energi listrik mungkin dapat diatasi, namun umat Islam tidak boleh kehilangan energi yang paling utama, yaitu energi keimanan.
“Boleh kita menghadapi persoalan masalah dalam energy daya listrik tapi jangan sampai bermasalah yang terbesar tentang energy keimanan kita,” tegas beliau.
Sebagai penutup, beliau mengisahkan keteladanan Nabi Ibrahim AS yang tetap bertawakal kepada Allah SWT saat dilempar ke dalam kobaran api.
“Amma ilaika falaa, wa amma ilallahi fahuwa hasbii, hasbiyallahu wa ni’mal wakiil.”
Menurut beliau, keyakinan dan kepasrahan kepada Allah SWT merupakan sumber kekuatan terbesar dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Tabligh Akbar Festival Muharram 1448 H kemudian ditutup dengan dzikir basmalah, mahalul qiyam, dan doa yang dipimpin langsung oleh KHR. Achmad Azaim Ibrahimy bersama Majelis Sholawat Sokarajjeh di hadapan ribuan jamaah yang memenuhi lokasi kegiatan. (*/Rif)



