Oleh: Sinful Bahri *
Politik, konon katanya, adalah seni mengelola kemungkinan. Namun di jagat Nahdlatul Ulama belakangan ini, politik tampaknya merosot menjadi sekadar seni melupakan janji.
Kita mulanya melihat secercah cahaya. Di Lirboyo, pada 25 Desember yang tenang, para kiai sepuh—jajaran Syuriyah dan Mustasyar—duduk berjajar. Ada kehendak untuk ishlah, sebuah upaya merajut kembali yang koyak. Niat itu ditebalkan tiga hari kemudian, 28 Desember, dalam tasyakkuran di kediaman Rais Aam.
Di sana, sebuah kesepakatan tak tertulis—sebuah gentlemen’s agreement—diletakkan di atas meja. Syaratnya sederhana namun fundamental: saling menghormati.
Gus Yahya dan jajaran Syuriyah sepakat untuk menghormati hasil Pleno di Hotel Sultan, 9 Desember lalu. Sebagai imbal balik yang adil, Syuriyah berjanji menggelar Pleno kedua, sebuah panggung yg dibuat untuk merestorasi jabatan Gus Yahya sebagai Ketua Umum. Sebuah jalan tengah yang elegan, seharusnya.
Tapi kekuasaan, rupanya, seringkali memiliki ingatan yang pendek.
Hanya berselang dua hari, Selasa 30 Desember 2025, di Jawa Tengah, komitmen itu layu sebelum berkembang. Dalam sebuah acara bersama Badan Gizi Nasional, Gus Yahya tampil. Dengan gestur yang oleh sebagian orang dibaca sebagai kepongahan, ia memperkenalkan Dr. Amin Said Husni sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen). Ia juga memuji Rais Syuriyah dan Ketua PWNU Jateng karena telah “tanpa ragu” menyebutnya sebagai Ketua Umum.
Di sinilah letak luka itu.
Merujuk pada struktur PBNU saat Pleno di hotel Sultan itu diadakan—yang dalam kesepakatan Lirboyo harus dihormati—jabatan Amin Said Husni adalah Wakil Ketua Umum, bukan Sekjen. Sebaliknya, jabatan Sekjen itu disematkan pada Amin pada periode tegang. Ketika Gus Yahya membalas pemberhentiannya oleh Syuriyah, dengan mengganti pejabat Sekjen hasil Muktamar Lampung. Maka dengan menyebut Amin sebagai Sekjen, Gus Yahya secara demonstratif telah menafikan hasil Pleno pertama. Ia seolah berkata bahwa aturan main bisa ditekuk sekehendak hati.
Tindakan ini bukan sekadar keseleo lidah. Ini adalah sebuah proklamasi. Dengan melanggar poin krusial itu, Gus Yahya telah mencederai komitmen ishlah. Ia menutup pintu yang baru saja dibuka setengah hati oleh para kiai sepuh.
Sejarah mencatat, kehancuran sebuah persekutuan jarang disebabkan oleh serangan dari luar, melainkan oleh pengkhianatan dari dalam. Ketika kata-kata tak lagi selaras dengan perbuatan, ketika kesepakatan di ruang tertutup diingkari di panggung terbuka, maka kepercayaan adalah hal pertama yang mati. Dan tanpa kepercayaan, ishlah tiba-tiba hanyalah sebuah utopia yang menyedihkan.
Pontianak, 2 Januari 2026.
)* penulis adalah esais Nahdliyin yg tinggal di Madura



