Surabaya, radar96.com – Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz mengenalkan filosofi keilmuan dari kentong/kentongan saat membuka kajian Ramadhan bertema “Kentong Ramadhan 1447 H” yang melibatkan lembaga dan badan otonom/banom di lingkungan PWNU Jatim.
“Soal kentong atau kentongan ini pernah menjadi perdebatan antara Rais Akbar NU Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari dengan Wakil Rais Akbar KH Faqih Maskumambang,” kata Kiai Kikin, sapaan akrabnya, saat membuka hari pertama Ngaji ‘Kentong Ramadhan 1447 H’ dengan memukul kentongan berkali-kali, di Aula Lantai 1 PWNU Jatim, Sabtu malam.

Didampingi Sekretaris PWNU Jatim KH Dr M Faqih, Koordinator Pelaksana Ngaji ‘Kentong Ramadhan 1447 H’ PWNU Jatim Prof Kacung Marijan, dan Sekretaris Pelaksana Dr HM Koderi, cicit Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari itu menjelaskan hal menarik dari perdebatan kedua pimpinan tertinggi NU adalah solusi penyelesaian yang bersifat keilmuan.

“Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari dan KH Faqih Maskumambang menyelesaikan perbedaan pendapat soal kentongan itu melalui tulisan secara ilmiah pada media. Jadi, ada filosofi keilmuan dalam penyelesaian pendapat, sehingga penyelesaian pendapat secara ilmiah pun menjadi tradisi, jadi ada filosofis secara keilmuan di kalangan NU,” katanya.
Secara filosofis keilmuan, kedua pimpinan tertinggi NU itu juga menyikapi perbedaan pendapat dengan saling menghormati, bukan saling menyalahkan. “Saat Kiai Faqih Maskumambang yang tidak setuju kentong itu berkunjung ke Jombang, maka Hadratussyeikh menurunkan kentong di masjid pesantren. Sebaliknya, Kiai Faqih Maskumambang juga sibuk mencari kentong saat Hadratussyeikh berkunjung,” katanya.
Terkait Ngaji “Kentong Ramadhan 1447 H” PWNU Jatim yang dilaksanakan pada 3-27 Ramadhan 1447 H atau 21 Februari hingga 17 Maret 2026 itu, Kiai Kikin menilai kentong itu sendiri bermakna pukul/pukulan atau panggil/panggilan untuk melakukan ibadah secara bersama-sama, baik shalat maupun ibadah lain seperti tholabul ilmi (mencari ilmu).
“Ngaji ‘Kentong Ramadhan’ ini merupakan panggilan atau ajakan untuk mencari ilmu bersama-sama yang melibatkan lembaga dan banom di lingkungan PWNU Jatim, apalagi Al-Qur’an itu merupakan sumber ilmu yang memiliki semua solusi keselamatan dalam kehidupan di dunia hingga akhirat, apalagi kajian Al-Qur’an di bulan Ramadhan,” katanya.
Hal itu dibenarkan Ketua Lembaga Dakwah NU (LDNU) PWNU Jatim DR KH Syukron Jazilan Badri MAg yang mendapatkan jadwal pertama mengisi “Kentong Ramadhan 1447” PWNU Jatim. “Allah menurunkan Islam untuk menyelesaikan masalah (kehidupan) tanpa masalah, karena menyesuaikan dengan kemampuan manusia, misalnya sholat tidak bisa berdiri ya duduk, kalau tidak bisa duduk ya berbaring, dan seterusnya sampai kedip saja,” katanya.
Di Indonesia sendiri, katanya, Islam yang lebih mengedepankan toleransi dan saling belajar justru menyelesaikan permasalahan kemajemukan bangsa, sehingga Islam yang ramah justru menyelesaikan masalah kebangsaan tanpa masalah, namun dalam menjalankan Islam perlu ada pelurusan niat agar tidak salah/keliru.
“Kita perlu meluruskan niat dalam beragama. Ibadah dalam Islam seperti sholat, puasa, dan sebagainya itu bukan bertujuan mencari pahala surga, tapi mencari karunia dan ridha Allah, karena kalau semuanya untuk Allah, maka Allah akan berikan semuanya, jadi kita perlu menata niat. Islam mengajarkan ibadah bernilai tertinggi adalah iman, kalau harta justru memiliki nilai ibadah paling rendah karena bisa hilang,” katanya.
Ngaji “Kentong Ramadhan 1447 H” di lingkungan PWNU Jatim melibatkan 18 lembaga dan 14 banom. Nantinya, hari terakhir akan ditutup dengan Buka Puasa Bersama (Bukber) atau PWNU dengan PCNU se-Jatim.
Setelah LDNU secara berurutan adalah LP Ma’arif NU/RMI NU (22/2) dengan tema “Pendidikan Humanis-Religius: Kunci Membangun Peradaban NU” dengan narasumber Prof Masdar Hilmy (Ketua PW LP Ma’arif NU) dan dihadiri 25 pengurus dan 40 kepala sekolah.
Selanjutnya, LPNU, LPPNU, LKKNU, Lakpesdam, LPBH/LWP NU, Lesbumi, Lazisnu, LBM/Aswaja Center, LKNU, LFNU, LPTNU, LTNU/LTM NU, LPBI NU/SNNU, lalu banom yakni Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor/Pagarnusa, JQHNU/PMII, IPNU/IPPNU, Jatman NU, ISNU/Sarbumusi, Pergunu/Ishari. (*/fpnu)



