Bondowoso, radar96.com – Pemeriksaan kesehatan masih kerap dipahami sebagai kebutuhan ketika seseorang mulai merasakan sakit. Pola pikir tersebut menjadi salah satu perhatian politisi yang juga Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Fraksi PKB, Dr. Hj. Nihayatul Wafiroh, M.A., saat mendorong masyarakat Bondowoso membangun budaya kesehatan yang lebih preventif.
Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi Budaya Mutu dan Keselamatan Pasien di Fasilitas Pelayanan Kesehatan di Graha NU Bondowoso, Rabu (12/8/2026).
Kegiatan tersebut diikuti ratusan Muslimat dari berbagai wilayah di Kabupaten Bondowoso.
Nihayatul Wafiroh merupakan perempuan kelahiran Banyuwangi, 15 Desember 1979, yang tumbuh besar dalam lingkungan keluarga pesantren. Ia merupakan anak asli daerah yang sejak kecil berada di lingkungan Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi.
Selain menjalankan tugas sebagai Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Fraksi PKB, Nihayatul juga dipercaya sebagai Ketua Umum DPP Perempuan Bangsa periode 2024–2029, organisasi sayap perempuan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Dalam kegiatan tersebut, Nihayatul menilai pembangunan kesehatan tidak cukup hanya berbicara mengenai ketersediaan rumah sakit, puskesmas, tenaga kesehatan maupun pembiayaan.
Kesadaran masyarakat untuk menggunakan fasilitas kesehatan secara tepat sebelum penyakit berkembang juga menjadi bagian penting.
Ia kemudian mendorong masyarakat memanfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang merupakan salah satu program unggulan pemerintah.
“Kita mendorong bagaimana masyarakat ini bisa segera untuk cek kesehatan gratis. Apalagi di sini sudah UHC, Universal Health Coverage. Masyarakat bisa menggunakan KTP maupun kartu BPJS untuk cek kesehatan,” ujar Nihayatul.
Menurutnya, keberadaan akses pelayanan kesehatan harus diikuti perubahan paradigma. Masyarakat tidak semestinya menunggu sakit terlebih dahulu baru mendatangi fasilitas kesehatan.
“Masyarakat masih berpikir males datang ke puskesmas karena sehat kok. Kalau belum sakit mereka belum datang. Kita harus meyakinkan bahwa ini kaitannya bukan soal sakit, ini kaitannya sebelum sakit harus datang,” tegasnya.
Nihayatul menyebut pola preventif menjadi semakin penting ketika melihat ancaman penyakit tidak menular. Penyakit tersebut dapat berkembang tanpa selalu disadari masyarakat dan pada akhirnya dapat menimbulkan beban kesehatan maupun pembiayaan yang lebih besar.
“Penyakit yang paling banyak membunuh di Indonesia ini adalah penyakit yang tidak menular. Dan yang paling banyak menghabiskan dana BPJS itu adalah penyakit yang tidak menular,” jelasnya.
Menurutnya, sebagian risiko penyakit tidak menular sebenarnya dapat diantisipasi melalui pemeriksaan kesehatan, deteksi dini, serta perubahan pola hidup. Karena itu, CKG seharusnya tidak dipandang sekadar sebagai layanan gratis, tetapi sebagai kesempatan masyarakat mengetahui kondisi kesehatan sebelum muncul persoalan yang lebih serius.
“Dengan cek kesehatan gratis ini kita berharap masyarakat bisa mengantisipasi penyakit itu jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga masyarakat bisa lebih hidup sehat dan tentu pengeluaran BPJS bisa lebih ditekan,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat juga mendapatkan sosialisasi mengenai fasilitas pelayanan kesehatan serta berbagai jenis penyakit, baik penyakit menular maupun penyakit tidak menular.
Nihayatul secara khusus mendorong perempuan untuk menjadi bagian dari gerakan membangun kesadaran kesehatan keluarga. Menurutnya, informasi yang diperoleh dalam sosialisasi tidak cukup berhenti di ruang pertemuan, tetapi perlu diteruskan kepada keluarga dan lingkungan sekitar.
Ia menilai perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun kebiasaan hidup sehat di tingkat keluarga. Dengan pengetahuan yang cukup, keluarga diharapkan lebih peka terhadap kondisi kesehatan sekaligus tidak terlambat dalam melakukan pemeriksaan.
Di sisi lain, rendahnya pemanfaatan CKG di Bondowoso menjadi tantangan yang perlu dijawab bersama. Persoalannya bukan semata apakah fasilitas tersedia, tetapi apakah masyarakat memiliki kesadaran untuk datang dan memanfaatkannya.
Nihayatul menegaskan bahwa urusan kesehatan tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada pemerintah maupun tenaga kesehatan. Setiap individu juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan memastikan kondisi kesehatannya.
“Kita harus meyakinkan kepada masyarakat agar tidak ragu. Yang namanya kesehatan itu adalah tanggung jawab kita masing-masing. Oleh sebab itu sebelum sakit harus datang untuk memeriksakan diri, memastikan diri kita sehat,” ujarnya.
Melalui sosialisasi tersebut, Nihayatul berharap masyarakat Bondowoso mulai menggeser cara pandang dari pola kuratif menuju preventif. Pemeriksaan kesehatan tidak lagi diposisikan sebagai respons setelah penyakit muncul, melainkan sebagai langkah untuk menjaga agar penyakit tidak terlambat diketahui.
Sebab, keberhasilan program kesehatan pada akhirnya bukan hanya ditentukan oleh pemerintah yang menyediakan fasilitas, tetapi juga oleh masyarakat yang bersedia menggunakannya.
Tantangan sesungguhnya bukan sekadar membuat masyarakat memiliki akses terhadap layanan kesehatan, tetapi membangun kesadaran bahwa datang ke fasilitas kesehatan saat merasa sehat justru merupakan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri. (Rif) Wafiroh merupakan perempuan kelahiran Banyuwangi, 15 Desember 1979, yang tumbuh besar dalam lingkungan keluarga pesantren. Ia merupakan anak asli daerah yang sejak kecil berada di lingkungan Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi.
Selain menjalankan tugas sebagai Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Fraksi PKB, Nihayatul juga dipercaya sebagai Ketua Umum DPP Perempuan Bangsa periode 2024–2029, organisasi sayap perempuan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Dalam kegiatan tersebut, Nihayatul menilai pembangunan kesehatan tidak cukup hanya berbicara mengenai ketersediaan rumah sakit, puskesmas, tenaga kesehatan maupun pembiayaan. Kesadaran masyarakat untuk menggunakan fasilitas kesehatan secara tepat sebelum penyakit berkembang juga menjadi bagian penting.
Ia kemudian mendorong masyarakat memanfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang merupakan salah satu program unggulan pemerintah.
“Kita mendorong bagaimana masyarakat ini bisa segera untuk cek kesehatan gratis. Apalagi di sini sudah UHC, Universal Health Coverage. Masyarakat bisa menggunakan KTP maupun kartu BPJS untuk cek kesehatan,” ujar Nihayatul.
Menurutnya, keberadaan akses pelayanan kesehatan harus diikuti perubahan paradigma. Masyarakat tidak semestinya menunggu sakit terlebih dahulu baru mendatangi fasilitas kesehatan.
“Masyarakat masih berpikir males datang ke puskesmas karena sehat kok. Kalau belum sakit mereka belum datang. Kita harus meyakinkan bahwa ini kaitannya bukan soal sakit, ini kaitannya sebelum sakit harus datang,” tegasnya.
Nihayatul menyebut pola preventif menjadi semakin penting ketika melihat ancaman penyakit tidak menular. Penyakit tersebut dapat berkembang tanpa selalu disadari masyarakat dan pada akhirnya dapat menimbulkan beban kesehatan maupun pembiayaan yang lebih besar.
“Penyakit yang paling banyak membunuh di Indonesia ini adalah penyakit yang tidak menular. Dan yang paling banyak menghabiskan dana BPJS itu adalah penyakit yang tidak menular,” jelasnya.
Menurutnya, sebagian risiko penyakit tidak menular sebenarnya dapat diantisipasi melalui pemeriksaan kesehatan, deteksi dini, serta perubahan pola hidup. Karena itu, CKG seharusnya tidak dipandang sekadar sebagai layanan gratis, tetapi sebagai kesempatan masyarakat mengetahui kondisi kesehatan sebelum muncul persoalan yang lebih serius.
“Dengan cek kesehatan gratis ini kita berharap masyarakat bisa mengantisipasi penyakit itu jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga masyarakat bisa lebih hidup sehat dan tentu pengeluaran BPJS bisa lebih ditekan,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat juga mendapatkan sosialisasi mengenai fasilitas pelayanan kesehatan serta berbagai jenis penyakit, baik penyakit menular maupun penyakit tidak menular.
Nihayatul secara khusus mendorong perempuan untuk menjadi bagian dari gerakan membangun kesadaran kesehatan keluarga. Menurutnya, informasi yang diperoleh dalam sosialisasi tidak cukup berhenti di ruang pertemuan, tetapi perlu diteruskan kepada keluarga dan lingkungan sekitar.
Ia menilai perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun kebiasaan hidup sehat di tingkat keluarga. Dengan pengetahuan yang cukup, keluarga diharapkan lebih peka terhadap kondisi kesehatan sekaligus tidak terlambat dalam melakukan pemeriksaan.
Di sisi lain, rendahnya pemanfaatan CKG di Bondowoso menjadi tantangan yang perlu dijawab bersama. Persoalannya bukan semata apakah fasilitas tersedia, tetapi apakah masyarakat memiliki kesadaran untuk datang dan memanfaatkannya.
Nihayatul menegaskan bahwa urusan kesehatan tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada pemerintah maupun tenaga kesehatan. Setiap individu juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan memastikan kondisi kesehatannya.
“Kita harus meyakinkan kepada masyarakat agar tidak ragu. Yang namanya kesehatan itu adalah tanggung jawab kita masing-masing. Oleh sebab itu sebelum sakit harus datang untuk memeriksakan diri, memastikan diri kita sehat,” ujarnya.
Melalui sosialisasi tersebut, Nihayatul berharap masyarakat Bondowoso mulai menggeser cara pandang dari pola kuratif menuju preventif. Pemeriksaan kesehatan tidak lagi diposisikan sebagai respons setelah penyakit muncul, melainkan sebagai langkah untuk menjaga agar penyakit tidak terlambat diketahui.
Sebab, keberhasilan program kesehatan pada akhirnya bukan hanya ditentukan oleh pemerintah yang menyediakan fasilitas, tetapi juga oleh masyarakat yang bersedia menggunakannya.
Tantangan sesungguhnya bukan sekadar membuat masyarakat memiliki akses terhadap layanan kesehatan, tetapi membangun kesadaran bahwa datang ke fasilitas kesehatan saat merasa sehat justru merupakan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri. (*/Rif)



