By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: ISHARI dan Kisah di Balik Berdirinya NU
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > ISHARI dan Kisah di Balik Berdirinya NU
Kolom

ISHARI dan Kisah di Balik Berdirinya NU

07/11/2025 Kolom
SHARE

Contents
ISHARI Dibalik Berdirinya NUDinamika ISHARI di NU

Oleh KH. Taufiq Abdul Djalil *)

ISHARI yang merupakan singkatan dari Ikatan Seni Hadrah Indonesia, cukup akrab di telinga warga NU dan kaum santri, khususnya di Jawa Timur. Biasanya dalam berbagai acara masyarakat, komunitas ini sering tampil sebagai pengisi acara. Tidak hanya acara tingkat desa, bahkan kelompok ISHARI juga diundang untuk mengisi acara setingkat nasional. Contohnya saat kick-off 1 Abad NU di tugu pahlawan Surabaya.

Jam’iyyah Hadrah, demikian nama kumpulan ini pada mulanya, adalah sebuah kumpulan kesenian rebana dengan diiringi bacaan sejarah kelahiran dan perjuangan Nabi Muhammad Saw. Syair dari kitab Maulid Syarof Al-Anam dan kitab Diwan Al-Hadroh, serta paduan gerakan dan bunyian tepuk tangan yang berirama, ditambah bunyi dari alat musik rebana, menjadikan Jam’iyyah ini memiliki kekhasan tersendiri.

Pada tahun 1918, KH. Abdurrokhim bin KH. Abdul Hadi (1951 M) mendirikan Jam’iyyah ini yang berpusat di Pasuruan, Jawa Timur. Seiring waktu, Jam’iyyah terus berkembang dan bertambah keanggotaannya. Namun, pendiri dari kumpulan ini, yaitu KH. Abdurrokhim tidak berumur panjang, sehingga kepengasuhan Jam’iyyah ini digantikan oleh putra beliau, KH. Muhammad bin Abdurrokhim.

Pada tahun 1956, KH. Muhammad bin Abdurrokhim, bersama dengan Rois ‘Aam PBNU kala itu, KH. Wahab Hasbullah membentuk wadah untuk organisasi ini, sekaligus mendeklarasikan Jam’iyyah Hadrah ini menjadi ISHARI, Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia.

Mulanya, huruf R yang terdapat pada organisasi ini merupakan akronim dari Republik. Bertujuan untuk membentengi organisasi ini agar tidak disusupi oleh gerakan-gerakan komunis. Baru pada tahun 1995, Munas pertama ISHARI di PP. Sunan Drajat, Lamongan menetapkan untuk menghapus kata Republik sehingga menjadi Ikatan Seni Hadrah Indonesia.

ISHARI Dibalik Berdirinya NU

Tidak hanya sebatas komunitas seni musik belaka, ISHARI juga memiliki peranan penting dibalik lahirnya sebuah organisasi Islam terbesar di Indonesia saat ini, yakni Nahdlatul Ulama (NU).

Diceritakan bahwa lancarnya musyawarah pembentukan Komite Hijaz tahun 1926 yang menjadi cikal bakal lahirnya NU, adalah salah satunya disamarkan oleh kegiatan hadrah.

Saat rapat sedang berlangsung di ruangan utama, jam’iyyah hadrah mengadakan shalawatan di luar ruangan, agar pemerintah kolonial Belanda tidak curiga bahwa di tempat tersebut, yakni kediaman KH. Abdul Wahab Hasbullah, Surabaya, sedang digelar rapat penting pembentukan Komite Hijaz. Karena saat itu, kegiatan seperti musyawarah, rapat, dan pertemuan masyarakat lainnya diawasi oleh kolonial, karena takut terjadinya pemberontakan.

Dinamika ISHARI di NU

Meski terbentuknya ISHARI turut diprakarsai oleh Rois ‘Aam PBNU, KH. Abdul Wahab Hasbullah, struktural ISHARI sendiri di organisasi NU mengalami pasang surut yang panjang.

Berawal pada tahun 1961, berkat dukungan dari para ulama ISHARI ditetapkan menjadi organisasi banom (badan otonom) NU. Terjadi perubahan pada Muktamar NU ke-30 tahun 1999 di Lirboyo, saat itu ISHARI masuk ke pembinaan LSBNU atau Lembaga Seni Budaya Nahdlatul Ulama.

Pada Muktamar NU ke-31 tahun 2004 di Boyolali, ISHARI berada di bawah binaan JATMAN, Jam’iyah ahlith Thariqah Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyah. Selanjutnya, pada Muktamar NU ke-32 di Makassar, kalimat ISHARI justru lenyap dari AD/ART NU. Hingga pada Muktamar ke-33 di Jombang, ISHARI secara resmi kembali lagi ke Badan otonom NU.

Di tengah sapuan budaya global yang cukup deras melalui media sosial dan teknologi digital, keberadaan ISHARI menjadi penting sebagai pertahanan budaya bagi generasi sekaligus bentuk akulturasi antara agama dan budaya, yang membentuk tradisi Islam khas Nusantara.

Eksistensi ISHARI sebagai bagian dari badan otonom NU merupakan bukti, bahwa Nahdlatul Ulama masih yang terdepan dalam mempertahankan nilai Islam ahlus sunnah wal jama’ah, sekaligus menjaga tradisi budaya Nusantara di era baru, peradaban digital. (*)

*) Penulis adalah Wakil Ketua PWNU Jawa Timur, Pengasuh PP. Al Kautsar Pandaan, Pasuruan, Jatim.
*) Sumber: https://jurnal9.tv/ishari-dan-kisah-di-balik-berdirinya-nu/

Iklan.

You Might Also Like

Membaca Paslon Pimpinan NU di Muktamar NU ke-35

Evaluasi Tanpa Intervensi: Ujian Kemandirian Muktamar NU

PERANG HORMUZ

Mencari Isyarah Langit (Ketum PBNU)

KH Mutawakkil Mengundurkan Diri Dari MUI Jatim

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Peserta Empat Negara Ikuti Konferensi Internasional Studi Al-Qur’an STAI Al-Akbar
Next Article Unusa dan DPKKR Kemenkes RI Gelar Kampanye Deteksi Dini Luka Psikologis di Pesantren

Advertisement



Berita Terbaru

Membaca Paslon Pimpinan NU di Muktamar NU ke-35
Kolom
Sowan Rektor, Pesantren Digipreneur Al Yasmin Perkuat Kolaborasi dengan UPN “Veteran” Jawa Timur
Sospol
Siap Diajak Diskusi, ISNU Jatim: Penutupan Prodi Kependidikan Tidak Boleh Tergesa-gesa
Nahdliyyin
Hari Puisi Nasional, Unusa Luncurkan Buku Puisi Karya Dosen dan Hadirkan Sejumlah Tokoh Sastra
Sospol

You Might also Like

Kolom

Hardiknas dan Kebangkitan Intelektual Profesor Muslimat NU

24/04/2026
Kolom

Muktamar NU: ABUKTOR—Asal Bukan Koruptor

23/04/2026
Kolom

Kartini Juga Manusia: Ketika Perempuan Kuat Tetap Boleh Lelah

20/04/2026
Kolom

Fenomena “Ghosting Berkedok Lupa: Seni Menghilang Tanpa Rasa Bersalah” dalam Perspektif Relasi Sosial dan Etika Keislaman

18/04/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?