By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Tentang Janji yang Retak
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > Tentang Janji yang Retak
Kolom

Tentang Janji yang Retak

02/01/2026 Kolom
SHARE

Oleh: Sinful Bahri *

Politik, konon katanya, adalah seni mengelola kemungkinan. Namun di jagat Nahdlatul Ulama belakangan ini, politik tampaknya merosot menjadi sekadar seni melupakan janji.

Kita mulanya melihat secercah cahaya. Di Lirboyo, pada 25 Desember yang tenang, para kiai sepuh—jajaran Syuriyah dan Mustasyar—duduk berjajar. Ada kehendak untuk ishlah, sebuah upaya merajut kembali yang koyak. Niat itu ditebalkan tiga hari kemudian, 28 Desember, dalam tasyakkuran di kediaman Rais Aam.

Di sana, sebuah kesepakatan tak tertulis—sebuah gentlemen’s agreement—diletakkan di atas meja. Syaratnya sederhana namun fundamental: saling menghormati.

Gus Yahya dan jajaran Syuriyah sepakat untuk menghormati hasil Pleno di Hotel Sultan, 9 Desember lalu. Sebagai imbal balik yang adil, Syuriyah berjanji menggelar Pleno kedua, sebuah panggung yg dibuat untuk merestorasi jabatan Gus Yahya sebagai Ketua Umum. Sebuah jalan tengah yang elegan, seharusnya.

Tapi kekuasaan, rupanya, seringkali memiliki ingatan yang pendek.

Hanya berselang dua hari, Selasa 30 Desember 2025, di Jawa Tengah, komitmen itu layu sebelum berkembang. Dalam sebuah acara bersama Badan Gizi Nasional, Gus Yahya tampil. Dengan gestur yang oleh sebagian orang dibaca sebagai kepongahan, ia memperkenalkan Dr. Amin Said Husni sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen). Ia juga memuji Rais Syuriyah dan Ketua PWNU Jateng karena telah “tanpa ragu” menyebutnya sebagai Ketua Umum.

Di sinilah letak luka itu.

Merujuk pada struktur PBNU saat Pleno di hotel Sultan itu diadakan—yang dalam kesepakatan Lirboyo harus dihormati—jabatan Amin Said Husni adalah Wakil Ketua Umum, bukan Sekjen. Sebaliknya, jabatan Sekjen itu disematkan pada Amin pada periode tegang. Ketika Gus Yahya membalas pemberhentiannya oleh Syuriyah, dengan mengganti pejabat Sekjen hasil Muktamar Lampung. Maka dengan menyebut Amin sebagai Sekjen, Gus Yahya secara demonstratif telah menafikan hasil Pleno pertama. Ia seolah berkata bahwa aturan main bisa ditekuk sekehendak hati.

Tindakan ini bukan sekadar keseleo lidah. Ini adalah sebuah proklamasi. Dengan melanggar poin krusial itu, Gus Yahya telah mencederai komitmen ishlah. Ia menutup pintu yang baru saja dibuka setengah hati oleh para kiai sepuh.

Sejarah mencatat, kehancuran sebuah persekutuan jarang disebabkan oleh serangan dari luar, melainkan oleh pengkhianatan dari dalam. Ketika kata-kata tak lagi selaras dengan perbuatan, ketika kesepakatan di ruang tertutup diingkari di panggung terbuka, maka kepercayaan adalah hal pertama yang mati. Dan tanpa kepercayaan, ishlah tiba-tiba hanyalah sebuah utopia yang menyedihkan.

Pontianak, 2 Januari 2026.

)* penulis adalah esais Nahdliyin yg tinggal di Madura

Iklan.

You Might Also Like

Menembus Batas, Merekat Umat Tujuh Tahun Terase NU NEWS Mewarnai Ruang Digital

Wajah Digital NU di Muktamar Tambakberas 2026

Ketika Medsos Gaduh, Akar Rumput Tetap Teduh

Dari Hutan untuk Peradaban: Ketika Kepemimpinan Khofifah Mengubah Kelestarian Menjadi Kesejahteraan

Jangan Biarkan Muktamar Pindah dari Tambakberas ke Media Sosial

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article DMI Pusat Apresiasi “Munajat Akhir-Awal Tahun” Masjid Al-Akbar
Next Article PWNU Jatim Semarakkan “Satu Abad NU” dengan Mujahadah Kubro, “NUConomic”, dan GenZINU Bootcam

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

Gus Fahrur: Gus Firjaun yang Saya Kenal
Gus File
PW IPPNU Jawa Timur Perkuat Sinergi dengan Ketua DPRD Provinsi Jawa Timur
Uncategorized
TK At-Taqwa Bondowoso Peringati Maulid Nabi dengan Festival Ancak Ceria
Uncategorized
Setiap Kamis, Remas-GenZI Masjid Al-Akbar Surabaya Adakan Majelis Sholawat Al-Akbar
Milenial

You Might also Like

Kolom

Ketika Sampah Berubah Menjadi Energi Peradaban: Khofifah dan Arsitektur Jawa Timur ASRI, Inovatif, dan Berkelanjutan

01/09/2026
Kolom

Membaca Tiga Spektrum KepemimpinanKiai Miftah–Gus Yahya, Refleksi Kiai Sahal Mahfudz–Gus Dur, dan Warisan Diplomasi Peradaban Abah Hasyim Muzadi

01/09/2026
Kolom

PBNU Sebagai Rumah Besar Talenta Kader

31/08/2026
Kolom

Musyawarah, Hikmah dan Khidmah

31/08/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?