Jakarta (Radar96.com/NUO) – Alif.id dan Nahdlatut Turots bekerjasama dengan PCINU Belanda, KBRI Belanda, Djarum Foundation dan Vrije Universitait of Amsterdam memamerkan Manuskrip Ulama Nusantara yang bertajuk “The Traversing of Islam Nusantara in the Netherlands” di Universitas Vrije Amsterdam, Belanda, 3-14 Juni 2022.
Pameran yang dibuka pada 2 Juni 2022 tersebut merupakan kegiatan pendukung pada “3rd Biennial International Conference: Reimagining Religion and Values in Time of (Societal) Crisis” itu memamerkan beberapa materi berupa fragmen manuskrip-manuskrip tua ulama Nusantara yang berasal dari abad ke-19 dan awal abad ke-20 M dan tersimpan di Perpustakaan Pesantren al-Akhyar Tambakagung, Bangkalan, Madura, Jawa Timur dan Pesantren Tawangsari, Sidoarjo, Jawa Timur.
Koleksi yang dikurasi oleh filolog santri A Ginanjar Sya’ban tersebut adalah khat kaligrafi yang ditulis oleh Syaikhona KH Muhammad Kholil bin Abdul Lathif dari Bangkalan, Madura (w. 1925), yang dikenal dengan nama Syaikhona Kholil Bangkalan, salah satu tokoh sentral yang sangat menentukan dalam sejarah perkembangan agama Islam di Hindia Belanda, khususnya di wilayah Sunda-Jawa-Madura pada peralihan abad ke-19 dan 20 M.
Syaikhona Kholil Bangkalan juga tercatat sebagai mahaguru para ulama pendiri Nahdlatul Ulama seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahhab Chasbullah, KH Bisyri Syansuri, dan KH Ma’shum Lasem.
Fragmen manuskrip lainnya adalah catatan Syaikh Abdul Mannan Dipomenggolo Tremas, Pacitan, Jawa Timur (w. 1282 Hijri/1865 Masehi). Abdul Mannan Dipomenggolo adalah kakek dari Syaikh Mahfuzh Tremas (w. 1920), atau Muhammad Mahfuzh bin ‘Abdullah bin ‘Abd al-Mannan al-Tarmasi al-Jawi al-Makki, seorang ulama besar Nusantara yang mengajar di Masjidil Haram dan menulis sejumlah karya penting.
Catatan tersebut berisi keterangan yang menjelaskan posisi pengambilan pendapat ulama Syafi’iyyah ketika didapati perbedaan di antara mereka. Paragraf pertama ditulis dalam Bahasa Arab, sementara paragraf kedua dalam Bahasa Jawa aksara Arab (Pegon). Abdul Mannan Dipomenggolo juga mengutip pendapat gurunya, yaitu Syaikh Muhammad Umar Syatha yang menjabat sebagai mufti Syafi’iyyah di Makkah.
Selain itu, terdapat juga fragmen manuskrip berisi ungkapan salam dan doa dari KH Ismail Tambakagung kepada Syaikhona Kholil Bangkalan yang tak lain adalah gurunya. Dalam manuskrip tersebut juga, didapati kutipan pernyataan dari Syaikhona Kholil Bangkalan yang berisi pentingnya beragama secara moderat dan proporsional, yaitu seimbangnya ilmu syari’at dan hakikat.
Terdapat pula fragmen manuskrip berisi sertifikat haji yang diberikan oleh mufti Syafi’iyyah di Makkah, Sayyid Ahmad Zainî Dahlân (w. 1886) kepada KH Sholeh Tambakagung Bangkalan (Madura), dengan titimangsa 1285 Hijri (1868 Masehi).

Terdapat pula manuskrip sertifikat ziarah Masjid Nabawi di Madinah yang diberikan oleh ulama Syafi’iyyah di Masjid Nabawi di Madinah, Syaikh Khalîl Tâyib kepada KH Sholeh Tambakagung dengan titimangsa yang sama.
Fragmen manuskrip lainnya yang dipamerkan adalah Doa Agar Dijauhkan dari Wabah yang terdapat dalam manuskrip kitab Habl al-Mukhtashar yang ditulis oleh Muhammad Abdul Hadi Madura. Ijazah doa tersebut didapatkan dari Syaikh Abdul Ghafur di Makkah, yang kemudian diriwayatkan oleh Kiyai Haji Muhammad Thayyib al-Din Pertapan, Madura.
Selain itu, terdapat pula fragmen halaman akhir dari manuskrip kitab Habl al-Mukhtashar dalam ilmu Ballaghah, yang ditulis oleh Muhammad Abdul Hadi Madura pada tahun 1278 Hijri (1861 Masehi).
Fragmen lainnya adalah naskah kitab cetak tua kategori cetak huruf baris (tipograf) karya Syaikh Nawawi Banten (w. 1897 M) berjudul Tuhfah al-Ikhwân fî Syarh Manzhûmah Sya’b al-Îmân. Kitab tersebut dicetak oleh al-Mathba’ah al-Wahbiyyah di Kairo, Mesir, pada tahun 1296 H (1879 M) dan termasuk salah satu karya ulama Nusantara yang awal-awal dicetak di Timur Tengah pada pertengahan abad ke-19 M.
Selain itu, terdapat pula fragmen naskah kitab cetak tua kategori cetak batu (litograf) karya KH. Muhammad Shiddiq Jember, berjudul Fath al-Rahmân fî Tajwîd al-Qur’an. Kitab tersebut dicetak oleh Percetakan al-Karimi yang berbasis di Bombai, India, tahun 1328 Hijri (1910 Masehi).
Pameran ini juga menampilkan fragmen kitab Sullam al-Taufîq milik KH Hasan Bisri bin Ali Tawangsari Sidoarjo, yang terdapat terjemah interlinear (makna gandul) yang ia riwayatkan dari KH Abdul Karim (1856-1954), pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur yang juga murid dari Syaikhona Kholil Bangkalan.
Terdapat titimangsa selesainya mengaji kitab tersebut kepada KH Abdul Karim Lirboyo pada Malam Sabtu, tanggal 24 Dzulqa’dah tahun 1934. Keterangan tersebut ditulis oleh KH Hasan Bisri, putra dari KHR Ali bin Abdul Wahhab Tawangsari. Sementara KH. Abdul Wahhab Tawangsari adalah ayah dari Nyai Nafisah, yang juga ibu dari KH Abdul Wahhab Hasbullah Jombang (w. 1971), salah satu tokoh pendiri NU.
Kegiatan ini juga bagian dari rangkaian agenda dua tahunan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Belanda. Kurator pameran Ahmad Ginanjar Sya’ban menyampaikan bahwa pameran ini digelar dalam rangka mengarusutamakan karya ulama Nusantara sebagai rujukan utama dunia internasional.
“Untuk mengarusutamakan karya ulama Nusantara sebagai rujukan utama sejarah intelektual Islam di Nusantara sekaligus mengenalkan ke publik lebih luas, internasional,” katanya, Sabtu (4/6/2022).
Selama ini, jelasnya, karya para ulama Nusantara kurang mendapat perhatian dari para pengkaji, terutama manuskripnya yang masih belum banyak diketahui dan terpublikasikan. Karenanya, manuskrip ini dipamerkan agar dapat diketahui secara luas oleh kalangan akademisi internasional.
“Kita ingin karya ini bisa diketahui masyarakat internasional dan terpublikasikan, juga mendapatkan tempat yang selayaknya. Makanya, dipamerkan beberapa fragmen karya ulama Nusantara di Universitas Vreie, kita ingin karya ulama Nusantara semakin menginternasional dan mendapatkan tempat yang layak di kalangan akademisi,” jelasnya.
Ginanjar juga menjelaskan bahwa pameran ini penting dalam menumbuhkan kepercayaan diri para santri. Sebab, karya guru-guru mereka, baik yang sudah ataupun belum tercetak ini, bisa menjadi rujukan internasional dan menginspirasi peradaban yang lebih besar.
“Ingin menumbuhkan percaya diri bahwa karya guru-guru kita ternyata sangat luar biasa menjadi rujukan internasional dan menjadi inspirasi untuk peradaban yang lebih besar,” kata pengajar di Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta itu.
Menurutnya ada banyak karya ulama yang sudah maupun belum tercetak, bahkan belum diketahui, tertimbun, ataupun belum keluar dari tempatnya. Karya-karya yang demikian ini, katanya, bisa disebut juga sebagai virgin collection dan itulah yang saat ini tengah dipamerkan di Belanda.
Misalnya, kitab Tukhfatul Ikhwan Syarah atas Kitab Syu’abul Iman. Kitab tersebut karya Syekh Nawawi al-Bantani dan belum banyak diketahui publik secara luas. Pasalnya, kalangan santri lebih mengenal kitab Qamiuth Thughyan sebagai kitab syarah atas Syu’abul Iman yang ditulis oleh ulama asal Banten itu. Banyak lagi dari Syaikhona Kholil, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, KH Hasan Bisri, KH Abdul Karim, dan sebagainya.
Ginanjar berharap bahwa hal ini dapat menjadi momen kebangkitan karya intelektual ulama Nusantara. Hal ini perlu menjadi kesadaran bersama, tertanam pada jiwa santri dan Muslim Nusantara secara umum, bahwa ulama Nusantara memiliki khazanah keilmuan yang sangat luas.
“Muslim Nusantara memiliki segudang khazanah keilmuan yang melimpah ruah seperti lautan. Ulama kita punya karya menjadi inspirasi peradaban kemanusian, rujukan bukan hanya orang Nusantara, tetapi bagi tradisi keilmuan dunia Islam secara umum,” jelas pengurus Nahdlatut Turots itu.
Para ulama Nusantara dengan segala keterbatasan media, teknologi, dan informasi karena tidak seperti sekarang yang terbuka dan canggih, mampu menghasilkan karya yang dapat dirasakan manfaatnya hingga sekarang. Karenanya, ia menegaskan bahwa hal tersebut mestinya menjadi inspirasi bagi santri sekarang untuk melahirkan karya-karya intelektual.
“Bisa menjadi inspirasi bahwa ulama dulu bisa melahirkan karya terbaiknya, maka sekarang juga bisa menjadi inspirasi kebangkitan kembali karya intelektual bagaimana dulu bisa dihasilkan oleh ulama Nusantara kita,” ujarnya.
Founder Alif.id Susi Ivvaty merasa bangga bisa menghadirkan khazanah naskah lawas milik ulama Nusantara kepada publik di Amsterdam dalam pameran yang juga didukung Djarum Foundation dan SPC Indonesia itu.
“Makin banyak narasi keberagaman dan Islam ramah yang diboyong ke luar Indonesia, kepada publik lebih luas, diharapkan makin mengikis islamofobia yang kemunculannya tidak dapat dihindari, namun dapat diredam,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Rabithah ‘Alam Islami (Liga Muslim Dunia), Syeikh Muhammad bin Abdul Karim Al Issa menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk bekerja sama dan mendukung seluruh agenda internasional Nahdlatul Ulama (NU).
“Rabithah siap mendukung dan membantu memenuhi kebutuhan-kebutuhan NU dalam pelaksanaan agenda-agenda internasionalnya,” kata Syeikh Al Issa dalam pertemuan pribadi bersama Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf seusai kegiatan Forum on Common Values among Religious Followers (Forum tentang Nilai-nilai Bersama diantara Para Pengikut Agama), di Riyadh, Rabu (11/5/22).
Alasannya, terang dia, Nahdlatul Ulama ikut memegang hak milik atas Rabithah, karena Rabithah dimaksudkan sebagai milik seluruh dunia Islam. “Nahdlatul Ulama adalah organisasi yang pantas menjadi teladan bagi organisasi-organisasi Islam lainnya di seluruh dunia,” terangnya. (*/NUO)
Sumber:
*) https://www.nu.or.id/internasional/berbagai-manuskrip-ulama-nusantara-yang-dipamerkan-di-universitas-vrije-amsterdam-belanda-FStAY
*) https://www.nu.or.id/internasional/alif-id-dan-nahdlatut-turots-pamerkan-manuskrip-ulama-nusantara-di-belanda-pcjPJ
*) https://www.nu.or.id/internasional/sekjen-liga-muslim-dunia-berkomitmen-mendukung-agenda-agenda-internasional-nu-Cd6Tn



