Bangkalan, Radar96.com – Pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura, Surokim Abdussalam mengatakan, undangan pertemuan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ke Partai Golkar adalah untuk memperkuat posisi mereka.
“Semua partai tentu tidak ingin hanya menjadi pelengkap saja dan ingin mendapat peran yang optimal dalam koalisi,” ujar Surokim ketika berbincang hari ini (06/02/23). Dalam koalisi berlaku siapa berbuat apa memperoleh apa dalam sharing power, yang aktif dan yang pasif biasanya ada perbedaan.
“Inisiatif PKB harus dibaca dalam konteks tersebut sebenarnya, ingin lebih proaktif sehingga memeroleh posisi tawar yg lebih kuat,” tambah Surokim. Dan kenapa PKB mengajak Golkar, karena untuk melengkapi basis massa PKB.
“Jika PKB tertarik mengajak Golkar tentu bukan tanpa alasan. Golkar sebagai partai modern urban dianggap akan melengkapi PKB sebagai partai berbasis rural tradisional dianggap akan saling melengkapi,” Jelas Surokim.
Pertemuan koalisi yang marak belakang ini, adalah bentuk dinamika politik. Pun rencana pertemuan PKB-Golkar. “Koalisi yanf ada saat ini menurut saya msh sementara, masih semu, masih tahap penjajakan awal dan belum permanen,” tandas Surokim.
Saat ini baik Golkar dan PKB menegaskan akan mengusung ketua umum masing-masing maju dalam Pilpres 2024. Airlangga Hartarto secara bulat didukung oleh Golkar melalui keputusan musyawarah nasional. Begitupun dengan Muhaimin Iskandar.
Sementara itu, pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul M Jamiluddin Ritonga menilai keinginan Cak Imin untuk mengajak Golkar bergabung ke Koalisi Gerindra-PKB sebagai hal yang wajar. Sebab, hingga saat ini koalisi yang terbentuk pada umumnya masih cair.
“Saat ini justru masing-masing koalisi dalam situasi rentan. Sebab, setiap koalisi sudah mulai membicarakan pasangan Capres yang akan diusung,” terangnya.
Menurutnya, tarik-menarik sesama partai politik di masing-masing koalisi akan menguat dan berpeluang menimbulkan ketidakpuasan di antara partai politik yang berkoalisi.
“Saat kondisi demikian, membuka ruang partai politik akan keluar atau masuk ke koalisi tertentu. Hal itu tampaknya yang ingin dimanfaatkan Cak Imin untuk menarik Golkar ke Koalisi Gerindra-PKB,” sambungnya.
Restu Istana
Kendati demikian, potensi keberhasilan Cak Imin juga patut ditimbang. Pertama, berkait dengan restu yang diberikan Jokowi dalam Pilpres 2024.
“Kalau KIB bentukan Istana, maka peluang Golkar pindah ke koalisi Gerindra-PKB sangat besar. Bahkan tidak menutup kemungkinan PAN dan PPP ikut bergabung. Tentu hal itu terjadi bila ada restu dari Istana. Namun restu itu diberikan bila Istana memang menginginkan Prabowo Subianto yang menjadi Capres,” sambungnya.
Kedua, Golkar akan menolak tawaran Cak Imin dan tetap berada di Koalisi Indonesia Bersatu. Golkar sebagai motor KIB, tentu akan lebih berupaya menciptakan KIB menjadi lebih kompetitif agar dapat menang pada Pilpres 2024.
“Bila KIB bukan bentukan Istana maka Golkar akan menolak tawaran Cak Imin. Golkar akan merasa lebih nyaman tetap bergabung di KIB,” tandasnya.
Pada titik itu, Golkar justru diprediksi akan berupaya balik untuk menarik PKB dalam KIB. “Namun peluang Golkar menarik PKB juga tidak mudah. Sebab, PKB tampaknya sudah nyaman bersama Gerindra,” pungkasnya.(***)




