By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Postulat Kualitas Pendidikan Tinggi Islam
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > Postulat Kualitas Pendidikan Tinggi Islam
Kolom

Postulat Kualitas Pendidikan Tinggi Islam

14/03/2025
SHARE

Oleh Yusuf Amrozi *)

Saat mengisi Kajian “Ngaji Nusantara” PWNU Jawa Timur (13/3/2025), moderator bertanya kepada saya: Sebenarnya apa dan bagaimana ukuran kualitas perguruan tinggi Islam itu?

Menjawab ini dapat kita analogkan dengan kita bercocok tanam. Ada empat hal yang perlu diperhatikan; lahan yang subur, bibit yang unggul, serta petani yang berpengalaman, yang akhirnya menghasilkan bunga dan buah yang unggul.

Lahan atau sawah melambangkan sumberdaya sarpras dan infrastruktur yang menunjang ekosistem bercocok tanam. Bibit unggul sebagai row input bahan baku untuk proses produksi.

Petani yang berpengalaman atau kompeten seperti pendidik di dunia pendidikan yang mentransformasikan pengetahuan kepada peserta didik.

Bagaimana ia menjalankan proses untuk menghasilkan panen yang unggul. Segala daya untuk menghasilkan sistem tatakelola pendidikan proses pembelajaran harus ia optimalkan.

Maka jika ditarik pada logika Input, Proses, dan Output serta Luaran, berarti Input adalah kualitas calon peserta didik, kualitas pendidik, serta dukungan sumberdaya fisik maupun non fisik lainnya.

Proses adalah proses pembelajaran serta kegiatan tridharma lainnya dalam perguruan tinggi yang inovatif, efektif dan efisien. Sedangkan output adalah kinerja lulusan serta produksi pengetahuan yang dihasilkan dari proses pendidikan dan penelitian.

Sementara luaran adalah sejauhmana dampak dari proses tridharma dan lulusan tersebut terhadap pengembangan sosial dan ekonomi kawasan.

Dalam sejarah dan perkembangan panjang pendidikan tinggi, telah banyak para pakar yang membuat ukuran ukuran atas ketercapaian dari entitas tersebut.

Misalnya, menurut Philip Hall Coombs, seorang pendidik asal Amerika pada awal abad 20 yang menyatakan bahwa kualitas pendidikan adalah kemampuan suatu sistem pendidikan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan suatu bangsa.

Kualitas pendidikan dapat diukur berdasarkan seberapa baik sistem tersebut mempersiapkan peserta didik untuk menghadapi tantangan di dunia nyata, termasuk penguasaan keterampilan dasar, nilai moral, serta kesiapan mental.
Kemudian seiring dengan orientasi manajemen pada mutu dan efisiensi, belakangan muncul konsep TQM (total quality management).

Selaras dengan itu pula konsep TQM rupanya juga diadopsi pada dunia pendidikan. Ada seorang penulis buku yang cukup terkenal namanya Edward Sallis yang menulis buku berjudul Total Quality Management in Education.

Buku yang pertama kali terbit pada 1993 dan telah mengalami beberapa kali terbitan revisi ini mengulas konsep-konsep utama TQM dalam konteks pendidikan dalam memberikan guidance bagi para pendidik untuk mengembangkan framework manajemen mutu di sekolah serta perguruan tinggi.

Lalu pertanyaannya kemudian adalah, jika ditarik dalam konsep atau terminologi Islam seperti apa? Paling tidak ada tiga konsep; Tarbiyah, Ta’lim serta Ta’dib.

Pertama, Tarbiyah. Tarbiyah yang secara etimologi berarti mendidik adalah proses pendidikan atau pembinaan diri yang bertujuan untuk membentuk kepribadian, karakter, pengetahuan serta ketrampilan individu yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Terkait dengan Tarbiyah ini, Al-Qur’an Surah Ali Imran : 79 disebutkan yang artinya “Tidak sepatutnya seseorang diberi Alkitab, hukum, dan kenabian oleh Allah, kemudian dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu para penyembahku, bukan (penyembah) Allah,” tetapi (hendaknya dia berkata), “Jadilah kamu para pengabdi Allah karena kamu selalu mengajarkan kitab dan mempelajarinya!”. Robbaniyina dalam nukilan ayat tersebut sebagai derivasi dari kata Tarbiyah tersebut.

Kedua, Ta’lim. Ta’lim dipahami sebagai proses pengajaran yang berfokus pada transfer ilmu pengetahuan dari pendidik kepada peserta didik. Ta’lim mencakup aspek kognitif dan intelektual, serta bagaimana memberikan pemahaman yang mendalam tentang ajaran Islam. Dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah: 151 disebutkan yang artinya “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat kepadamu), Kami pun mengutus kepadamu seorang Rasul (Nabi Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dan hikmah (sunah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui”.

Ketiga Ta’dib. Ta’dib disini bagaimana Pendidikan yang menekankan pada pembentukan akhlak dan moral yang baik. Ta’dib bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai etika dan adab dalam kehidupan sehari-hari. Jadi adab yang di highlight dalam hal ini, sebagaimana dalam Surah Al-Qolam: 4 yang artinya “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti luhur”.

Dari narasi diatas dapat dipahami bahwa ada integrasi antara dimensi rasionalitas dan sikap etik dalam pendidikan (termasuk pendidikan tinggi) Islam. Oleh sebab itu kemudian Islam mewariskan ikon tokoh tokoh baik yang unggul dari sisi keilmuan sains dan teknologi maupun yang fokus pada sesuatu yang urusannya dengan Hati, sikap tasawuf dan seterusnya. Kita tahu di barat ada Ibnu Sina (Avicenna). Seorang cendekiawan Muslim yang pada abad ke-10 banyak memberikan kontribusi signifikan dalam bidang kedokteran, matematika, filsafat, dan ilmu pengetahuan alam. Sementara di timur Imam Al-Ghazali, seorang filsuf dan teolog yang hidup pada abad ke-11 menghasilkan banyak karya tentang pendidikan dan etika, serta menekankan pentingnya moral dan spiritual.

Oleh sebab itu manakala Islam hadir di Nusantara, warna pendidikannya sangat khas. Sehingga para Kiai mentransformasikan dan mengembagkan pendidikan dengan memadukan pengetahuan dan adab tersebut. Sehingga hari ini kita mengenal pondok pesantren yang digagas oleh alim ulama Nusantara.

Konsep-konsep Kiai NU; KH. Hasyim Asy’ari dan lain-lain mengutamakan akhlakul karimah diatas segalanya dalam hal pendidikan dan pengetahuan ini.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana prestasi kualitas pendidikan, khususnya dari sisi pendidikan tinggi Islam? Sebagaimana diketahui ada sejumlah lembaga perangking perguruan tinggi global, seperti QS-WUR, UniRank, ARWU, THE, dan lainnya. Keberadaan lembaga pengindeks perguruan tinggi tersebut dapat sebagai baseline ukuran kinerja atau kualitas perguruan tinggi. Di lingkungan komunitas Islam, Organisasi Konferensi Islam (OKI) telah lama membentuk suatu badan yang disebut ISESCO (Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization) yang mendukung pengembangan kualitas pendidikan, maupun ilmu pengetahuan dan budaya negara-negara anggota OKI.

Dalam hal ukuran kualitas perguruan tinggi Islam, ISESCO telah merilis sejumlah indikator kinerja, yaitu: reseach performance, teaching performance, international outlook, socio-economic impact, dan resources support.

Dalam hal ‘potret’ kinerja perguruan tinggi Islam, menurut data dari lembaga pemeringkat perguruan tinggi global UniRank pada tahun 2024, Cairo University di Mesir menempati urutan pertama. Namun sayangnya se dunia ia pada peringkat ke 460. Belum mampu masuk 100 besar dunia. Sebagai gambaran Universitas Airlangga di Indonesia berada pada angka 200an berdasar lembaga pengindeks QS-WUR. Memang tiap kriteria perangkingan oleh lembaga perangking perguruan tinggi global itu berbeda beda.

Maka jika kembali pada judul tulisan ini Postulat Kualitas Pendidikan Tinggi Islam, maka mendalilkan kualitas pendidikan tinggi Islam dalam kancah global sebagai sesuatu yang pioneer nampaknya masih perlu effort yang lebih. Terutama dari sisi kinerja produksi pengetahuan dan deseminasinya.

Namun demikian sebagai pengajar di UIN, saya cukup bangga dengan Fahrul. Pemuda lulusan UIN Yogjakarta ini telah memiliki lima buah karya dibidang biologi yang telah di paten kan. Sama halnya dengan kebanggaan saya dengan diberinya kesempatan salah satu rektor UIN mempimpin doa pada saat silaturahim Rektor PTN-PTS se Indonesia dengan Presiden Prabowo di Istana Negara tempo hari. Ndak apa-apa, daripada tidak sama sekali. (*)

*) Penulis adalah Wakil Ketua Lembaga Pendidikan Tinggi NU Jawa Timur

Iklan.

You Might Also Like

26 Tahun ISNU: Dari “Dapur Intelektual” NU hingga Garda Depan “Indonesia Emas”
Tegas Menimbang dan Menjawab Statemen Wakil Ketua PBNU H. Nusron Wahid tentang Peniadaan PKPT IPNU IPPNU
Demokrasi yang Matang, Warisan yang Terjaga
Pesan untuk Muhammadiyah dan NU
Kenangan dan Kemenangan
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Konsul Jenderal RRC di Surabaya Siap Bekerja Sama dengan PWNU Jatim
Next Article Pimpin Rakor Ketahanan Pangan Bersama Dua Menko, Gubernur Khofifah Optimis Jatim Mampu Pertahankan Produksi Beras Tertinggi Nasional

Advertisement

Iklan.

Iklan.

Berita Terbaru

Unesa dan Lakpesdam PWNU Jatim Berkolaborasi Riset dan Penguatan SDM
Nahdliyyin
Persiapkan Remaja Tangguh, LKK PWNU Jatim Gelar CKG dan BRUS di Ponpes
Nahdliyyin
Meneguhkan Supremasi Syuriyah: Menjaga Marwah Organisasi Ulama.
Nahdliyyin
Ketua KI Jatim Mantapkan Kolaborasi Keterbukaan Informasi ke PWI dan SMSI
Sospol

You Might also Like

Kolom

Jamaah Aolia dan Pasang Surut Kepercayaan Lokal

28/04/2024
Kolom

Andai Nat King Cole Bertemu Rasulullah

23/06/2024
Kolom

Islam Nusantara, Islam Wasathiyah

16/07/2021
Kolom

Gus Dur, Mbah Idris, dan (teladan) Perbedaan Pendapat

01/01/2022
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?