Surabaya (Radar96.com) – Ketua Majelis Alumni (MA) IPNU Jatim meminta IPNU Jatim bersikap satu suara dan satu komando dalam pencalonan dan program pada Kongres XX IPNU di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, 15-17 Agustus 2022.
“Kontingen Jawa Timur harus kompak satu suara dan tidak terbelah satu komando untuk memenangkan Calon dari Jawa Timur yang sudah disepakati dalam Rakerwil Jatim beberapa waktu yang lalu, karena kalau tidak akan berpengaruh pada kebersamaan dalam membangun IPNU Jatim ke depan,” kata Ketua MA IPNU Jatim H Muzammil Syafii di Surabaya, Rabu (10/8/2022).
Politisi NU itu juga berpesan agar kontingen Jatim menghindari politik uang atau pengaruh politik saat dilakukan pemilihan Ketua Umum, karena hal itu yang akan merusak jati diri IPNU Ke depan karena akan terbelenggu pada memenuhi kehendak orang orang yang membiayai atau yang mempengaruhi, artinya IPNU harus mampu mandiri dengan menentukan siapa yang dikehendaki oleh Kongres, bukan kehendak dari orang yang mempunyai kepentingan pada IPNU karena sebentar lagi adalah tahun politik agar tidak diseret seret pada kepentingan politik tertentu, dengan tetap berpolitik kebangsaan dan politik ke NU an.
Juga, hendaknya Kongres ini membuat keputusan keputusan strategis dalam menyongsong 100 tahun Jam’iyah NU dalam bidang kepelajran, terutama sekali dalam mengembangkan ajaran Ahlussunnah Wal jamaah pada segmentasi pelajar di era digital dan keterbukaan ini.
Karena saat ini, semakin besar pengaruh ideologi non aswaja pada kaum muda, terutama sekali faham radikalisme dan intoleran.
Selain itu, IPNU harus mampu menjawab tantangan pelajar dan kaum muda dalam membangun eksistensi diri sebagai organisasi Kader NU yang mampu memberikan solusi pada persoalan kaum muda dalam membangun jiwa intelektual dan enterpreunership, sehingga menjadi organisasi yang mandiri dan mampu menciptakan kemandirian pada anggotanya.

Persoalan ketertinggalan SDM kaum muda NU dari organisasi lain harus dikejar dengan bisa memberikan peluang adanya pendidikan dengan beasiswa, baik S2 maupun S3 di semua sektor, sehingga perlu mensinergikan kaum muda NU yang berbasis pesantren dan Sekolah.
“Bukankah kelak, mereka sebagai tampuk pemimpin NU baik Syuriyah maupun Tanfidziyah juga Nasional,” katanya.
Tentang PKPT IPNU dan IPPNU di Perguruan Tinggi, ia menilai sampai saat ini masih sangat diperlukan dalam membina kader IPNU yang sudah berproses sebelum masuk Perguruan Tinggi untuk tetap eksis dalam barisan NU sampai suatu saat dibentuk Ikatan Mahasiswa NU hasil Kongres NU yang berikutnya.
“Kalau tidak, dikhawatirkan banyak yang terpengaruh aliran aliran yang tidak sesuai dengan Aswaja,” katanya. (*/pna)



