By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Kiai Imam Jazuli: Kunci Kejayaan Abad Kedua NU adalah Transformasi Pemikiran dan Gerakan
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Nahdliyyin > Kiai Imam Jazuli: Kunci Kejayaan Abad Kedua NU adalah Transformasi Pemikiran dan Gerakan
Nahdliyyin

Kiai Imam Jazuli: Kunci Kejayaan Abad Kedua NU adalah Transformasi Pemikiran dan Gerakan

07/08/2026 Nahdliyyin
SHARE

Jakarta, radar96.com – Pengasuh Pondok Bina Insan Mulia Cirebon KH Imam Jazuli menegaskan bahwa kunci kejayaan masa depan Nahdlatul Ulama atau Abad Kedua NU sangat ditentukan oleh fikroh atau cara berpikir dan gerakan dari warga dan pengurusnya, bukan ber-NU sebatas keturunan.

Menurut dia, warga Nahdliyin tidak cukup hanya mewarisi identitas ke-NU-an dari keluarga. Identitas tersebut juga perlu dibangun melalui kesadaran intelektual, ideologis, dan gerakan yang relevan dengan perkembangan zaman.

Hal itu disampaikan Imam saat menjadi narasumber dalam agenda bedah buku “Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdliyyah dalam Perspektif KH Ma’ruf Amin” di Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Kiai Imam menilai, buku tersebut memiliki keunikan karena tidak hanya menjelaskan identitas NU, tetapi juga mengajak warga NU memahami cara menjalankan peran sebagai Nahdliyin.

“Buku ini unik, menarik, dan spesial, karena bicara tentang bagaimana ber-NU. Ber-NU ini tidak cukup hanya karena keturunan, hanya karena kekerabatan, dan hanya karena keluarga, tapi juga harus berlandaskan kepada kesadaran, intelektualitas, dan ideologis,” ujar Kiai Imam.

Fikroh menjadi pangkal perubahan
Kiai Imam Jazuli menjelaskan, buku tersebut menempatkan fikroh sebagai fondasi utama dalam membangun peradaban NU.

Menurut dia, berbagai persoalan yang dihadapi umat Islam saat ini, mulai dari keterbelakangan, kemiskinan, hingga kebodohan, berakar pada cara berpikir yang keliru.

Ia menyebut, pola pikir fatalistik menjadi salah satu penyebab umat sulit keluar dari berbagai persoalan.

Karena itu, buku yang mengulas pemikiran KH Ma’ruf Amin tersebut mengajak warga NU membangun fikroh yang moderat atau tawassuth. Fikroh itu, kata Kiai Imam, tidak ekstrem dan tidak liberal, tetapi tetap berpijak pada khazanah keilmuan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah atau turats keislaman.

“Semangat yang dibangun buku ini adalah mengajak kita memiliki fikroh yang benar. Turats tetap menjadi pijakan, tetapi harus dipahami secara kontekstual, tidak sekadar tekstual,” katanya.

Teks agama perlu dibaca sesuai realitas
Pada aspek manhaj, Kiai Imam menilai buku tersebut mengajarkan pentingnya membaca teks keagamaan sesuai realitas masyarakat.

Menurut dia, teks agama bukan sesuatu yang mati. Teks keagamaan perlu terus berdialog dengan perubahan zaman agar tetap menghadirkan kemaslahatan.

Ia mencontohkan Imam Syafi’i yang memiliki qaul qadim dan qaul jadid. Bagi Imam, hal itu menunjukkan bahwa perubahan konteks sosial dapat melahirkan ijtihad baru.

“Sayangnya, sekarang kita sering hanya kembali kepada qaul lama, padahal yang dibutuhkan adalah kesadaran untuk melakukan kontekstualisasi terhadap teks keagamaan,” ujarnya.

Dorong semangat islah dan tajdid
Kiai Imam melihat benang merah buku tersebut terletak pada dorongan melakukan islah atau perbaikan dan tajdid atau pembaruan.

Ia mengaku beberapa kali berdiskusi langsung dengan KH Ma’ruf Amin. Dari diskusi tersebut, Imam merasakan keprihatinan Ma’ruf terhadap kejumudan cara berpikir yang masih terjadi di kalangan umat.

“Beliau berkali-kali mengajak kepada semangat al-islah ila ma huwal aslah, bergerak menuju keadaan yang lebih baik. Buku ini mengajak warga NU berani melakukan perubahan karena zaman sudah berubah,” katanya.

Kiai Imam bahkan menilai terdapat irisan pemikiran antara KH Ma’ruf Amin dan gagasan pembaru Islam Hasan Hanafi. Irisan itu terutama terlihat pada pentingnya mereinterpretasi tradisi agar mampu menjawab kebutuhan zaman.

Dakwah NU harus bertransformasi
Pada aspek harakah, Kiai Imam menekankan bahwa metode dakwah NU juga perlu mengikuti perkembangan teknologi.

Menurut dia, masyarakat kini hidup di era digital. Karena itu, dakwah tidak cukup dilakukan dengan pendekatan konvensional.

“Tidak cukup warga NU berdakwah dengan cara lama. Hari ini orang sudah menggunakan digitalisasi dan media sosial. NU juga harus mampu beradaptasi dengan perubahan itu,” ujarnya.

Harakah siyasah dinilai penting
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Imam juga menyoroti belum banyaknya pembahasan mengenai harakah siyasah dalam buku tersebut.

Menurut dia, perjalanan KH Ma’ruf Amin sebagai ulama, organisatoris, anggota DPR RI, hingga Wakil Presiden RI menunjukkan bahwa politik dapat menjadi bagian dari pengabdian kepada agama, organisasi, dan bangsa.

Ia berpandangan, kekuatan jam’iyah sebesar NU memerlukan dukungan strategi politik yang sehat dan berkeadaban agar mampu menjaga keberlanjutan perjuangan organisasi.

“Politik dimaknai oleh KH Ma’ruf sebagai khidmah kepada agama, jam’iyah, dan bangsa. Sebuah ideologi besar tidak akan bertahan kuat tanpa didukung kekuatan siyasah. Karena itu, harakah siyasah menjadi bagian penting untuk membangun jam’iyah NU di masa depan,” pungkasnya. (*/rng/fpnu)

Iklan.

You Might Also Like

Gus Kikin: Qanun Asasi itu Lebih Tinggi dari AD/ART

Majelis Dzikir/Sholawat Al-Yasmin Surabaya doakan suksesnya Muktamar Ke-35 NU

Cangkrukan Ekonomi Pancasila, PWNU Jatim Tegaskan Keberpihakan NU terhadap Perjuangan UMKM

Prof Asrorun Ni’am Ditunjuk Pimpin Karteker PWNU Jambi, Pengamat: Figur Pemimpin Muda untuk Abad Kedua NU

NU Care-LAZISNU Jatim Buka Beasiswa Santri Tahfidz 2026

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Gus Kikin: Qanun Asasi itu Lebih Tinggi dari AD/ART

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

Gus Kikin: Qanun Asasi itu Lebih Tinggi dari AD/ART
Nahdliyyin
MENGGAGAS MEMILIH KETUA UMUM PBNU SECARA BERJENJANG
Kolom
Majelis Dzikir/Sholawat Al-Yasmin Surabaya doakan suksesnya Muktamar Ke-35 NU
Nahdliyyin
MUNAS III PERJASI & APTAKSINDO 2026 USUNG TEMA “BERSATU, BERKARYA, MEMBANGUN NEGERI”: 15 BPP SIAP HADIR
Sospol

You Might also Like

Nahdliyyin

Jelang Muktamar ke-35 NU, Usulan Pelembagaan AHWA Menguat untuk Supremasi Keulamaan

02/08/2026
Nahdliyyin

MONETISASI MUKTAMAR: HADIYYAH, GRATIFIKASI, DAN RISYWAH

02/08/2026
Nahdliyyin

Panitia Lokal Muktamar Ke-35 NU Gunakan istilah “Tower” Permudah koordinasi pelayanan tamu

01/08/2026
Nahdliyyin

Gus Kikin: Qanun Asasi Jadi Warisan Terbesar Hadratussyaikh KHM Hasyim Asy’ari

31/07/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?