By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Pesantren Virtual
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kultural > Pesantren Virtual
Kultural

Pesantren Virtual

06/01/2021 Kultural
Pesantren Virtual. Foto: Kumparan.com
SHARE

Muhammad Niam punya rutinitas baru di bulan Ramadan tahun ini. Ia kembali membuka-buka kitab Hidayatul Adzkiya karya Syeikh Zainnudin al-Malibari. Kitab yang membahas pengantar tasawuf ini ia siapkan untuk menjadi materi program Ramadan pesantrenvirtual.com yang diasuhnya. Ia dan sang istri, Kamilia Hamidah, mencetuskan ide untuk menyiarkan langsung kajian Hidayatul Adzkiya melalui laman Facebook pesantrenvirtual.com.

“Jadi kami ingin mengajak masyarakat untuk mengenal kitab ulama klasik,” kata Kamilia, kepada kumparan (26/5/2019).

Kajian kitab Hidayatul Adzkiya dimulai tiap pukul delapan malam setiap harinya sejak hari pertama Ramadan. Bila sesuai rencana, ke depan penonton bisa berinteraksi langsung dengan Niam melalui kolom komentar di laman Facebook. Format kajian semacam itu sedang diuji coba untuk mencari model ideal.

Menurut Kamilia, perkembangan teknologi tak bisa diabaikan agar dakwah bisa menjangkau banyak orang. Itu sebabnya, pesantrenvirtual.com berusaha terus berinovasi mengikuti perkembangan zaman. Pesantrenvirtual.com merupakan satu dari sekian banyak model pembelajaran agama secara online.

Gagasan membuat pesantren virtual muncul menjelang awal tahun 2000-an. Saat itu, Kamila masih menempuh pendidikan sarjana di Islamic International University di Islamabad, Pakistan. Ia dan Niam —yang saat itu belum menjadi suaminya— terusik dengan pertanyaan sesama mahasiswa di luar negeri perihal fikih ibadah.

Di forum diskusi online yang mereka buat, anggota grup sedang ramai membahas durasi puasa di luar negeri. “Kalau misal puasanya di atas 14 jam gimana? Apakah kita boleh berbuka ngikutin standar Indonesia atau bagaimana?,” katanya, mengenang pertanyaan yang menjadi bahan diskusi hangat itu.

Masih ada sederet pertanyaan seputar ibadah keseharian lain yang muncul. Berangkat dari sana, Muhammad Niam, yang sedang mengambil studi shari’ah and law, sekaligus computer science, melontarkan ide mengembangkan program kajian ilmu keislaman memanfaatkan media internet yang sedang booming.

“Kemudian kita bentuk tim untuk menjawab respons pertanyaan-pertanyaan itu. Kita buka kitab waktu itu, kemudian kita tuliskan, kita publish di web,” ujar Kamilia menuturkan.

Lambat laun, situs itu mendapat respons positif pengunjung. Sajian yang ditawarkan pesantrenvirtual.com rupanya punya pengunjung loyal. Situs itu selalu masuk empat besar halaman pencarian di mesin Google untuk tema fikih.

Capaian itu tak lantas membuat Niam dan Kamilia berambisi membuat situsnya lebih besar. Keduanya bisa saja menggaet lebih banyak pengunjung bila membahas isu-isu populis yang sedang hangat.

Pesantrenvirtual.com, menurut Kamila, harus tetap di jalur keilmuan Islam. Materi di pesantrenvirtual.com menggunakan kitab kuning, yang biasa digunakan di pesantren konvensional, sebagai rujukan.

“Jadi lebih kepada hikmah, kemudian masalah-masalah etika, kemudian permasalahan tasawuf, kemudian tanya jawab masalah fiqih keseharian, kemudian amalan-amalan salat dan sebagainya,” ungkapnya.

Pesantrenvirtual.com dibangun tidak dengan pandangan keagamaan yang kaku. Pendekatan yang digunakan pun tak mengarah pada penokohan pada ulama atau perspektif tertentu. Setiap kajian yang disampaikan kepada peserta lebih bersifat komparatif.

“Pendapat-pendapat ulama itu dipaparkan semuanya. Artinya, masyarakat itu kita ajak untuk melihat bahwa oh ternyata perbedaan pendapat ulama itu ada,” jelasnya.

Harapannya, para ‘santri’ terstimulasi untuk membaca kitab-kitab karya para ulama. Isu-isu kontroversial, kata Kamila, sengaja dihindari. Tujuannya agar suasana belajar tetap kondusif dan tak memicu perpecahan.

Sembari berpegang pada garis dakwah itu, pesantrenvirtual.com terus mengadopsi perkembangan teknologi mutakhir. Kini, ada beberapa saluran yang digunakan untuk menjangkau audiens, dari media sosial hingga aplikasi pesan instan.
Peserta kajian di grup WhatsApp dan Telegram pesantrenvirtual.com berkisar 350-an anggota. Sementara pengikut fanpage di Facebook sudah menyentuh 50 ribuan akun.

Anggota pesantrenvirtual.com bukan hanya berasal dari kalangan yang awam urusan agama. Ada pula mereka yang punya cukup pengetahuan agama memadai.

Ulya Fikriyati, misalnya, merupakan lulusan pesantren. Ia kini juga menjadi dosen bidang ilmu tafsir di sebuah perguruan tinggi agama Islam. Meski demikian, dari kacamatanya, keberadaan pesantrenvirtual.com membantu memberi wawasan keagamaan bagi masyarakat.

Bagi orang yang punya kesibukan harian yang tak bisa ditinggalkan, menurutnya, model pesantren ini bisa menjadi solusi. Seseorang bisa tetap beraktivitas, tanpa meninggalkan kajian keagamaan. “Bisa kita akses kapan aja saya kira itu jadi nilai plusnya,” ungkap Ulya.

Teleconference
Model pesantren virtual di Indonesia juga diperkenalkan oleh Abdul Rohman Siddiq. Bedanya, pria asal Sukoharjo itu memilih mengembangkan metode pembelajaran khusus untuk bahasa Arab yang bisa diakses secara online. Pria 31 tahun itu membuat Pesantren Virtual Bahasa Arab Al Madinah sebagai sebuah lembaga pendidikan nonformal.

Ide awalnya muncul setelah Siddiq meraih gelar sarjana dari Al Madinah International University (MEDIU), yang berbasis virtual. Ia terinspirasi untuk menerapkan model pembelajaran yang sama untuk lembaga pendidikan bahasa Arab.

“Tahun 2013-2014 belum ada yang namanya pesantren virtual (bahasa Arab). Jadi memang saya ingin menjadikan yang pertama berdiri waktu itu,” ungkap Siddiq kepada kumparan melalui sambungan telepon (27/5/2019).

Siddiq berjibaku mendirikan pesantren virtual seorang diri. Ia merangkap penggagas, perumus kurikulum dan silabus, sekaligus konseptor infrastruktur teknologi informasi di balik berdirinya Al Madinah.

Sesuai visi awal berdirinya Al Madinah, Siddiq yang pernah mondok di pesantren dari jenjang SD hingga SMA itu ingin menggaet para santri yang tinggal di luar negeri. Ia juga berharap bisa memfasilitasi santri-santri dari pelosok dengan berbagai latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang kesulitan mendapat akses pembelajaran bahasa Arab.

Soal kepengurusan pesantren virtual Al Madinah, lanjut Siddiq, tidak serumit lembaga pendidikan pada umumnya. Siddiq menjabat posisi pimpinan, dia dibantu oleh petugas administrasi dan seorang tenaga pengajar.

Program yang ditawarkan terdiri dari empat kategori. Masing-masing dibagi ke dalam beberapa kelas sesuai kebutuhan santri. Pertama program regular 1 tahun melalui teleconference dan web, lalu program super intensif 3 bulan melalui teleconference dan grup Whatsapp, program short course setiap akhir tahun belajar tentang nahwu, dan program spesial Ramadan belajar tentang shorof. Ada pula program insidental untuk berhasil menembus seleksi LIPIA Jakarta.

“Program super intensif 3 bulan yang paling ramai peminatnya,” kata Siddiq.

Biaya program pembelajaran bahasa Arab yang dikelola Siddiq bervariasi. Mulai dari Rp125 ribu untuk short course, hingga Rp650 ribu untuk program 1 tahun yang terdiri dari dua semester.

Biaya ini hanya trik Siddiq untuk memacu santri serius belajar. “Karena mereka sudah merasa mengeluarkan finansial mau enggak mau mereka harus belajar secara serius,” terangnya.

Di Al Madinah, pembelajaran bahasa Arab bukanlah satu-satunya program yang ditawarkan Siddiq. Pria yang saat ini berdomisili di Semarang ini juga menyediakan kelas Ulum As Syar’iyyah. Namun syarat santri yang ingin mempelajari ilmu-ilmu syar’i yakni sudah menguasai bahasa Arab.

“Modul atau buku yang digunakan full bahasa Arab, kemudian tugas-tugas yang diberikan full bahasa Arab,” lanjutnya.

Jika ingin mendaftar sebagai salah satu santri di pesantren ini, Siddiq menerapkan batasan usia minimal 18 tahun, sedangkan usia maksimal tidak dibatasi. Bahkan, kata Siddiq, pernah ada santri yang usianya 60 tahun.

Setelah memenuhi persyaratan, santri yang belajar di Al Madinah akan mengikuti proses pembelajaran melalu berbagai media seperti teleconference, Whatsapp grup dan melalui website. Metode belajar dengan teleconference, kata Siddiq, menjadi salah satu keunggulan pesantrennya.

“Mereka (pesantren virtual lain) kebanyakan hanya bertahan di segmen media pembelajarannya WA grup, sedangkan kita masih berusaha mempertahankan berbasis web sama teleconference,” katanya.

Untuk menjamin kualitas para santri yang belajar di Al Madinah, ada serangkaian ujian yang diberlakukan Siddiq, termasuk memberikan tugas, ujian tengah semester hingga ujian kelulusan yang harus diikuti para santri.

Siddiq tak akan mentolerir santrinya yang ogah-ogahan mengikuti program pembelajaran bahasa Arab. Bila ada santri yang tiga kali berturut-turut mangkir mengerjakan tugas, Siddiq akan menghentikan program pembelajaran yang masih berjalan.

“Kita off kan itu, (konsekuensi) sudah disampaikan ketika daftar,” katanya.

Namun jika santri berhasil melewati rangkaian ujian dan dinyatakan lulus dalam ujian penentuan, Al Madinah akan mengeluarkan sertifikat kelulusan untuk mereka. Meski, menurut Siddiq, dokumen tersebut lebih bersifat informal.

“Karena kita masih nonformal maka belum bisa misalkan untuk transfer ke jenjang S1 dan sebagainya,” kata Siddiq.

Eksistensi pesantren virtual juga masuk radar pantau Kementerian Agama, melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren. Direkturnya, Ahmad Zayadi, menggarisbawahi bahwa pesantren virtual tak masuk dalam nomenklatur pesantren yang ditangani instansinya.

“Mungkin lebih pas menggunakan istilah pengajian virtual atau online untuk menjelaskan mengenai aktivitas ini,” kata Zayadi.

Ia menjelaskan, setidaknya ada rukun dan jiwa pesantren yang menjadi syarat sebuah lembaga pendidikan dikategorikan sebagai pesantren. Rukun pesantren yakni, memiliki kyai sebagai pimpinan atau pengasuh pesantren, ada masjid atau mushalla, asrama, santri mukim dan pengajian kitab kuning.

“Salah satu dari rukun tersebut tidak terpenuhi, maka tidak bisa dikatakan sebagai pesantren,” tegas Zayadi.

Adapun jiwa pesantren merujuk berjiwa NKRI, punya nilai keilmuan, keikhlasan, kesederhanaan, persaudaraan, kemandirian, kebebasan dan keseimbangan. Artinya, keberadaan “pesantren virtual” dipertanyakan dari sisi kelembagaan.

Tak serta-merta pula pemerintah lantas mematikan inovasi metode pembelajaran. Menurut Zayadi, pesantren yang ada saat ini justru didorong untuk mengadopsi perkembangan teknologi. Misalnya, kata dia, dengan membuat situs atau membuat konten berupa video.

“Ini kami anggap sebagai inovasi metode pembelajaran, bahkan kami sangat menganjurkan sebagai bagian dari penguatan literasi bagi pemilik otoritas keagamaan agar suara-suara mereka juga terdengar ke masyarakat,” paparnya.

Di sisi lain, Zayadi mengapresiasi kemunculan “pesantren virtual” sebagai bentuk perluasan akses masyarakat terhadap ilmu agama. Meski ia mengingatkan, “Belajar di pesantren itu tidak hanya ‘belajar tentang Agama’, tetapi ‘belajar tentang bagaimana beragama’, karena itu tatap muka antara santri dan kiyainya (praktek) sebagai metode pembelajaran khas pesantren tetap harus dipertahankan sebagai bagian dari penyampaian sanad keilmuan.

Sumber:
https://kumparan.com/kumparannews/nyantri-di-pesantren-virtual-1rB3yRMShqN/full (30 Mei 2019)

Iklan.

You Might Also Like

Kajian Senja Al-Yasmin, Gus Mujab Ungkap 3 Alasan “Lailatulqadar” Dirahasiakan

KH A Muzakky Al Hafidz: Jika Diuji Allah Berarti Disayangi

Gus Mujab Jelaskan Lima Indikator “Kebahagiaan Sejati”

KHA Muzakky Al-Hafidz: Hidup/Umur Itu Yang Penting Bukan Panjang/Pendek, tapi Berkah dan Manfaat

Kajian Senja Al-Yasmin, Gus Mujab: QS Ad-Dhuha Ajarkan Tiga Pilar Optimisme

TAGGED: marwah kultural, pesantren, pesantren online, pesantren virtual
Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Presiden dan Agama
Next Article MZ dan Gus Firjaun Gus Firjaun dan Gus MD apresiasi laman www.radar96.com

Advertisement



Berita Terbaru

Membaca Paslon Pimpinan NU di Muktamar NU ke-35
Kolom
Sowan Rektor, Pesantren Digipreneur Al Yasmin Perkuat Kolaborasi dengan UPN “Veteran” Jawa Timur
Sospol
Siap Diajak Diskusi, ISNU Jatim: Penutupan Prodi Kependidikan Tidak Boleh Tergesa-gesa
Nahdliyyin
Hari Puisi Nasional, Unusa Luncurkan Buku Puisi Karya Dosen dan Hadirkan Sejumlah Tokoh Sastra
Sospol

You Might also Like

Kultural

Kajian Senja Al-Yasmin, Prof Ali Aziz: “Al ‘Ashr” Ajarkan 4 Spirit Terbaik Isi Waktu

08/01/2026
Kultural

KH Muhammad Imam Aziz: Penerus Api Perjuangan HAM Dan Keadilan, Meskipun Sudah Tiada

16/12/2025
Kultural

Kembangkan 190 Varian Anggur, Ponpes Jatinom Blitar Calon Penerima Eco Pesantren Jatim

17/11/2025
Kultural

Pesantren Ribath Futuhatunnur Toro Gelar Maulid Nabi

21/09/2025
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?