Surabaya, radar96.com – Imam Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS), KH A Muzakky Hafidz, mengajak jamaah untuk menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat sebagai kiat sukses melalui penerapan prinsip kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut disampaikan dalam Kajian Senja Al-Yasmin episode ke-29 bersama jamaah Majelis Dzikir Sholawat Al Yasmin Grup 5 di Ballroom Al-Yasmin, Surabaya, Rabu (23/9/2026).

Dalam kajiannya, KHA Muzakky Hafidz menjelaskan bahwa doa “Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah” merupakan bentuk permohonan sekaligus komitmen untuk meraih kebaikan di dunia dan akhirat.
Ia menerangkan bahwa dalam bahasa Arab, bekerja memiliki makna beramal. Sementara itu, amal yang dilakukan dengan kebaikan disebut amal saleh.
“Bekerja dalam bahasa Arab adalah beramal, sedangkan beramal baik yaitu amal saleh. Amal saleh adalah dengan mengamalkan Al-Qur’an,” jelasnya.
Menurutnya, terdapat tiga prinsip utama yang perlu diterapkan untuk mencapai keberhasilan dunia dan akhirat, yaitu kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas. Yang pertama yakni kerja keras sseuai keahlian, katanya, kerja keras bukan sekadar mengerahkan tenaga, melainkan juga memiliki semangat untuk bekerja sesuai dengan keahlian masing-masing.Ia mengingatkan bahwa pekerjaan yang dilakukan tanpa kompetensi yang memadai berpotensi menimbulkan permasalahan.
“Kerja keras yaitu dengan memaksimalkan keahlian. Kerja keras di dunia adalah orang yang memiliki semangat bekerja sesuai ahlinya, dan semangat ibadah untuk akhirat. Karena keduanya penting,” tuturnya.
Yang kedua yakni kerja cerdas dengan menerpkan ilmu, Prinsip kedua adalah kerja cerdas, yaitu bekerja dengan mengandalkan ilmu pengetahuan dan kemampuan berpikir. Ia menegaskan bahwa ilmu memiliki peran penting dalam mencapai keberhasilan, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.
“Siapa yang ingin sukses di dunia maka dengan ilmu, siapa yang ingin sukses di akhirat maka dengan ilmu. Jika ingin sukses keduanya maka dengan ilmu,” katanya.
Yang terakhir yaitu kerja Ikhlas. Menurutnya, kerja keras dan kerja cerdas belum tentu memberikan ketenangan apabila tidak disertai keikhlasan.
“Ketika kita melakukan kerja keras tanpa batas dan kerja cerdas, masih ada kemungkinan mengecewakan tanpa adanya ikhlas. Namun, jika sudah menerapkan tiga konsep ini, maka kita akan bahagia dan berhasil, serta memperoleh hasil yang gemilang,” jelasnya.
Ia kemudian mencontohkan Sayyidah Khadijah sebagai sosok yang menerapkan kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas melalui aktivitas perdagangan serta pengabdian hartanya di jalan Allah.
Dalam sesi tanya jawab, Mita, salah satu jamaah Grup 5 Alyasmin, menyampaikan pertanyaan mengenai cara mengatasi rasa jenuh dan bosan, terutama ketika seseorang merasa kehidupannya kurang bermakna.
KHA Muzakky menanggapi, bahwa kejenuhan merupakan hal yang dapat dialami setiap manusia. Menurutnya, salah satu cara mengatasinya adalah dengan memperbaiki niat dan membangun kecintaan terhadap pekerjaan yang dijalani.
“Niatkan semua karena Allah. Kita harus mencoba mencintai pekerjaan kita agar tidak jenuh,” pesannya.
Dengan menerapkan kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, serta menyelesaikan tanggung jawab dengan tuntas, seseorang diharapkan mampu menjalani aktivitas dengan lebih bermakna dan memperoleh keberkahan dalam kehidupan. (*/alyasmin)



