By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Muktamar dan Amar Makruf Nahi Mungkar
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > Muktamar dan Amar Makruf Nahi Mungkar
Kolom

Muktamar dan Amar Makruf Nahi Mungkar

14/07/2026 Kolom
SHARE

Oleh: Misbah Munir *

Muktamar bukan sekadar forum memilih pemimpin. Ia adalah ruang musyawarah tertinggi untuk melakukan muhasabah organisasi, meluruskan arah perjuangan, serta menjaga marwah jam’iyah. Karena itu, muktamar tidak boleh kehilangan ruh amar makruf nahi mungkar.

Amar makruf tidak selalu berarti berteriak lantang. Nahi mungkar juga tidak harus dilakukan dengan kemarahan. Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, nasihat disampaikan dengan hikmah, adab, dan pertimbangan kemaslahatan.

Allah SWT berfirman:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.”
(QS. Ali ‘Imran: 104)

Muktamar sebagai Ruang Muhasabah

Menjelang muktamar, perbedaan pilihan adalah keniscayaan. Munculnya calon, gagasan, dan kelompok pendukung merupakan bagian dari dinamika organisasi. Tetapi dinamika tidak boleh berubah menjadi permusuhan.

Di sinilah amar makruf nahi mungkar menemukan relevansinya.

Ketika muncul fitnah, harus ada yang mengingatkan. Ketika aturan mulai ditafsirkan demi kepentingan kelompok, harus ada yang meluruskan. Ketika kekuasaan organisasi berpotensi disalahgunakan, harus ada keberanian untuk memberikan nasihat.

Diam tidak selalu berarti santun. Bersuara tidak selalu berarti melawan.

Yang menentukan adalah niat, cara, dan tujuan.

Nahi Mungkar Harus Beradab

NU dibangun oleh para ulama. Karena itu, kritik dalam NU semestinya memiliki akhlak pesantren. Tidak mencaci, tidak merendahkan, dan tidak membuka aib tanpa kepentingan yang dibenarkan.

Rasulullah SAW bersabda:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ

“Agama adalah nasihat.”

Nasihat berbeda dengan penghinaan. Kritik berbeda dengan kebencian. Meluruskan organisasi berbeda dengan menjatuhkan kehormatan seseorang.

Maka keberanian harus berjalan bersama kesantunan. Tegas dalam prinsip, lembut dalam cara.

Jangan Membungkam Nasihat atas Nama Harmoni

Namun, menjaga kesejukan tidak boleh dijadikan alasan untuk membungkam kritik. Persatuan tidak berarti meniadakan perbedaan. Ketaatan kepada organisasi juga tidak berarti membenarkan semua kebijakan tanpa ruang koreksi.

Muktamar justru harus menjadi ruang paling terhormat untuk menyampaikan koreksi.

Jika ada aturan yang dilanggar, mari kembali kepada aturan. Jika ada tata kelola yang keliru, mari diperbaiki. Jika ada perbedaan tafsir, mari bermusyawarah dengan ilmu dan adab.

Jam’iyah akan menjadi kuat bukan karena tidak pernah dikritik, tetapi karena memiliki kedewasaan untuk menerima nasihat.

Muktamar yang Menyejukkan

Amar makruf nahi mungkar dalam muktamar bukan gerakan mencari kesalahan. Ia adalah ikhtiar menjaga organisasi agar tetap berada di jalan khidmah.

Jangan sampai muktamar menjadi arena saling meniadakan. Jangan pula nasab, jabatan, kekuatan politik, atau kepentingan sesaat mengalahkan pertimbangan amanah dan kemaslahatan jam’iyah.

Para muassis telah mewariskan NU sebagai rumah besar umat. Tugas generasi hari ini bukan memperebutkan rumah itu, tetapi merawat, memperkokoh, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya dalam keadaan lebih baik.

Maka, menjelang muktamar, mari berani melakukan amar makruf nahi mungkar dengan cara yang makruf.

Berani mengingatkan tanpa menghina.
Berani mengkritik tanpa membenci.
Berbeda tanpa bermusuhan.
Bermuktamar dengan santun dan menyejukkan.

Sebab amar makruf nahi mungkar bukan tentang siapa yang paling keras suaranya, tetapi siapa yang paling tulus menjaga jam’iyah.

*Penulis adalah wakil katib PWNU Jatim

Iklan.

You Might Also Like

GEGERAN DULU GERGERAN KEMUDIAN

Muktamar NU : Pembukaan Gemilang, Jangan Sampai Pelaksanaan Kehilangan Marwah.

Ternyata NU Rame di Luar, Solid di Dalam

MENJAGA MUKTAMAR NU KE-35 SEBAGAI TUNTUNAN DAN HIKMAH

Adab, Kritik, dan Menjaga Marwah NU

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Mahasiswa KKN UIN KHAS Jember dan Kelurahan Curahdami – Bondowoso Bersinergi Wujudkan Data Wilayah yang Akurat
Next Article Gus Afif Pimpin Silaturahmi PKB ke PCNU, Perkuat Hubungan dan Perjuangkan Aspirasi Umat

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

Di Markaz Alumni IPNU, Baznas RI Luncurkan Program Beasiswa Santri
Nahdliyyin
Keputusan Muktamar Berlaku Sejak Ditetapkan ?
Uncategorized
GEGERAN DULU GERGERAN KEMUDIAN
Kolom
Muktamar NU : Pembukaan Gemilang, Jangan Sampai Pelaksanaan Kehilangan Marwah.
Kolom

You Might also Like

Kolom

Gerakan Eksternal Menjelang Muktamar NU ke-35: Antara Khidmah, Kontestasi, dan Independensi Jam’iyyah

25/08/2026
Kolom

Superpower Keikhlasan: Mengurai Akar Akuntabilitas dalam Tradisi NU

25/08/2026
Kolom

Menegakkan Panji NU di Muktamar ke-35: Belajar dari Hajar Aswad Memasuki Abad Kedua NU

24/08/2026
Kolom

‘Haramkah’ NU Berpolitik?

24/08/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?