Surabaya, radar96.com – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur meminta Pengurus Cabang NU (PCNU) Kota Surabaya untuk menjaga agar NU tidak “turun derajat” melalui penguatan kemandirian/ekonomi warga dan tidak mementingkan kedekatan dengan penguasa.
“Kita semua harus menjaga agar NU tidak ‘turun derajat’ dengan lebih mementingkan kedekatan kepada penguasa atau kepentingan duniawi daripada kedekatan dengan Yang Maha Kuasa,” kata Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Machfud (Gus Kikin) dalam siaran pers PCNU Surabaya, Selasa.

Cicit pendiri NU Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari itu menyampaikan pesan itu saat menghadiri Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) II PCNU Kota Surabaya di Trawas, Mojokerto pada 16-17 Februari 2026 dengan tema “Sinergi Khidmat dan Langkah Selaras untuk Kemaslahatan Umat Berkelanjutan”.
“Jangan sampai NU mengalami penurunan kualitas pengabdian. Saya harapkan seluruh pengurus untuk melakukan muhasabah massal agar organisasi tidak terjebak dalam kepentingan pragmatis yang menjauhkan NU dari nilai-nilai asalnya. Kita semua harus menjaga agar NU tidak ‘turun derajat’ dengan mementingkan penguasa daripada Yang Maha Kuasa,” katanya.
Gus Kikin menekankan bahwa kemuliaan NU terletak pada kemandiriannya. Prinsip “Hidupkanlah NU, dan jangan mencari hidup di NU” kembali beliau gaungkan sebagai pengingat keras bagi para kader agar senantiasa mengedepankan keikhlasan dalam berkhidmah.
“Pentingnya menjaga independensi dan kemandirian NU itu terutama dalam menghadapi dinamika politik yang seringkali memecah belah persaudaraan. Persatuan dalam tubuh organisasi adalah harga mati yang tidak bisa ditawar,” katanya.
Menurut dia, menjaga persatuan dan ukhuwah itu jauh lebih penting daripada sekadar mengejar kepentingan kelompok sesaat. “Kita harus merangkul semua pihak agar NU tetap utuh dan solid,” katanya.
Dalam perspektif hubungan eksternal, Gus Kikin juga menyinggung pentingnya sinergi antara ulama dan pemerintah (umara), namun sinergi itu harus tetap dalam koridor kemaslahatan umat dan tidak boleh mengorbankan independensi NU sebagai institusi keagamaan yang menjadi rujukan moral bagi bangsa.
Menggarisbawahi arahan PWNU tersebut, Ketua PCNU Kota Surabaya, H. Masduki Toha, memaparkan penguatan ekonomi umat di Surabaya merupakan program prioritasnya, karena Surabaya memang merupakan pusat ekonomi.
“Kami bertekad untuk memberdayakan potensi ekonomi warga Nahdliyin secara profesional, karena kemandirian finansial itu merupakan kunci organisasi agar dapat menjalankan program-program sosial dan dakwahnya secara berdaulat tanpa harus bergantung pada donatur luar yang memiliki agenda tertentu,” katanya.
Menurut Masduki Toha, ekonomi umat adalah pilar kemandirian bersama. “Dengan memperkuat sektor ekonomi, kita tidak hanya menyejahterakan warga, tetapi juga memastikan bahwa dakwah dan khidmat NU dapat berjalan secara mandiri tanpa harus bergantung pada bantuan pihak manapun,” katanya.
Selama dua hari, Muskercab II diisi dengan sidang-sidang komisi yang produktif, mulai dari pembahasan inovasi dakwah digital hingga layanan kesehatan. Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi dalam menyelaraskan program-program kerja yang adaptif dengan kebutuhan generasi muda Surabaya.
“Melalui Muskercab ini, sinergi antara berbagai lembaga dan badan otonom di bawah naungan PCNU Surabaya diperkuat guna memastikan setiap gerak organisasi memberikan manfaat nyata bagi warga Nahdliyin. Setiap posisi dalam struktural NU adalah amanah besar. Jabatan bukanlah simbol status, melainkan beban tanggung jawab untuk melayani umat dan tanggung jawab moral kita kepada para pendiri,” katanya.
Oleh karena itu, penguatan organisasi hingga ke tingkat akar rumput adalah ukuran keberhasilan Muskercab. Ia mendorong agar setiap pengurus tidak hanya aktif di tingkat cabang, tetapi juga turun langsung mendampingi jamaah di kampung-kampung, memastikan bahwa kehadiran NU benar-benar dirasakan sebagai pelindung dan pelayan masyarakat. (*/pwnu#pcnu)



