Surabaya, Radar96.com – Pergelaran Musabaqah Qiraatul Kutub (MQK) atau Lomba baca kitab yang diselenggarakan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementrian Agama (Kemenag) Propinsi Jawa Timur (Jatim) disayangkan sejumlah alumni juara lomba itu.
Pasalnya, hingga kegiatan terakhir yang dipusatkan di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto selama 4 hari berturut-turut (5-8/06/2023) yang diikuti oleh 1.148 santri dari seluruh Jawa Timur tetap tanpa apresiasi.
Apalagi, kegiatan yang melibatkan 90 dewan juri, 30 panitera dan ratusan panitia tersebut telah menghasilkan para juara yang akan menjadi kafilah Jawa Timur pada ajang MQK Nasional ke-7 di Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan pada bulan Juli 2023.
Tetapi sayangnya, para juara tidak langsung membawa piala dan juga uang pembinaan. Mereka hanya membawa pulang map yang berisi piagam penghargaan. Itupun hanya sebagaian yang diberikan piagam penghargaan, sebagiannya lagi juga belum mendapatkan.
Para juara MQK Kemenag ini adalah orang yang bahagia di satu sisi karena menjadi pemenang dalam perlombaan Baca Kitab paling bergengsi itu, meski di sisi lain mereka juga adalah orang yang ‘dilatih’ untuk bersabar karena perjuangannya selama ini rupanya tdk berarti apa-apa di mata penyelenggara.
“Saya sendiri adalah saksi sejarah yang mengalami hal itu pada event MQK Provinsi yg diadakan Kemenag Jatim di Bangkalan pada tahun 2013, kebetulan kami terpilih menjadi juara 2 dalam fan Ilmu Tafsir tingkat ulya, nilai saya imbang dengan juara 1,” kata Gus Abid dari Probolinggo.
Menurut keponakan Kiai Mutawakkil itu, kebahagiaan menjadi juara sama sekali tak terbendung. Orang tua, guru dan teman seangkatannya seolah benar-benar bangga atas pencapaiannya waktu itu.
“Usaha keras saya berminggu-minggu mempelajari materi-materi yg diujikan agar bisa menang dalam event MQK Provinsi akhirnya terbayar lunas dengan mengangkat piala di hadapan teman-teman serta dapat memberi sumbangsih piala di almamater tercinta,” katanya.
Ia mengaku bahwa sejujurnya waktu itu sama sekali tidak terbersit keinginan untuk mendapatkan apresiasi berupa hadiah uang tunai atau sejenisnya.
“Bagi kami, dikasih piala dan sertifikat saja sudah jauh dari rasa cukup. Terlebih sebelumnya kami sempat mendengar ucapan dari salah satu pengurus pondok yang dulunya juga pernah ikut event MQK Provinsi bahwa biasanya kalau yang mengadakan MQK adalah Kemenag Jatim memang tidak ada hadiahnya, hanya sebatas piala saja,” katanya.
Tapi sekarang, setelah dirinya tahu apa itu pentingnya memberi apresiasi kepada peserta didik yang sudah berjuang keras sampai bisa menjadi juara, maka dirinya baru bisa menyimpulkan bahwa apa yang dilakukan oleh penyelenggara acara (dalam hal ini Kemenag Jatim) pada waktu itu adalah tindakan yang betul-betul nir-apresiasi.
“Baru-baru ini, saya mendengar ternyata MQK setelah tahun 2013, yakni tahun 2017 dan 2023, ternyata terjadi hal yg sama. Bahkan tahun ini lebih parah lagi, juara hanya diberi map dengan sertifikat saja, tidak ada piala dan tidak ada uang pembinaan. Sampai-sampai saking tidak teganya para pembimbing terhadap anak didiknya yang berhasil jadi juara, ada diantara pembimbing yang berinisiatif membuat piala sendiri yang diberikan kepada anak didiknya yang juara,” katanya.
Bahkan, wakil rais ‘am PBNU sampai ikut speak up bahwa Kemenag Jatim berhasil mencetak hattrick dengan tidak memberi apresiasi berupa uang pembinaan kepada para juara selama tiga kali penyelenggaraan. Dan benar, bahkan bisa saja mencetak Quat-Trick karena MQK sebelumnya, saya rupanya juga bernasib sama.
“Kalau pun ada penjelasan pihak penyelenggara bahwa nantinya hadiah para juara MQK tahun ini akan diberikan lewat PD Pontren Kabupaten/kota, tetap saja tidak bisa menghapus kesan sangat tidak profesionalnya penyelenggara dan kesannya Kemenag provinsi baru mau memberi hadiah uang pembinaan karena banyak ‘korban’ yang speak up. Dan, sekaligus tetap tidak menghapus ‘dosa-dosa’ gelaran MQK masa lalu yg sama sekali tidak memberi apresiasi yang pantas kepada para juara,” katanya.
Reaksi senada dikemukakan oleh Ketua Harian Nusa Bangsa Indonesia (NBI) Holding, Sugiharto, yang mengaku kecewa terhadap perhelatan MQK ini, pasalnya para juara terutama untuk juara peringkat 1, 2 dan 3 tidak diberikan penghargaan yang layak sebagai bentuk penghormatan.
Menurutnya, MQK merupakan gelaran prestisius bagi santri dan pesantren. “Tidak habis pikir para juara hanya dikasih map atau piagam saja. Itupun hanya sebagaian yang dikasih. Kinerja Kemenag ini harus dievaluasi oleh Komisi VIII DPR RI,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia MQK 2023, Mohammad As’adul Anam, menyampaikan bahwa terkait penghargaan kepada santri belum diberikan karena memang waktu yang tidak memungkinkan, serta anggaran yang belum cair.
“Saat penutupan sudah disampaikan MC pemberian piagam dan lainnya akan diberikan melalui Kasi PD Pontren Kabupaten/Kota untuk didistribusikan ke para juara,” ungkap As’adul Anam (NUO, 09/06/2023).
Pria yang juga Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi Jawa Timur itu menambahkan, untuk sementara yang diberikan adalah piagam dari beberapa majelis.
Pasalnya, saat penutupan baru 6 majelis dan selebihnya akan diberikan kepada Kasi PD Pontren Kemenag Kabupaten/Kota untuk disampaikan kepada para juara beserta dengan uang pembinaan.
“Jadi tidak benar kalau tidak ada penghargaan tapi memang belum tersampaikan kepada para santri. Itu dikarenakan waktu menunjukkan pukul 00.25 sehingga tidak memungkinkan untuk diberikan semua,” tukasnya. (*/pna)

