Jombang, radar96.com – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) 2026-2031, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) dan Pesantren Tebuireng memiliki sejarah yang sangat panjang dengan negara Palestina, yakni keterlibatan aktif KH M Hasyim Asy’ari dalam menyuarakan kemerdekaan Palestina.
“Kita memiliki hubungan yang sangat panjang dengan Palestina. Tahun 1938, Kiai Hasyim Asy’ari menyuarakan kemerdekaan bagi Palestina,” ujarnya pada acara Muhadharoh ‘Ammah di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Ahad (27/09/2026).

Muhadharoh ‘Ammah merupakan suatu kunjungan utusan Palestina. Kunjungan itu dihadiri Utusan Khusus dan Penasihat Presiden Palestina Bidang Agama dan Hubungan Islam HE Dr Mahmoud Sedqi Abdalrahman Alhabbash, Imam Besar Masjid Al Aqsa HE Syekh Mohammad Ahmed Mohammed Hussein, dan Duta Besar Palestina untuk Indonesia HE Abdalfatah Ahmed Khalil Alsattari.
Muhadhoroh Ammah menjadi momentum penting untuk mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam suasana keilmuan, keumatan, dan kemanusiaan. Pertemuan tersebut diharapkan membuka ruang dialog yang lebih luas mengenai kondisi Palestina, peran umat Islam, serta pentingnya menjaga persaudaraan antarbangsa.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pertemuan dengan Pengasuh di ndalem kasepuhan, kemudian berziarah di Maqbaroh Hadratussyeikh KH. M. Hasyim Asy’ari dan dilanjutkan dengan sarasehan serta dialog bersama para tokoh Palestina dan ulama, sekaligus ruang untuk memperkuat kesadaran bersama mengenai nilai-nilai kemanusiaan, perdamaian, keadilan, dan penghormatan terhadap hak-hak bangsa Palestina.
KH. Abdul Hakim Mahfudz menegaskan bahwa pentingnya ukhuwah islamiah dan peran pesantren menjadi ruang terbuka bagi dialog dan penguatan kepedulian terhadap berbagai persoalan kemanusiaan. Kehadiran tokoh-tokoh Palestina di Tebuireng sekaligus menjadi kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk mendengar langsung perspektif dan pengalaman dari para tokoh yang berada dekat dengan persoalan Palestina. Pesantren Tebuireng sendiri menegaskan komitmennya untuk terus mempererat tali silaturahmi serta kerja sama lintas negara, khususnya dengan Palestina. Komitmen ini merupakan bentuk konsistensi dalam meneladani jalur perjuangan Pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari.
Gus Kikin menyampaikan bahwa KH. Hasyim Asy’ari tidak hanya mengabdikan hidupnya untuk dakwah keagamaan dan perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, tetapi juga memiliki wawasan geopolitik Islam yang kuat serta solidaritas internasional yang tinggi. “Solidaritas untuk Palestina bukan hal baru bagi Tebuireng dan Nahdlatul Ulama. Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari telah meneladankannya sejak masa-masa awal perjuangan. Beliau memelopori pembacaan Qunut Nazilah secara konsisten untuk mendoakan keselamatan rakyat Palestina, sebuah tradisi spiritual dan solidaritas yang terus kita jaga hingga hari ini,” ujar Gus Kikin.
Gus Kikin juga menjelaskan, Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia di mana mayoritas merupakan warga Nahdliyin memiliki tanggung jawab moral dan strategis untuk mengambil peran aktif di panggung internasional.
Oleh karena itu, penguatan hubungan internasional, terutama di bidang pendidikan dan kebudayaan, menjadi langkah krusial untuk masa depan lembaga pendidikan Islam di Indonesia.
Sementara itu, kehadiran Imam Besar Masjid Al-Aqsa serta Penasihat Presiden Palestina Bidang Keagamaan memberikan dimensi keagamaan yang kuat dalam forum tersebut. Masjid Al-Aqsa bukan hanya memiliki kedudukan penting bagi umat Islam, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah dan identitas bangsa Palestina. (*/fpnu)



