Lamongan, radar96.com – Jumat sore kemarin itu (26/6/26) terasa berbeda. Suara adzan Ashar baru saja selesai, namun teras Pesantren Krapak Mayong sudah penuh sesak oleh jamaah Ngaji Selapan Sabtu Wage. Hari itu bukan sembarang Jumat, tapi bersamaan dengan tanggal 10 Muharram, Hari Asyuro, hari yang oleh para Nabi dijadikan sebagai momentum pertobatan.
Kang Imam Suyuti, sekretaris pesantren, menyebut sore itu sebagai sore istighfar. Jamaah diajak menundukkan kepala, melafalkan doa pengampunan sebelum maghrib.
“Hari Asyuro adalah hari taubat. Jamaah diajak membaca istighfar agar hati kembali bening,” katanya lirih.

Di tengah lantunan doa, hadir KH Imam Mawardi Ridlwan, Sekretaris PW IPHI Jawa Timur. Ia mengingatkan bahwa anak yatim adalah sumber keberkahan. “Memuliakan mereka bukan sekadar memberi santunan, tapi juga perhatian, kelembutan, dan memenuhi kebutuhan hidupnya,” ujarnya.
Sebanyak 80 anak yatim sore itu menerima santunan. Mereka duduk berjejer dengan wajah polos penuh harap. Abah Imam, yang juga Wakil Ketua Lembaga Dakwah PWNU Jawa Timur, menundukkan kepala penuh syukur. “Terima kasih kepada para donatur. Menyantuni anak yatim akan menumbuhkan kelembutan hati,” ucapnya.
Pesantren Krapak Mayong sore itu menjelma menjadi ruang pertobatan, kelembutan, dan keberkahan. Santunan anak yatim menjadi tanda bahwa hati manusia masih bisa dilunakkan oleh doa, kasih, dan rasa syukur.
Mengapa harus memuliakan anak yatim? Menurut Abah Imam, Rasulullah SAW sendiri adalah anak yatim. Memuliakan anak yatim berarti meneladani jejak beliau.
Selain itu, doa anak yatim diyakini membawa keberkahan bagi orang yang menyantuni. Santunan bukan sekadar materi, tapi juga membuka pintu rahmat. Menyantuni anak yatim sekaligus menjadi latihan berempati. Dapat mengikis ego, menumbuhkan rasa peduli, dan melembutkan hati yang keras.
Asyuro bisa menjadi gerakan sosial yang lebih luas. Santunan anak yatim bukan hanya ritual tahunan, tapi bisa menjadi program berkelanjutan untuk pendidikan, kesehatan, dan masa depan mereka.
Tradisi Asyuro di Pesantren Krapak Mayong, Lamongan menunjukkan spiritualitas tidak berhenti pada doa, melainkan telah menjelma menjadi aksi nyata memuliakan anak yatim.
Di tengah masyarakat modern yang sering sibuk mengejar materi, tradisi ini mengingatkan bahwa keberkahan sejati lahir dari kepedulian. Memuliakan anak yatim adalah cara paling sederhana sekaligus paling luhur untuk menjaga kemanusiaan. Santunan bukan hanya amal, tapi juga refleksi: apakah hati kita masih bisa disentuh oleh kelembutan.
Setiap tahun Asyuro akan menjadi pengingat bahwa doa harus berbuah kasih, dan kasih harus berbuah keberkahan.



