Jember, radar96.com — Ikatan Santri Nurul Qornain (ISNUQ) Jember mulai memperkuat pendidikan keorganisasian di lingkungan pesantren melalui penyelenggaraan Pendidikan Dasar Keorganisasian (PDO), Sabtu (10/10/2026).
Kegiatan perdana yang berlangsung di Pondok Pesantren Nurul Qornain, Desa Balet Baru, Kecamatan Sukowono, Kabupaten Jember, tersebut diikuti 250 santri, mahasiswa, dan mahasantri.
Kegiatan yang dipusatkan di Aula Lantai 2 Kantor Pusat Pondok Pesantren Nurul Qornain itu menjadi ruang pembekalan bagi peserta untuk memahami dasar-dasar organisasi dan kepemimpinan. Peserta berasal dari lima lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Nurul Qornain.
Lima lembaga tersebut meliputi SMK Nurul Qornain, Madrasah Aliyah Nurul Qornain, Mu’adalah Aliyah Nurul Qornain, Institut Agama Islam KH. Yazid Karimullah (INSYAKA), serta Ma’had Aly Nurul Qornain.
Untuk memperkuat materi kepemimpinan, panitia menghadirkan Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (PC GP) Ansor Bondowoso, Fathor Rozi, sebagai salah satu narasumber. Ia membawakan materi bertajuk “Keorganisasian & Kepemimpinan: Bekal Santri dan Mahasiswa Menjadi Pemimpin Masa Depan”.
Dalam pemaparannya, Fathor Rozi menjelaskan bahwa organisasi merupakan ruang pembelajaran yang memberi pengalaman berbeda dari proses belajar di kelas. Melalui keterlibatan dalam organisasi, santri dan mahasiswa dapat mengasah kemampuan komunikasi, mengatur waktu, menyelesaikan masalah, serta membangun jaringan.
“Selain di dalam kelas, ilmu juga didapat di organisasi. Organisasi melatih empat skill utama: public speaking, manajemen waktu, problem solving, dan networking,” ujar Fathor Rozi.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya menggabungkan nilai adab yang dipelajari di pesantren dengan kemampuan berpikir yang dikembangkan di perguruan tinggi.
Menurutnya, santri memiliki modal adab, sedangkan mahasiswa memiliki modal nalar. Keduanya dapat saling melengkapi dalam membentuk karakter pemimpin masa depan.
Materi kepemimpinan turut membahas lima gaya kepemimpinan, yaitu otokratis, demokratis, karismatik, transformasional, dan servant leadership atau kepemimpinan melayani. Fathor Rozi menekankan bahwa pemimpin santri perlu mengutamakan pelayanan kepada orang-orang yang dipimpinnya.
Prinsip tersebut sejalan dengan ungkapan “Sayyidul qoumi khodimuhum”, yang berarti pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka. Nilai itu menjadi pengingat bahwa kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan amanah untuk memberikan manfaat kepada lingkungan.
Ketua Panitia PDO, Muhammad Lutfi, mengatakan kegiatan tersebut diinisiasi untuk membekali santri dan mahasiswa agar tidak hanya memiliki keunggulan dalam bidang keilmuan agama, tetapi juga mampu menjalankan peran organisasi secara baik.
“Santri Nurul Qornain harus siap menjadi pemimpin, baik di pesantren, di kampus, maupun di masyarakat. Ini adalah PDO pertama, insyaAllah akan menjadi program berkelanjutan,” ungkapnya.
Selain penyampaian materi, peserta terlibat dalam pembahasan berbagai persoalan organisasi beserta alternatif penyelesaiannya. Mereka juga diarahkan menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) sebagai langkah awal untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan.
Pembekalan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pemahaman teoritis. Peserta didorong untuk membawa hasil pembelajaran ke dalam aktivitas organisasi di pesantren, kampus, maupun masyarakat, sehingga keterampilan kepemimpinan dapat berkembang melalui pengalaman nyata.
Penyelenggaraan PDO perdana ini menjadi langkah awal ISNUQ dalam merancang kaderisasi yang berkelanjutan. Dengan melibatkan peserta dari berbagai jenjang pendidikan, kegiatan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan generasi yang mampu mengelola organisasi sekaligus menjalankan tanggung jawab sosial.
Forum ditutup dengan pesan, “Pemimpin besar tidak menciptakan pengikut, pemimpin besar menciptakan pemimpin baru.” Pesan tersebut menegaskan bahwa salah satu ukuran keberhasilan seorang pemimpin adalah kemampuannya menyiapkan generasi penerus yang mandiri, berkarakter, dan siap mengambil tanggung jawab. (*/⁴Rif)



