By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Rais Aam PBNU soal Tarawih Cepat, Gus Baha’ soal Witir 2 kali salam
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kultural > Rais Aam PBNU soal Tarawih Cepat, Gus Baha’ soal Witir 2 kali salam
Kultural

Rais Aam PBNU soal Tarawih Cepat, Gus Baha’ soal Witir 2 kali salam

09/04/2023 Kultural
Rais Aam PBNU, KH. Miftachul Akhyar (foto: NU Online)
SHARE

Jakarta, Radar96.com/NUO – Membahas soal shalat tarawih cepat bahkan sampai 7 menit, Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar mengatakan bahwa durasi paling minimal dalam mengerjakan shalat tarawih adalah 30 menit.

“Pokoknya, umumnya shalat tarawih itu minimal setengah jam. Beda lagi kalau yang khusus itu bisa sampai 2 jam lebih,” kata Kiai Miftach dalam kajian online di kanal Multimedia KH Miftachul Akhyar yang dikutip, Kamis (6/4/2023).

Ia menegaskan bahwa baik shalat sunnah apalagi fardhu keduanya harus dilakukan secara tertib dan tuma’ninah. Secara sederhana dapat dipahami bahwa tuma’ninah dimaknai dengan khusyu dan melakukan gerakan shalat dengan tertib.

“Tuma’ninah itu wajib walaupun dalam shalat sunnah, jangan dibedakan dengan shalat fardhu,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Surabaya itu.

Terkait shalat tarawih di bulan Ramadhan, ia mengakui bahwa terdapat beberapa versi durasi pelaksanaannya, sebagian ada yang terlalu cepat, ada juga yang lebih lama.

Kiai Miftach tidak mempermasalahkan soal durasi atau waktunya yang berbeda-beda, hanya saja akan lebih baik lagi jika pelaksanaan shalat tarawih dilakukan dengan tenang tanpa terburu-buru.

“Shalat fardhu bisa tuma’ninah giliran shalat sunnah jungkalit-jungkalit seperti ayam. Itu nggak boleh,” tegasnya.

Ia membantah klaim bahwa meskipun shalat tarawih cepat tapi tetap memperhatikan makhraj bacaan dan lainnya. “Kita amati, katanya, bacaannya lengkap, itu nggak ada, nggak ada yang lengkap,” jelas dia.

Menurutnya, meskipun tarawih dengan durasi cepat dilakukan oleh orang yang kompeten dalam bidang agama, hal itu tetap tidak dianjurkan.

“Meskipun yang jadi imam punya kekramatan bisa ngelempit bacaan yang mestinya 5 menit jadi hanya sepersekian detik, sulit bisa diterima. Jadi, alasan apa pun nggak bisa diterima,” tandas Kiai Miftach.

Witir 3 Rakaat Dua Kali Salam

Sementara itu, Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha menjelaskan bahwa shalat witir 1 rakaat sekali salam atau tiga rakaat sekali salam itu sah.

Hal ini dijelaskannya sebagai bentuk jawaban atas kontroversi pelaksanaan shalat witir yang menggunakan istilah 3 rakaat 2 kali salam dan shalat witir 3 rakaat sekali salam.

Pendapat ini sesuai dengan hadits Nabi Muhammad:

مَثْنىَ مَثْنىَ فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ

“Dua rakaat, dua rakaat. Apabila kamu khawatir mendapati shubuh, maka hendaklah kamu shalat witir satu rakaat.” (HR. Bukhari)
“Harusnya witir itu kalau tidak mau resiko ya lakukan dua rakaat lalu tasyahud awal kemudian menambahkan satu rakaat lagi seperti shalat maghrib. Cuma cara ini tidak populer. Atau witirnya hanya satu rakaat saja, sah. Umumnya 3 rakaat dua salam,” jelas Gus Baha seperti dikutip dari akun Youtube Islamadina Official, Sabtu (1/4/2023).

Menurut Gus Baha, dalam kontroversi witir ini tidak usah dicari benar salahnya, karena lebih utama ialah melakukan shalat. Baik yang meyakini shalat witir langsung 3 rakaat sekali salam, 1 rakaat sekali salam atau 3 rakaat dua kali salam. Semoga saja Allah memberikan ampunan pada semuanya.

Witir itu yang kontroversi sudah pernah dibahas Imam Nawawi dalam kitabnya. Kata Gus Baha, shalat witir yang 2 rakaat lalu salam dan tambah 1 rakaat lagi itu secara keilmuan memang aneh. Karena shalat yang sudah salam dianggap shalat tersendiri, mandiri, tidak gabung. Tidak bisa berta’aluq ke shalat setelahnya.

“Khusus 3 rakaat dua salam di Indonesia para ulama mengakalinya dengan menambahkan kata minal witri sebelum shalat,” tegasnya. Lebih rinci Gus Baha menjelaskan, shalat tarawih yang diakhiri shalat witir 3 rakaat dengan konsep 2 rakaat salam lalu shalat lagi 1 rakaat memang terlihat aneh, namun tetap bisa dilakukan. Karena shalat witir, tapi jumlahnya dua. Sedangkan witir artinya ganjil.

Namun, jika dikatakan bahwa sebenarnya tiga, tapi nyicil dua dulu baru tambah lagi. Ini seakan menjelaskan kepada Allah, bahwa shalatnya bertahap, nyicil dulu.

“Karena arti shalat itu pekerjaan yang diawali takbir dan diakhiri salam. Tidak bisa shalat satu digantungkan (sempurna dikatakan witir) dengan menunggu shalat satunya lagi. Khawatirnya ketika 1 rakaat tersebut tidak dilakukan, maka dua rakaat sebelumnya ikut batal,” jelas Gus Baha. (*/NUO)

Sumber:
*) https://www.nu.or.id/nasional/soal-tarawih-cepat-rais-aam-tarawih-itu-minimal-30-menit-CnoON
*) https://www.nu.or.id/nasional/penjelasan-gus-baha-soal-shalat-witir-3-rakaat-dua-kali-salam-atau-3-rakaat-sekali-salam-SJzlw

Iklan.

You Might Also Like

30 Santri Tebuireng Tembus Universitas Al-Azhar Mesir

Kajian Senja Al-Yasmin, Gus Mujab: Haji itu soal Panggilan dan Mampu

Kajian Senja Al-Yasmin, Gus Mujab Ungkap 3 Alasan “Lailatulqadar” Dirahasiakan

KH A Muzakky Al Hafidz: Jika Diuji Allah Berarti Disayangi

Gus Mujab Jelaskan Lima Indikator “Kebahagiaan Sejati”

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Nuzulul Qur’an 1444 H, Gubernur Khofifah Umumkan 15 Pemenang Undian Umroh Wajib Pajak Patuh
Next Article ISNU: Bahasa Indonesia jadi bahasa ke-13 buku de-radikalisasi Al-Azhar Mesir

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

Produk OPOP Perluas Jejaring Usaha dalam Misi Dagang Jatim-Riau
Ekraf
Kepengurusan Baru 2026–2031, PKB Bondowoso libatkan ulama, pengasuh pesantren, kader senior, tokoh perempuan, pemuda, dan profesional
Sospol
Sekum PKC PMII Jatim: Jabatan Bukan Tameng Dugaan Korupsi
Sospol
Politik Kebangsaan: Warisan Para Muassis NU
Kolom Opini

You Might also Like

Kultural

KHA Muzakky Al-Hafidz: Hidup/Umur Itu Yang Penting Bukan Panjang/Pendek, tapi Berkah dan Manfaat

29/01/2026
Kultural

Kajian Senja Al-Yasmin, Gus Mujab: QS Ad-Dhuha Ajarkan Tiga Pilar Optimisme

22/01/2026
Kultural

Kajian Senja Al-Yasmin, Prof Ali Aziz: “Al ‘Ashr” Ajarkan 4 Spirit Terbaik Isi Waktu

08/01/2026
Kultural

KH Muhammad Imam Aziz: Penerus Api Perjuangan HAM Dan Keadilan, Meskipun Sudah Tiada

16/12/2025
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?