Surabaya, radar96.com – Sekretaris LPTNU Jawa Timur Dr. Yusuf Amrozi, M.MT., menegaskan bahwa agama dan sains harus diintegrasikan agar tidak terjadi kejumudan dalam pendidikan.
Hal itu disampaikan kegiatan bertajuk Tabuh Maghrib menjelang berbuka puasa di kantor PWNU Jawa Timur, Rabu (20/3), dengan narasumber lain yaitu KH. Noor Shodiq Askandar, SE, MM (Ketua PW LP Maarif NU Jawa Timur).
Dalam acara bertopik “Pendidikan Islam di Era Kompetisi Global” itu Yusuf memaparkan dikotomi antara pendidikan agama dan sains yang ada dalam sejarah.
“Tradisi rasionalitas yang menjadi episentrum di barat diakui telah menjadi mainstream. Sementara peninggalan abad pertengahan yang diawali oleh tradisi gereja mengokohkan doktrin agama adalah penciri utama,” paparnya.
Dosen Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Ampel ini menambahkan ketika Islam hadir, maka semangat untuk mensyiarkan kebenaran yang berorientasi pada keimanan kepada Tuhan dan segala ajarannya inilah yang membedakan dengan paradigma pendidikan ala barat.
Dengan demikian jika tidak diintegrasikan, maka akan ada benturan antara rasionalitas disatu sisi dengan doktrin agama ansich pada sisi yang lain.
Oleh sebab itu integrasi pendidikan Islam dan Sains atau ilmu pengetahuan umum adalah dalam kerangka untuk saling melengkapkan bahwa transformasi pengetahuan melalui jalan pendidikan tersebut, maupun untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang rasional empiris harus dibingkai dengan semangat moralitas yang berbasis nilai nilai luhur agama.
“Dengan begitu praktik eskplorasi pengetahuan dijalankan tidak ngawur, tetapi berdasar pada etika dan semangat relijiusitas,” papar alumni S1 Teknik Elektro Universitas Islam Malang itu dalam diskusi yang dihadiri oleh para dosen, guru maupun aktivis di LP Maarif dan LPTNU serta mahasiswa tersebut.
Banyak hal yang dipertanyakan oleh para audiens, baik tentang membendung pengaruh gadget bagi siswa dan santri, hingga bagaimana menuju pendidikan Islam yang mampu bersaing secara global.
KH. Noor Shodiq Askandar mengatakan bahwa konsep pendidikan pesantren adalah bagaimana mendidik santri atau peserta didik untuk menjadi pinter dan benar.
“Pinter maksudnya, transformasi pengetahuan dapat efektif, tetapi juga mampu menjadikan para peserta didik tersebut memegang teguh moralitas yang kelak diamalkan selama hidupnya,” katanya.
Kegiatan kajian ramadhan pada sesi ini juga diselingi dengan launching aplikasi E-GSM LP Maarif NU Jawa Timur.
Dalam konteks bagaimana menuju pendidikan Islam yang mampu bersaing secara global, Yusuf menambahkan bahwa sejauh ini ada problem serius yang harus ditangani.
Dalam konteks perguruan tinggi misalnya, paling tidak ada 4 hal; pertama, tuntutan mutu dan rekognisi. Kedua, problem tatakelola kelembagaan.
“Seringkali sejumlah lembaga pendidikan tidak tertib dalam hal administrasi data. Oleh sebab itu kami di LPTNU Jatim mendorong agar PTNU memiliki sistem manajemen data yang baik. Kami juga telah menyiapkan website di alamat lptnu-jatim.or.id yang didalamnya menginformasikan data-data PTNU se-Jawa Timur,” papar Yusuf.
Problem yang ketiga adalah perlunya penciri atau pembeda dengan satuan pendidikan yang lain. Keempat, adalah peningkatan biaya operasional pendidikan. Intinya ada 2 kata kunci, yaitu; tata nilai yang ditanamkan, serta kedua tatakelola lembaga pendidikan yang baik.
Untuk menjadi perguruan tinggi atau pendidikan yang bereputasi global, mau tidak mau pimpinan satuan pendidikan harus memperhatikan sejumlah baseline atau standart pemeringkatan yang ada. Dengan demikian diperlukan langkah persiapan jangka panjang yang terukur. (*/pna)



