Surabaya, radar96.com – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur mencanangkan ngaji/pengajian rutin Kitab Al-Hikam karya sufi Ibnu Atha’illah untuk menandai Hari Santri Nasional (HSN) 2026, namun ngaji kitab tasawuf itu akan dimulai secara rutin setiap Selasa bakda Asar.
“Ngaji rutin Al-Hikam itu akan diawali dengan pembukaan oleh Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim KH Abdul Matin Djawahir pada Selasa 29 September 2026 dan selanjutnya akan diteruskan oleh Gus Firjaun (Pj Ketua PWNU Jatim KHM Balya Firjaun Barlaman) dan pengurus lain,” kata Katib Syuriah PWNU Jatim KHM Ahsanul Haq di Surabaya, Selasa.

Di sela-sela Rapat Harian PWNU Jatim untuk HSN 2026, ia menjelaskan Ketua Panitia HSN 2026 PWNU Jatim dipimpin oleh HM Mus’tain (Wakil Ketua PWNU), Sekretaris Panitia HSN 2026 HM Wafiyul Ahdil (Wakil Sekretaris PWNU), Bendahara H Yoke CK (Bendahara PWNU), dan didukung pengurus lain serta pimpinan lembaga di PWNU Jatim.

“Untuk bentuk kegiatan akan dibahas bersama antara PWNU Jatim, Panitia HSN 2026, dan sejumlah Lembaga PWNU Jatim, seperti Lembaga Ta’lif wan Nasr (LTN) PWNU Jatim yang sudah mengusulkan HSN Super League, Rembuk Media bertajuk ‘NU Pasca-Muktamar’, dan sebagainya,” katanya.
Selain itu, usulan dari pengurus harian dan pengurus lembaga lainnya, PWNU Jatim juga merencanakan kegiatan optimalisasi aset LWP PWNU Jatim di Prigen-Malang, khataman Al-Qur’an secara rutin bersama Jamqur-khodam NU, penguatan nilai-nilai Aswaja di semua lini, dan sebagainya.
Tentang perubahan kepengurusan PWNU Jatim pasca-Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang (27-31/8/2026), Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim KH Abdul Matin Djawahir menyatakan pleno penetapan kepengurusan PWNU Jatim pasca-Ketua PWNU Jatim KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) menjadi Ketua Umum PBNU masih menunggu PBNU.
“Pleno di PWNU Jatim itu menunggu kelengkapan kepengurusan PBNU dan pleno PBNU, karena mungkin saja ada pengurus PWNU Jatim yang ditarik ke kepengurusan PBNU. Kita tunggu saja, tapi Gus Firjaun sebagai Pj Ketua ya jalan terus. Yang jelas, sopir NU itu bisa siapa saja, tapi trayek NU itu tetap yakni nilai-nilai Qonun Asasi dan Aswaja,” katanya. (*/fpnu)



