By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Cek Kesehatan Jangan Menunggu Sakit, Politisi DPR RI Nihayatul Wafiroh Dorong Budaya Preventif di Bondowoso
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Sospol > Cek Kesehatan Jangan Menunggu Sakit, Politisi DPR RI Nihayatul Wafiroh Dorong Budaya Preventif di Bondowoso
Sospol

Cek Kesehatan Jangan Menunggu Sakit, Politisi DPR RI Nihayatul Wafiroh Dorong Budaya Preventif di Bondowoso

13/08/2026 Sospol
SHARE

Bondowoso, radar96.com – Pemeriksaan kesehatan masih kerap dipahami sebagai kebutuhan ketika seseorang mulai merasakan sakit. Pola pikir tersebut menjadi salah satu perhatian politisi yang juga Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Fraksi PKB, Dr. Hj. Nihayatul Wafiroh, M.A., saat mendorong masyarakat Bondowoso membangun budaya kesehatan yang lebih preventif.

Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi Budaya Mutu dan Keselamatan Pasien di Fasilitas Pelayanan Kesehatan di Graha NU Bondowoso, Rabu (12/8/2026).

Kegiatan tersebut diikuti ratusan Muslimat dari berbagai wilayah di Kabupaten Bondowoso.

Nihayatul Wafiroh merupakan perempuan kelahiran Banyuwangi, 15 Desember 1979, yang tumbuh besar dalam lingkungan keluarga pesantren. Ia merupakan anak asli daerah yang sejak kecil berada di lingkungan Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi.

Selain menjalankan tugas sebagai Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Fraksi PKB, Nihayatul juga dipercaya sebagai Ketua Umum DPP Perempuan Bangsa periode 2024–2029, organisasi sayap perempuan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Dalam kegiatan tersebut, Nihayatul menilai pembangunan kesehatan tidak cukup hanya berbicara mengenai ketersediaan rumah sakit, puskesmas, tenaga kesehatan maupun pembiayaan.

Kesadaran masyarakat untuk menggunakan fasilitas kesehatan secara tepat sebelum penyakit berkembang juga menjadi bagian penting.

Ia kemudian mendorong masyarakat memanfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang merupakan salah satu program unggulan pemerintah.

“Kita mendorong bagaimana masyarakat ini bisa segera untuk cek kesehatan gratis. Apalagi di sini sudah UHC, Universal Health Coverage. Masyarakat bisa menggunakan KTP maupun kartu BPJS untuk cek kesehatan,” ujar Nihayatul.

Menurutnya, keberadaan akses pelayanan kesehatan harus diikuti perubahan paradigma. Masyarakat tidak semestinya menunggu sakit terlebih dahulu baru mendatangi fasilitas kesehatan.

“Masyarakat masih berpikir males datang ke puskesmas karena sehat kok. Kalau belum sakit mereka belum datang. Kita harus meyakinkan bahwa ini kaitannya bukan soal sakit, ini kaitannya sebelum sakit harus datang,” tegasnya.

Nihayatul menyebut pola preventif menjadi semakin penting ketika melihat ancaman penyakit tidak menular. Penyakit tersebut dapat berkembang tanpa selalu disadari masyarakat dan pada akhirnya dapat menimbulkan beban kesehatan maupun pembiayaan yang lebih besar.

“Penyakit yang paling banyak membunuh di Indonesia ini adalah penyakit yang tidak menular. Dan yang paling banyak menghabiskan dana BPJS itu adalah penyakit yang tidak menular,” jelasnya.

Menurutnya, sebagian risiko penyakit tidak menular sebenarnya dapat diantisipasi melalui pemeriksaan kesehatan, deteksi dini, serta perubahan pola hidup. Karena itu, CKG seharusnya tidak dipandang sekadar sebagai layanan gratis, tetapi sebagai kesempatan masyarakat mengetahui kondisi kesehatan sebelum muncul persoalan yang lebih serius.

“Dengan cek kesehatan gratis ini kita berharap masyarakat bisa mengantisipasi penyakit itu jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga masyarakat bisa lebih hidup sehat dan tentu pengeluaran BPJS bisa lebih ditekan,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat juga mendapatkan sosialisasi mengenai fasilitas pelayanan kesehatan serta berbagai jenis penyakit, baik penyakit menular maupun penyakit tidak menular.

Nihayatul secara khusus mendorong perempuan untuk menjadi bagian dari gerakan membangun kesadaran kesehatan keluarga. Menurutnya, informasi yang diperoleh dalam sosialisasi tidak cukup berhenti di ruang pertemuan, tetapi perlu diteruskan kepada keluarga dan lingkungan sekitar.

Ia menilai perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun kebiasaan hidup sehat di tingkat keluarga. Dengan pengetahuan yang cukup, keluarga diharapkan lebih peka terhadap kondisi kesehatan sekaligus tidak terlambat dalam melakukan pemeriksaan.

Di sisi lain, rendahnya pemanfaatan CKG di Bondowoso menjadi tantangan yang perlu dijawab bersama. Persoalannya bukan semata apakah fasilitas tersedia, tetapi apakah masyarakat memiliki kesadaran untuk datang dan memanfaatkannya.

Nihayatul menegaskan bahwa urusan kesehatan tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada pemerintah maupun tenaga kesehatan. Setiap individu juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan memastikan kondisi kesehatannya.

“Kita harus meyakinkan kepada masyarakat agar tidak ragu. Yang namanya kesehatan itu adalah tanggung jawab kita masing-masing. Oleh sebab itu sebelum sakit harus datang untuk memeriksakan diri, memastikan diri kita sehat,” ujarnya.

Melalui sosialisasi tersebut, Nihayatul berharap masyarakat Bondowoso mulai menggeser cara pandang dari pola kuratif menuju preventif. Pemeriksaan kesehatan tidak lagi diposisikan sebagai respons setelah penyakit muncul, melainkan sebagai langkah untuk menjaga agar penyakit tidak terlambat diketahui.

Sebab, keberhasilan program kesehatan pada akhirnya bukan hanya ditentukan oleh pemerintah yang menyediakan fasilitas, tetapi juga oleh masyarakat yang bersedia menggunakannya.

Tantangan sesungguhnya bukan sekadar membuat masyarakat memiliki akses terhadap layanan kesehatan, tetapi membangun kesadaran bahwa datang ke fasilitas kesehatan saat merasa sehat justru merupakan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri. (Rif) Wafiroh merupakan perempuan kelahiran Banyuwangi, 15 Desember 1979, yang tumbuh besar dalam lingkungan keluarga pesantren. Ia merupakan anak asli daerah yang sejak kecil berada di lingkungan Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi.

Selain menjalankan tugas sebagai Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Fraksi PKB, Nihayatul juga dipercaya sebagai Ketua Umum DPP Perempuan Bangsa periode 2024–2029, organisasi sayap perempuan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Dalam kegiatan tersebut, Nihayatul menilai pembangunan kesehatan tidak cukup hanya berbicara mengenai ketersediaan rumah sakit, puskesmas, tenaga kesehatan maupun pembiayaan. Kesadaran masyarakat untuk menggunakan fasilitas kesehatan secara tepat sebelum penyakit berkembang juga menjadi bagian penting.

Ia kemudian mendorong masyarakat memanfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang merupakan salah satu program unggulan pemerintah.

“Kita mendorong bagaimana masyarakat ini bisa segera untuk cek kesehatan gratis. Apalagi di sini sudah UHC, Universal Health Coverage. Masyarakat bisa menggunakan KTP maupun kartu BPJS untuk cek kesehatan,” ujar Nihayatul.

Menurutnya, keberadaan akses pelayanan kesehatan harus diikuti perubahan paradigma. Masyarakat tidak semestinya menunggu sakit terlebih dahulu baru mendatangi fasilitas kesehatan.

“Masyarakat masih berpikir males datang ke puskesmas karena sehat kok. Kalau belum sakit mereka belum datang. Kita harus meyakinkan bahwa ini kaitannya bukan soal sakit, ini kaitannya sebelum sakit harus datang,” tegasnya.

Nihayatul menyebut pola preventif menjadi semakin penting ketika melihat ancaman penyakit tidak menular. Penyakit tersebut dapat berkembang tanpa selalu disadari masyarakat dan pada akhirnya dapat menimbulkan beban kesehatan maupun pembiayaan yang lebih besar.

“Penyakit yang paling banyak membunuh di Indonesia ini adalah penyakit yang tidak menular. Dan yang paling banyak menghabiskan dana BPJS itu adalah penyakit yang tidak menular,” jelasnya.

Menurutnya, sebagian risiko penyakit tidak menular sebenarnya dapat diantisipasi melalui pemeriksaan kesehatan, deteksi dini, serta perubahan pola hidup. Karena itu, CKG seharusnya tidak dipandang sekadar sebagai layanan gratis, tetapi sebagai kesempatan masyarakat mengetahui kondisi kesehatan sebelum muncul persoalan yang lebih serius.

“Dengan cek kesehatan gratis ini kita berharap masyarakat bisa mengantisipasi penyakit itu jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga masyarakat bisa lebih hidup sehat dan tentu pengeluaran BPJS bisa lebih ditekan,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat juga mendapatkan sosialisasi mengenai fasilitas pelayanan kesehatan serta berbagai jenis penyakit, baik penyakit menular maupun penyakit tidak menular.

Nihayatul secara khusus mendorong perempuan untuk menjadi bagian dari gerakan membangun kesadaran kesehatan keluarga. Menurutnya, informasi yang diperoleh dalam sosialisasi tidak cukup berhenti di ruang pertemuan, tetapi perlu diteruskan kepada keluarga dan lingkungan sekitar.

Ia menilai perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun kebiasaan hidup sehat di tingkat keluarga. Dengan pengetahuan yang cukup, keluarga diharapkan lebih peka terhadap kondisi kesehatan sekaligus tidak terlambat dalam melakukan pemeriksaan.

Di sisi lain, rendahnya pemanfaatan CKG di Bondowoso menjadi tantangan yang perlu dijawab bersama. Persoalannya bukan semata apakah fasilitas tersedia, tetapi apakah masyarakat memiliki kesadaran untuk datang dan memanfaatkannya.

Nihayatul menegaskan bahwa urusan kesehatan tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada pemerintah maupun tenaga kesehatan. Setiap individu juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan memastikan kondisi kesehatannya.

“Kita harus meyakinkan kepada masyarakat agar tidak ragu. Yang namanya kesehatan itu adalah tanggung jawab kita masing-masing. Oleh sebab itu sebelum sakit harus datang untuk memeriksakan diri, memastikan diri kita sehat,” ujarnya.

Melalui sosialisasi tersebut, Nihayatul berharap masyarakat Bondowoso mulai menggeser cara pandang dari pola kuratif menuju preventif. Pemeriksaan kesehatan tidak lagi diposisikan sebagai respons setelah penyakit muncul, melainkan sebagai langkah untuk menjaga agar penyakit tidak terlambat diketahui.

Sebab, keberhasilan program kesehatan pada akhirnya bukan hanya ditentukan oleh pemerintah yang menyediakan fasilitas, tetapi juga oleh masyarakat yang bersedia menggunakannya.

Tantangan sesungguhnya bukan sekadar membuat masyarakat memiliki akses terhadap layanan kesehatan, tetapi membangun kesadaran bahwa datang ke fasilitas kesehatan saat merasa sehat justru merupakan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri. (*/Rif)

Iklan.

You Might Also Like

Gubernur Apresiasi Umaha atas 200 Beasiswa Penuh dan 800 Bantuan Pendidikan

ISNU Surabaya adakan Bedah Buku “Mozaik Kehidupan” karya Dosen UINSA Dr Yusuf Amrozi

DPP LPKAN INDONESIA: DI TENGAH TANTANGAN GLOBAL, POLRI DI BAWAH JENDERAL LISTYO SIGIT BUKTIKAN KINERJA DAN LAYAK DIDUKUNG PENUH

Gandeng University of Manchester, Unusa Kembangkan Riset Perkembangan Otak Sejak dalam Rahim

Jadi Pimpinan Termuda, Afif Amrullah Siap Perkuat Transformasi BAZNAS Jatim

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Gubernur Apresiasi Umaha atas 200 Beasiswa Penuh dan 800 Bantuan Pendidikan
Next Article Sukseskan Muktamar 35 NU, HPN Perkuat Ekosistem Bisnis Nahdliyin dengan Rembug Saudagar

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

Sukseskan Muktamar 35 NU, HPN Perkuat Ekosistem Bisnis Nahdliyin dengan Rembug Saudagar
Nahdliyyin
Gubernur Apresiasi Umaha atas 200 Beasiswa Penuh dan 800 Bantuan Pendidikan
Sospol
MUKTAMAR NU KE-35 JOMBANG: Rivalitas sebagai Uji Kompetensi Kepemimpinan, Konsistensi Aswaja, dan Resolusi NU Menuju Peradaban Abad ke-2
Uncategorized
ISNU Surabaya adakan Bedah Buku “Mozaik Kehidupan” karya Dosen UINSA Dr Yusuf Amrozi
Sospol

You Might also Like

Sospol

DMI Jatim Tanam 300 Bibit Alpukat Tandai “Eco Green Masjid” di Banyuwangi

09/08/2026
Sospol

MUNAS III PERJASI & APTAKSINDO 2026 USUNG TEMA “BERSATU, BERKARYA, MEMBANGUN NEGERI”: 15 BPP SIAP HADIR

07/08/2026
Sospol

KHA Muzakky Alhafidz: Tanda Cinta Allah adalah Ujian

06/08/2026
Sospol

Soroti Pergeseran Aspirasi Warga Bondowoso, DPRD: Program Pemberdayaan Kini Lebih Dibutuhkan

06/08/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?